Logo
>

Dolar Menguat di Tengah Kabut Konflik

Iran mempertegas cengkeramannya atas Selat Hormuz dengan merilis rekaman pasukan komando

Ditulis oleh Pramirvan Datu
Dolar Menguat di Tengah Kabut Konflik
Ilustrasi Mata Uang Dolar Amerika. Foto: Dok KabarBursa.com

KABARBURSA,COM - Nilai tukar dolar Amerika Serikat mencatat penguatan tipis pada perdagangan.  Pergerakannya terukur. Namun arahnya jelas—menuju kenaikan mingguan. Ketegangan yang kembali memanas antara Iran dan Amerika Serikat menghidupkan kembali kekhawatiran pasar terhadap kelanjutan konflik di Timur Tengah, sekaligus meredupkan ekspektasi tercapainya kesepakatan damai.

Iran mempertegas cengkeramannya atas Selat Hormuz dengan merilis rekaman pasukan komando yang menyerbu kapal kargo besar. Aksi ini terjadi tak lama setelah runtuhnya pembicaraan damai yang sebelumnya diharapkan mampu membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut, sebagaimana dilaporkan Reuters dari New York, Jumat 24 April 2026 pagi WIB.

Konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel sejak 28 Februari sempat mereda lewat gencatan senjata pada 8 April. Namun ketidakpastian kembali mengemuka. Israel menyatakan kesiapan untuk melanjutkan serangan jika situasi menuntut.

Di tengah lanskap yang kabur ini, pelaku pasar kesulitan membaca arah. Kepala Riset G10 FX dan Strategi Makro Amerika Utara Standard Chartered Bank di New York, Steve Englander, menilai pasar belum memiliki kepastian apakah gencatan senjata akan bertahan atau justru runtuh.

“Pasar tidak sepenuhnya yakin gencatan senjata akan bertahan, tetapi juga tidak sepenuhnya percaya akan gagal,” ujarnya. “Ketidakjelasan arah dan durasi konflik membuat pasar cenderung stagnan. Pertanyaan utamanya tetap sama—apakah aksi militer akan berlanjut.”

Dalam situasi penuh ambiguitas ini, dolar kembali menarik minat sebagai aset lindung nilai. Sepanjang Maret, greenback sempat menguat tajam seiring meningkatnya kekhawatiran konflik. Namun sebagian penguatan itu terkikis bulan ini, seiring munculnya harapan akan solusi diplomatik.

“Untuk saat ini, jalur paling mudah adalah mempertahankan posisi dolar dengan sedikit penambahan eksposur,” kata Jeremy Stretch, Head of G10 FX Strategy CIBC Capital Markets. Ia menilai pasar mulai mengurangi premi perdamaian yang sempat terbangun.

Euro tercatat melemah 0,08 persen ke USD1,1694, setelah sebelumnya menyentuh level terendah sejak 13 April. Mata uang tunggal Eropa itu mengarah pada penurunan mingguan sekitar 0,6 persen—pelemahan pertama dalam empat pekan. Poundsterling turut tertekan, turun 0,16 persen ke posisi USD1,3477.

Yen Jepang juga melemah tipis 0,04 persen terhadap dolar, berada di level 159,55 per dolar—mendekati ambang 160 yang kerap dianggap sebagai batas intervensi otoritas. Bank of Japan diperkirakan akan mempertahankan suku bunga dalam waktu dekat, meski sinyal kenaikan pada pertemuan Juni mulai mengemuka.

Indeks Dolar (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama, naik 0,11 persen ke posisi 98,73. Secara mingguan, indeks ini berada di jalur penguatan sekitar 0,5 persen.

Meski konflik menjadi motor utama sentimen, data ekonomi Amerika Serikat juga memberikan fondasi. Gambaran ekonomi yang relatif tangguh membuat Federal Reserve cenderung menahan diri untuk memangkas suku bunga, bahkan jika ketegangan mereda.

“Anda bisa menemukan indikasi inflasi mulai menurun, atau alasan untuk memangkas suku bunga. Namun tidak ada yang cukup kuat untuk membenarkan perubahan kebijakan saat ini,” ujar Englander.

Klaim pengangguran mingguan memang sedikit meningkat, tetapi masih mencerminkan pasar tenaga kerja yang stabil. Sementara itu, kontrak berjangka Fed funds kini hanya memproyeksikan peluang 24 persen untuk pemangkasan suku bunga hingga akhir tahun—angka yang mencerminkan kehati-hatian pasar terhadap risiko inflasi akibat konflik.

Dibandingkan kawasan lain seperti zona euro, ekonomi Amerika dinilai lebih resilien. Beberapa bank sentral di luar AS bahkan cenderung mengarah pada pengetatan kebijakan.

“Ekonomi AS berada dalam posisi terbaik untuk menghadapi badai ini,” kata analis Pepperstone, Michael Brown. “Penurunan dolar justru dapat dilihat sebagai peluang beli.”

Di Eropa, lebih dari separuh ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan Bank Sentral Eropa akan mempertahankan suku bunga deposito pada 30 April, sebelum berpotensi menaikkannya pada Juni sebagai respons terhadap tekanan energi akibat perang.

Terhadap franc Swiss, dolar menguat 0,08 persen ke level 0,785. Wakil Ketua Swiss National Bank, Antoine Martin, menyatakan bahwa kesiapan bank sentral untuk melakukan intervensi di pasar valuta asing guna menahan apresiasi franc tampaknya mulai menunjukkan hasil.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Pramirvan Datu

Pram panggilan akrabnya, jurnalis sudah terverifikasi dewan pers. Mengawali karirnya sejak tahun 2012 silam. Berkecimpung pewarta keuangan, perbankan, ekonomi makro dan mikro serta pasar modal.