Logo
>

Ekspektasi The Fed dan Inflasi Tekan Rupiah, Tutup Juni di Level 17.907

Rupiah ditutup melemah ke Rp17.907 per dolar AS pada akhir Juni. Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, data ekonomi AS, serta sejumlah sentimen domestik menjadi perhatian pasar.

Ditulis oleh Yunila Wati
Ekspektasi The Fed dan Inflasi Tekan Rupiah, Tutup Juni di Level 17.907
Rupiah menutup Juni dengan pelemahan dan terdampar di level 17.907. (Foto: dok KabarBursa)

KABARBURSA.COM – Nilai tukar rupiah mengakhiri perdagangan bulan Juni di zona merah. Pada perdagangan Selasa, 30 Juni 2026, mata uang Garuda ditutup melemah seiring meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar terhadap prospek kebijakan moneter Amerika Serikat serta sejumlah perkembangan ekonomi di dalam negeri.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp17.907 per dolar Amerika Serikat, melemah 56 poin atau 0,31 persen dibandingkan posisi penutupan sehari sebelumnya di Rp17.851 per dolar AS. 

Pelemahan tersebut menandai berakhirnya perdagangan Juni dengan tekanan yang masih membayangi pasar valuta asing domestik.

Ekspektasi The Fed

Pergerakan rupiah kali ini terjadi ketika pelaku pasar kembali memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga acuan setidaknya satu kali lagi pada tahun ini.

Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa penguatan dolar AS didorong oleh pandangan pasar yang semakin yakin terhadap sikap bank sentral Amerika Serikat yang masih cenderung ketat dalam menjalankan kebijakan moneternya. 

Sikap tersebut tercermin dari hasil pertemuan The Fed pada Juni, di mana sejumlah pejabat bank sentral masih membuka peluang adanya tambahan kenaikan suku bunga.

Harapan tersebut membuat aset berbasis dolar kembali diminati investor global. Ketika permintaan terhadap dolar meningkat, mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, ikut menghadapi tekanan.

Menanti Laporan Ketenagakerjaan AS

Selain mencermati arah kebijakan The Fed, perhatian pasar juga tertuju pada data ekonomi Amerika Serikat yang akan dirilis dalam waktu dekat. Salah satu indikator yang paling dinantikan adalah laporan ketenagakerjaan atau Nonfarm Payrolls (NFP) untuk Juni.

Data tersebut menjadi acuan penting karena dapat memberikan gambaran mengenai kondisi pasar tenaga kerja Amerika Serikat sekaligus memengaruhi ekspektasi terhadap langkah kebijakan suku bunga berikutnya. 

Konsensus ekonom memperkirakan penambahan sekitar 114.000 lapangan kerja pada Juni, sementara tingkat pengangguran diproyeksikan tetap berada di 4,3 persen.

Di luar faktor moneter, perkembangan geopolitik juga masih menjadi perhatian pelaku pasar. Investor terus mengikuti dinamika hubungan antara Amerika Serikat dan Iran, termasuk pembicaraan yang berlangsung di Doha.

Perkembangan tersebut dinilai penting karena berkaitan dengan stabilitas kawasan Timur Tengah, termasuk keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz yang memiliki peran strategis dalam perdagangan energi dunia.

Neraca Perdagangan Mei

Sementara itu, dari dalam negeri, perhatian investor mengarah pada sejumlah indikator ekonomi yang akan dirilis dalam waktu dekat. Salah satunya adalah data neraca perdagangan Mei yang dipandang dapat memberikan gambaran mengenai kekuatan sektor eksternal Indonesia.

Pelaku pasar mencermati perkembangan tersebut setelah surplus perdagangan menunjukkan tren yang lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. 

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus perdagangan kumulatif sepanjang Januari hingga April 2026 mencapai USD5,64 miliar, lebih rendah dibandingkan capaian pada periode yang sama tahun lalu yang masih berada di atas USD10 miliar.

Di saat yang sama, Indonesia juga membukukan defisit transaksi berjalan sekitar USD4 miliar pada kuartal pertama 2026. Kombinasi kedua indikator tersebut menjadi salah satu faktor yang terus dipantau investor karena berkaitan dengan kebutuhan pembiayaan eksternal dan stabilitas nilai tukar.

Inflasi Domestik dan Implementasi Regulasi Danantara

Perhatian pasar juga tertuju pada perkembangan inflasi domestik. Tekanan harga masih terlihat di beberapa wilayah, khususnya di Sumatra, yang mencatat kenaikan harga relatif lebih tinggi dibandingkan daerah lainnya. 

Kondisi tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain efisiensi distribusi pangan yang belum merata, perubahan cuaca, pola tanam, peningkatan biaya logistik global, serta kenaikan harga barang impor.

Selain faktor ekonomi, pelaku pasar juga mencermati perkembangan kebijakan di dalam negeri. Salah satu isu yang menjadi perhatian adalah implementasi regulasi terkait Danantara setelah disahkannya ketentuan yang memberikan perlindungan hukum bagi pembeli obligasi yang diterbitkan oleh dana investasi negara tersebut. 

Perkembangan regulasi ini turut menjadi bagian dari informasi yang dipertimbangkan investor dalam menilai kondisi pasar keuangan domestik.

Nilai Tukar Mata Uang Asia

Sementara, nilai mata uang Asia lainnya bervariasi. Yen Jepang ditutup melemah 0,26 persen, rupee India juga terkoreksi 0,23 persen, sedangkan dolar Singapura turun sebanyak 0,18 persen.

Hal yang sama terjadi dengan ringgit Malaysia yang melemah 0,14 persen, dan dolar Australia sebesar 0,12 persen. Hanya yuan China dan baht Thailand yang mampu menguat masing-masing sebesar 0,13 persen dan 0,14 persen terhadap dolar AS.

Dengan berbagai faktor tersebut, perdagangan rupiah pada hari terakhir Juni berlangsung dalam suasana yang dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik. Di satu sisi, ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat kembali memperkuat posisi dolar AS. 

Di sisi lain, pelaku pasar juga masih menunggu sejumlah data ekonomi Indonesia yang dinilai penting untuk melihat arah perekonomian dalam beberapa bulan ke depan.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79