Logo
>

Emas Memudar ke Level Terendah dalam Sepekan

Tekanan datang bertubi-tubi. Kekhawatiran bahwa lonjakan inflasi akibat konflik di Timur Tengah akan menahan suku bunga

Ditulis oleh Pramirvan Datu
Emas Memudar ke Level Terendah dalam Sepekan
Ilustrasi emas perhiasan. Foto: Dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM - Harga emas terperosok ke titik terendah dalam lebih dari sepekan pada perdagangan. Tekanan datang bertubi-tubi. Kekhawatiran bahwa lonjakan inflasi akibat konflik di Timur Tengah akan menahan suku bunga tetap tinggi lebih lama mulai mendominasi sentimen pasar.

Emas spot merosot 0,9 persen ke level USD4.697,06 per ons pada pukul 02.05 WIB, setelah sebelumnya menyentuh posisi terendah sejak 13 April. Sepanjang sesi, logam mulia ini bahkan sempat tergelincir lebih dalam—melewati penurunan 1 persen ke USD4.663,69 per ons, sebagaimana dilaporkan Reuters dari Bengaluru,  Jumat 24 April 2026 dini hari WIB.

Di sisi lain, kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman Juni ditutup melemah 0,6 persen ke posisi USD4.724 per ons.

Tekanan terhadap emas tak lepas dari meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Situasi yang rapuh ini memicu kecemasan bahwa gencatan senjata dapat runtuh kapan saja, membuka jalan bagi lonjakan harga minyak mentah yang pada akhirnya menyeret berbagai aset—termasuk emas—ke zona tertekan.

“Permainan Battleship versi nyata antara AS dan Iran kembali memantik kekhawatiran bahwa gencatan senjata bisa dilanggar sewaktu-waktu, memicu lonjakan harga minyak dan menekan aset lain, termasuk emas,” ujar trader logam independen Tai Wong.

Harga emas yang sempat mendekati USD4.900 pada Jumat lalu kini terasa seperti fragmen masa lalu. Reli memudar. Momentum menguap.

Iran sendiri memperlihatkan cengkeraman yang kian kuat atas Selat Hormuz. Video yang dirilis memperlihatkan pasukan komando menyerbu kapal kargo besar—sebuah demonstrasi kekuatan setelah runtuhnya pembicaraan damai yang sebelumnya diharapkan mampu membuka kembali jalur pelayaran vital dunia.

Konflik tersebut turut mendorong harga minyak melambung, dengan Brent diperdagangkan di atas USD100 per barel pada sesi Kamis. Dampaknya sistemik. Lonjakan harga energi berpotensi memicu inflasi, yang pada gilirannya meningkatkan peluang kenaikan suku bunga.

Meski emas dikenal sebagai lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga justru menggerus daya tariknya. Aset tanpa imbal hasil ini menjadi kurang kompetitif ketika biaya peluang meningkat.

Jajak pendapat Reuters terhadap para ekonom menunjukkan bahwa Federal Reserve kemungkinan akan menunda pemangkasan suku bunga setidaknya enam bulan ke depan.

Di sisi lain, dolar AS menguat tipis, membuat emas—yang diperdagangkan dalam greenback—menjadi lebih mahal bagi investor dengan mata uang lain. Yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari sepekan, semakin meningkatkan biaya peluang memegang bullion.

Sementara itu, data ekonomi menunjukkan jumlah klaim tunjangan pengangguran di Amerika Serikat meningkat lebih tinggi dari perkiraan pada pekan lalu.

Tekanan tidak hanya menghantam emas. Logam mulia lainnya ikut terseret. Harga perak spot anjlok 2,7 persen ke USD75,55 per ons. Platinum melemah 3,2 persen ke USD2.008,22 per ons. Sementara paladium merosot tajam 5 persen ke level USD1.465,23 per ons—menandai tekanan luas di kompleks logam mulia.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Pramirvan Datu

Pram panggilan akrabnya, jurnalis sudah terverifikasi dewan pers. Mengawali karirnya sejak tahun 2012 silam. Berkecimpung pewarta keuangan, perbankan, ekonomi makro dan mikro serta pasar modal.