KABARBURSA.COM – Nilai tukar rupiah mengakhiri perdagangan bulan Juni di zona merah. Pada perdagangan Selasa, 30 Juni 2026, mata uang Garuda ditutup melemah seiring meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar terhadap prospek kebijakan moneter Amerika Serikat serta sejumlah perkembangan ekonomi di dalam negeri.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp17.907 per dolar Amerika Serikat, melemah 56 poin atau 0,31 persen dibandingkan posisi penutupan sehari sebelumnya di Rp17.851 per dolar AS.
Pelemahan tersebut menandai berakhirnya perdagangan Juni dengan tekanan yang masih membayangi pasar valuta asing domestik.
Ekspektasi The Fed
Pergerakan rupiah kali ini terjadi ketika pelaku pasar kembali memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga acuan setidaknya satu kali lagi pada tahun ini.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa penguatan dolar AS didorong oleh pandangan pasar yang semakin yakin terhadap sikap bank sentral Amerika Serikat yang masih cenderung ketat dalam menjalankan kebijakan moneternya.
Sikap tersebut tercermin dari hasil pertemuan The Fed pada Juni, di mana sejumlah pejabat bank sentral masih membuka peluang adanya tambahan kenaikan suku bunga.
Harapan tersebut membuat aset berbasis dolar kembali diminati investor global. Ketika permintaan terhadap dolar meningkat, mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, ikut menghadapi tekanan.
Menanti Laporan Ketenagakerjaan AS
Selain mencermati arah kebijakan The Fed, perhatian pasar juga tertuju pada data ekonomi Amerika Serikat yang akan dirilis dalam waktu dekat. Salah satu indikator yang paling dinantikan adalah laporan ketenagakerjaan atau Nonfarm Payrolls (NFP) untuk Juni.
Data tersebut menjadi acuan penting karena dapat memberikan gambaran mengenai kondisi pasar tenaga kerja Amerika Serikat sekaligus memengaruhi ekspektasi terhadap langkah kebijakan suku bunga berikutnya.
Konsensus ekonom memperkirakan penambahan sekitar 114.000 lapangan kerja pada Juni, sementara tingkat pengangguran diproyeksikan tetap berada di 4,3 persen.
Di luar faktor moneter, perkembangan geopolitik juga masih menjadi perhatian pelaku pasar. Investor terus mengikuti dinamika hubungan antara Amerika Serikat dan Iran, termasuk pembicaraan yang berlangsung di Doha.
Perkembangan tersebut dinilai penting karena berkaitan dengan stabilitas kawasan Timur Tengah, termasuk keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz yang memiliki peran strategis dalam perdagangan energi dunia.
Neraca Perdagangan Mei
Sementara itu, dari dalam negeri, perhatian investor mengarah pada sejumlah indikator ekonomi yang akan dirilis dalam waktu dekat. Salah satunya adalah data neraca perdagangan Mei yang dipandang dapat memberikan gambaran mengenai kekuatan sektor eksternal Indonesia.
Pelaku pasar mencermati perkembangan tersebut setelah surplus perdagangan menunjukkan tren yang lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus perdagangan kumulatif sepanjang Januari hingga April 2026 mencapai USD5,64 miliar, lebih rendah dibandingkan capaian pada periode yang sama tahun lalu yang masih berada di atas USD10 miliar.
Di saat yang sama, Indonesia juga membukukan defisit transaksi berjalan sekitar USD4 miliar pada kuartal pertama 2026. Kombinasi kedua indikator tersebut menjadi salah satu faktor yang terus dipantau investor karena berkaitan dengan kebutuhan pembiayaan eksternal dan stabilitas nilai tukar.
Inflasi Domestik dan Implementasi Regulasi Danantara
Perhatian pasar juga tertuju pada perkembangan inflasi domestik. Tekanan harga masih terlihat di beberapa wilayah, khususnya di Sumatra, yang mencatat kenaikan harga relatif lebih tinggi dibandingkan daerah lainnya.
Kondisi tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain efisiensi distribusi pangan yang belum merata, perubahan cuaca, pola tanam, peningkatan biaya logistik global, serta kenaikan harga barang impor.
Selain faktor ekonomi, pelaku pasar juga mencermati perkembangan kebijakan di dalam negeri. Salah satu isu yang menjadi perhatian adalah implementasi regulasi terkait Danantara setelah disahkannya ketentuan yang memberikan perlindungan hukum bagi pembeli obligasi yang diterbitkan oleh dana investasi negara tersebut.
Perkembangan regulasi ini turut menjadi bagian dari informasi yang dipertimbangkan investor dalam menilai kondisi pasar keuangan domestik.
Nilai Tukar Mata Uang Asia
Sementara, nilai mata uang Asia lainnya bervariasi. Yen Jepang ditutup melemah 0,26 persen, rupee India juga terkoreksi 0,23 persen, sedangkan dolar Singapura turun sebanyak 0,18 persen.
Hal yang sama terjadi dengan ringgit Malaysia yang melemah 0,14 persen, dan dolar Australia sebesar 0,12 persen. Hanya yuan China dan baht Thailand yang mampu menguat masing-masing sebesar 0,13 persen dan 0,14 persen terhadap dolar AS.
Dengan berbagai faktor tersebut, perdagangan rupiah pada hari terakhir Juni berlangsung dalam suasana yang dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik. Di satu sisi, ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat kembali memperkuat posisi dolar AS.
Di sisi lain, pelaku pasar juga masih menunggu sejumlah data ekonomi Indonesia yang dinilai penting untuk melihat arah perekonomian dalam beberapa bulan ke depan.(*)