Logo
>

Emiten Lo Kheng Hong ini Bergerak Sempit, Supply Masih Tebal

Harga berulang di kisaran Rp3.000, orderbook menunjukkan tekanan jual lebih besar saat aliran dana asing bergerak naik turun dalam sepekan terakhir.

Ditulis oleh Yunila Wati
Emiten Lo Kheng Hong ini Bergerak Sempit, Supply Masih Tebal
Saham andalan Lo Kheng Hong ini bergerak sempit. Asing belum konsisten masuk dan bagian supply masih terlihat tebal. (Foto: dok ABMM)

KABARBURSA.COM – Saham PT ABM Investama Tbk (ABMM) dalam sepekan terakhir bergerak sempit. Harga di kisaran Rp2.970 hingga Rp3.090, dengan arah pergerakan yang cenderung berulang antara naik dan turun tipis. Tidak ada tren yang benar-benar kuat.

Pada 21 April 2026, misalnya, ABMM ditutup di level Rp3.050, lalu sempat menguat ke Rp3.090 pada 23 April. Namun setelah itu, tekanan mulai terlihat dengan koreksi bertahap ke Rp3.030 pada 24 April, turun lagi ke Rp3.000 pada 27 April, dan sempat melemah ke Rp2.970 pada 28 April. Dan saat ini, harga bergerak naik ke Rp3.020.

Di sini, harga bergerak aktif, tetapi masih berada dalam fase tarik-menarik. Kenaikan tidak berlangsung lama, sementara penurunan juga tidak berlanjut agresif. Jika ditarik ke aliran dana asing, gambarnya menjadi lebih tegas. Dalam beberapa sesi terakhir, asing justru lebih banyak berada di sisi jual.

Pada 24 April, net foreign tercatat minus Rp1,46 miliar, diikuti 27 April minus Rp772,99 juta, dan 28 April kembali mencatatkan net sell Rp1,44 miliar. Tekanan ini sempat terputus pada 23 April dengan net buy Rp3,99 miliar dan 22 April Rp1,58 miliar, tetapi tidak berlanjut secara konsisten.

Artinya, dalam satu pekan terakhir, aliran asing bergerak tidak stabil. Ada fase masuk yang cukup besar, tetapi segera diikuti oleh distribusi dalam beberapa sesi berikutnya.

Di titik ini, arah asing belum membentuk pola akumulasi yang berkelanjutan. Pergerakan yang muncul lebih menyerupai rotasi jangka pendek dibandingkan penyerapan bertahap.

Dari sisi broker, pola tersebut semakin terlihat. Pembelian terbesar datang dari BNI Sekuritas (NI) sekitar Rp243,9 juta di harga rata-rata Rp2.979, diikuti Mirae Asset Sekuritas Indonesia (YP) Rp229,7 juta dan Ajaib Sekuritas Asia (XC) Rp165,5 juta.

Namun di sisi lain, tekanan jual juga muncul dari beberapa nama. JP Morgan Sekuritas Indonesia (BK) mencatatkan penjualan Rp431,4 juta, diikuti UBS Sekuritas Indonesia (AK) Rp228,2 juta, dan Mandiri Sekuritas (CC) Rp169,4 juta.

Struktur ini memperlihatkan bahwa pembelian dan penjualan terjadi secara bersamaan dengan nilai yang relatif berimbang. Tidak terlihat satu pihak yang benar-benar mendominasi arah.

Jika masuk ke orderbook, posisi ini semakin jelas. Total antrean jual tercatat sebesar 13.236 lot, hampir dua kali lipat dari antrean beli yang berada di kisaran 7.059 lot.

Di level harga terdekat, bid di Rp3.010 hanya berisi 148 lot, sementara offer di Rp3.020 langsung mencapai 948 lot. Selisih ini menciptakan tekanan jangka pendek yang membuat kenaikan harga cenderung cepat tertahan.

Lapisan supply juga terlihat berjenjang ke atas, mulai dari Rp3.030 hingga Rp3.110, dengan volume yang terus bertambah. Struktur ini menunjukkan bahwa setiap kenaikan harga langsung berhadapan dengan antrean jual yang sudah menunggu.

Di sisi lain, demand tetap ada, tetapi lebih tersebar dan tidak terkonsentrasi. Ini membuat penyerapan berjalan, tetapi tidak cukup kuat untuk mendorong breakout harga secara konsisten.

Dari kombinasi ini, pergerakan ABMM terlihat berada dalam fase konsolidasi aktif. Harga bergerak naik turun dalam rentang terbatas, diiringi aliran dana asing yang belum konsisten dan struktur orderbook yang masih didominasi supply.

Sentimen lain juga ikut memengaruhi. Sebagai emiten yang bergerak di sektor energi, pergerakan ABMM tidak terlepas dari dinamika harga batu bara yang dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan tekanan, baik dari sisi harga acuan maupun permintaan global.

Dalam kondisi tersebut, pergerakan saham menjadi lebih sensitif terhadap aliran dana jangka pendek dibandingkan perubahan fundamental yang lebih panjang.

Dengan seluruh data yang ada, posisi ABMM saat ini berada di satu titik yang sama. Harga bergerak dalam rentang sempit, asing belum menunjukkan arah yang konsisten, dan struktur pasar masih memperlihatkan tekanan jual yang belum sepenuhnya terserap.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79