KABARBURSA.COM - Harga emas mencatat penguatan pada perdagangan. Kenaikan ini dipicu oleh pelemahan dolar Amerika Serikat serta penurunan harga minyak. Namun, di balik reli tersebut, logam mulia itu tetap berada di jalur penurunan bulanan untuk kedua kalinya secara beruntun. Kekhawatiran inflasi—yang dipantik konflik Iran—terus membayangi dan memengaruhi ekspektasi kebijakan suku bunga global.
Emas spot melonjak 1,7 persen ke level USD4.618,67 per ons pada pukul 24.46 WIB. Sebelumnya, pada sesi Rabu, harga sempat terperosok ke titik terendah dalam satu bulan. Data ini merujuk laporan Reuters dari Bengaluru, Jumat 1 Mei 2026 dini hari WIB.
Sementara itu, emas berjangka Amerika Serikat untuk kontrak pengiriman Juni ikut menguat. Harganya naik 1,5 persen dan ditutup di posisi USD4.629,60 per ons. Sebuah rebound yang mencerminkan respons pasar terhadap perubahan lanskap makroekonomi.
Dorongan utama penguatan emas datang dari kombinasi dua faktor. Dolar yang melemah dan tekanan harga energi yang mereda. Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures, David Meger, menilai fokus pelaku pasar kini tertuju pada arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Dolar AS sendiri tergelincir setelah Jepang melakukan intervensi untuk menopang yen. Ini merupakan langkah resmi pertama dalam hampir dua tahun terakhir. Pelemahan greenback membuat komoditas berbasis dolar, termasuk emas, menjadi lebih kompetitif dan terjangkau bagi investor global.
Di sisi lain, harga minyak dunia justru melemah setelah sebelumnya sempat melonjak ke level tertinggi dalam empat tahun. Lonjakan energi tersebut sebelumnya memicu kekhawatiran inflasi yang dapat memperlambat langkah bank sentral dalam memangkas suku bunga.
Jika ditarik secara bulanan, performa emas belum sepenuhnya pulih. Sepanjang April, harga emas spot tercatat turun lebih dari 1 persen. Ironis, mengingat emas selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian. Namun dalam lingkungan suku bunga tinggi, daya tariknya cenderung meredup karena investor beralih ke instrumen berbunga.
Federal Reserve pada Rabu memutuskan menahan suku bunga. Meski demikian, bank sentral itu menggarisbawahi adanya tekanan inflasi yang meningkat. Sikap serupa juga diambil Bank of England, yang memilih mempertahankan suku bunga sembari menguraikan potensi dampak ekonomi dari konflik Iran—termasuk kemungkinan pengetatan biaya pinjaman secara agresif.
Data ekonomi turut memperkuat narasi tersebut. Indeks harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) di Amerika Serikat naik 0,7 persen pada Maret. Ini menjadi kenaikan terbesar sejak Juni 2022 dan sejalan dengan ekspektasi pasar.
Analis Citi melihat tekanan terhadap emas belum sepenuhnya mereda dalam jangka pendek. Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah menjadi faktor utama. Namun dalam horizon menengah hingga panjang, emas diproyeksikan kembali diminati sebagai aset safe-haven.
Citi mempertahankan proyeksi harga emas di kisaran USD4.300 untuk tiga bulan ke depan. Sementara dalam periode enam hingga dua belas bulan, harga diperkirakan bisa menembus USD5.000 per ons.
Di sisi lain, tren diversifikasi cadangan devisa juga memberikan sinyal menarik. India dilaporkan meningkatkan porsi emas dalam cadangannya menjadi 16,7 persen pada akhir Maret. Langkah ini mencerminkan peran strategis logam mulia dalam menjaga stabilitas aset negara.
Logam mulia lainnya turut mencatatkan penguatan signifikan. Perak spot melonjak hampir 3 persen ke USD73,59 per ons. Platinum melesat 5,3 persen ke level USD1.980,13. Sementara paladium ikut menguat 4,9 persen menjadi USD1.529,45 per ons. Sebuah sinyal bahwa minat terhadap aset logam masih terjaga di tengah dinamika global yang terus berubah.(*)