Logo
>

Lagi, Asing Buang Saham Big Banks: Investor Coba Skenario ini

Asing kembali melepas BBCA, BBRI, dan BMRI meski fundamentalnya masih kuat. Tekanan berasal dari sentimen makro, rebalancing global, hingga kekhawatiran terhadap prospek ekonomi Indonesia.

Ditulis oleh Yunila Wati
Lagi, Asing Buang Saham Big Banks: Investor Coba Skenario ini
Hari ini, saham BMRI dijual asing sebanyak Rp89,59 miliar. (Foto: dok BMRI)

KABARBURSA.COM – Pada aktivitas midday, asing lagi-lagi meninggalkan saham big banks dengan catatan net foreign sell yang tidak sedikit, yaitu setengah miliar rupiah. Tiga saham bank besar, yaitu PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) membukukan net sell terbesar.

Net foreign sell BBCA berada di urutan teratas, yaitu mencapai Rp413,22 miliar. Di bawahnya menyusul saham BBRI dengan net sell Rp93,48 miliar dan dilanjut dengan saham BMRI sebesar Rp89,59 miliar.

Padahal, jika melihat kinerja fundamentalnya, ketiga bank tersebut masih berada dalam kondisi yang relatif sehat. Laba tetap tumbuh, kualitas aset masih terjaga, rasio permodalan kuat, dan kemampuan menghasilkan dividen masih menjadi salah satu yang terbaik di Bursa Efek Indonesia. 

Mengapa Asing Giat Jual?

Lalu, mengapa investor asing justru terus menjual?

Jawabannya, ada perubahan cara investor global membaca risiko Indonesia dalam beberapa bulan terakhir.

Bagi investor institusi asing, keputusan investasi tidak hanya didasarkan pada laporan keuangan emiten. Faktor makroekonomi, stabilitas kebijakan, kondisi nilai tukar, hingga persepsi terhadap pasar modal sebuah negara memiliki bobot yang sama pentingnya. 

Ketika risiko makro meningkat, saham-saham dengan kapitalisasi terbesar biasanya menjadi instrumen pertama yang dilepas.

Dalam konteks Indonesia saat ini, terdapat beberapa faktor yang saling bertemu. Salah satunya adalah proyeksi perlambatan pertumbuhan kredit. Sejumlah bank besar telah memberikan panduan kinerja yang lebih konservatif dibandingkan beberapa tahun terakhir. 

Pertumbuhan kredit memang masih positif, namun ekspektasi pasar terhadap laju ekspansi mulai menurun. Kondisi tersebut membuat sebagian investor memperkirakan pertumbuhan laba perbankan ke depan tidak akan setinggi periode sebelumnya.

Di saat yang sama, tekanan juga datang dari arah kebijakan moneter. Langkah Bank Indonesia mempertahankan sikap ketat melalui suku bunga yang lebih tinggi untuk menjaga stabilitas rupiah memang penting dari sisi makro. 

Namun bagi sektor perbankan, suku bunga tinggi berpotensi meningkatkan biaya dana (cost of fund) sekaligus memperlambat permintaan kredit. Di sinilah asing kemudian memilih mengambil posisi lebih hati-hati terhadap sektor keuangan.

Klasifikasi MSCI

Sentimen global turut memperbesar tekanan. Dalam beberapa bulan terakhir, perhatian investor internasional tertuju pada perkembangan pasar modal Indonesia setelah muncul ketidakpastian terkait tinjauan klasifikasi pasar oleh MSCI. 

Kekhawatiran mengenai transparansi pasar dan ketersediaan saham publik atau free float membuat sebagian dana global mulai mengurangi eksposur lebih awal sebagai langkah antisipasi.

Ketika dana asing memutuskan mengurangi investasi di Indonesia, saham yang paling mudah dijual dalam jumlah besar adalah saham-saham dengan likuiditas tertinggi. Itulah mengapa BBCA, BBRI, dan BMRI menjadi sasaran utama. 

Ketiga saham tersebut memiliki kapitalisasi pasar terbesar sekaligus bobot dominan dalam indeks, sehingga menjadi pilihan paling efisien bagi investor global ketika melakukan rebalancing portofolio.

Faktor lainnya adalah aksi ambil untung. Setelah mencatatkan kenaikan yang cukup panjang dalam beberapa tahun terakhir, valuasi saham perbankan, terutama BBCA, sempat berada pada level premium dibandingkan sektor lain. 

Dalam situasi pasar yang dipenuhi ketidakpastian, investor institusi lazim mengamankan keuntungan lebih dahulu sambil menunggu arah kebijakan ekonomi dan kondisi global menjadi lebih jelas.

PBV Saham Perbankan Semakin Menarik

Meski demikian, tekanan yang terjadi saat ini belum tentu mencerminkan memburuknya prospek jangka panjang sektor perbankan nasional.

Justru sebaliknya, penurunan harga yang cukup tajam membuat valuasi saham-saham bank besar semakin menarik dibandingkan rata-rata historisnya. 

Secara umum, price to book value (PBV) sektor perbankan kini telah turun ke kisaran sekitar 1,5 kali, jauh di bawah rata-rata historis sekitar 2,5 kali dalam satu dekade terakhir. Bagi investor jangka panjang, kondisi tersebut membuka ruang bagi valuasi yang lebih kompetitif.

Di sisi operasional, pertumbuhan kredit sektor riil juga masih menunjukkan ketahanan. Penyaluran kredit sejumlah bank Himbara masih mencatat pertumbuhan dua digit, sementara profitabilitas dan rasio permodalan tetap berada pada level yang kuat. 

Artinya, tekanan harga saham lebih banyak dipicu perubahan sentimen dibandingkan penurunan kualitas fundamental perusahaan.

Ke depan, terdapat sejumlah faktor yang berpotensi menjadi katalis pemulihan. Kejelasan implementasi Badan Pengelola Investasi Danantara menjadi salah satu hal yang akan terus dicermati investor. 

Selain itu, perkembangan reformasi pasar modal yang berkaitan dengan transparansi dan peningkatan free float juga berpotensi memengaruhi arah arus modal asing apabila mampu menjawab perhatian pelaku pasar global.

Tiga Skenario Aman

Lalu, bagaimana sebaiknya investor menyikapi kondisi seperti sekarang? Tentu saja bergantung pada tujuan investasi dan kemampuan menanggung risiko.

  • Bagi investor dengan horizon investasi jangka panjang serta memiliki dana yang memang disiapkan untuk investasi, strategi buy on weakness dapat menjadi pilihan. Namun pembelian sebaiknya dilakukan secara bertahap atau menggunakan pendekatan dollar cost averaging (DCA), bukan sekaligus dalam satu waktu. Strategi ini membantu mengurangi risiko apabila volatilitas pasar masih berlanjut.
  • Bagi investor yang sudah memiliki saham BBCA, BBRI, atau BMRI pada harga yang lebih tinggi dan tidak memiliki kebutuhan likuiditas dalam waktu dekat, mempertahankan kepemilikan atau hold masih menjadi pilihan yang rasional. Fundamental ketiga bank tersebut masih relatif kuat, sehingga tekanan harga saat ini lebih mencerminkan sentimen pasar daripada penurunan kualitas bisnis. Investor juga masih berpeluang memperoleh pendapatan dividen selama masa penantian pemulihan harga.
  • Atau mengurangi porsi investasi atau melakukan trim baru apabila membutuhkan dana dalam waktu dekat. Dalam kondisi tersebut, sebagian dana dapat dialihkan ke instrumen yang lebih defensif seperti Surat Berharga Negara (SBN) atau reksa dana pasar uang yang cenderung lebih stabil ketika suku bunga berada pada level tinggi.

Jadi, derasnya aksi jual asing terhadap BBCA, BBRI, dan BMRI lebih mencerminkan perubahan persepsi risiko terhadap Indonesia dibandingkan penurunan kualitas bisnis ketiga bank tersebut. Selama faktor-faktor makro masih mendominasi sentimen pasar, volatilitas berpotensi tetap tinggi. 

Namun ketika ketidakpastian mulai mereda dan kepercayaan investor kembali pulih, saham-saham perbankan besar berpeluang menjadi kelompok emiten yang pertama kali kembali menarik arus dana asing.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79