KABARBURSA.COM – PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) catatkan kinerja keuangan yang jeblok di kuartal pertama 2026. Perusahaan memang bukan lagi sekadar operator seluler konvensional, tetapi mulai bergerak menjadi entitas telekomunikasi dengan struktur bisnis yang jauh lebih besar, terutama setelah transformasi dan identitas perusahaan berubah.
Yang paling menonjol Adalah perubahan nama resmi perusahaan, kini menjadi PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk. Di saat yang sama, skala aset, liabilitas, hingga struktur operasional EXCL membengkak, fase integrasi dan ekspansi jaringan berjalan agresif.
Namun di balik transformasi tersebut, laporan keuangan kuartal I-2026 juga memperlihatkan tantangan yang mulai ikut membesar. Beban keuangan meningkat tajam, eksposur utang dolar AS masih tinggi, dan tekanan biaya jaringan terus melekat ketika industri telekomunikasi nasional makin kompetitif.
Beban Finansial EXCL Mulai Menebal
Salah satu perubahan paling mencolok terlihat dari lonjakan biaya keuangan. EXCL membukukan beban keuangan sebesar Rp987,1 miliar pada kuartal I-2026, naik dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp775,9 miliar.
Kenaikan tersebut terjadi ketika perusahaan masih berada dalam fase ekspansi jaringan dan penguatan infrastruktur. Dalam laporan keuangan, EXCL juga mencatat liabilitas sewa yang sangat besar mencapai Rp40,16 triliun per Maret 2026.
Angka itu terdiri dari liabilitas sewa jangka pendek Rp9,9 triliun dan jangka panjang Rp30,25 triliun.
Besarnya kewajiban tersebut tidak lepas dari karakter bisnis telekomunikasi yang sangat padat modal. EXCL masih bergantung pada sewa menara dan jaringan fiber dari berbagai perusahaan infrastruktur seperti Tower Bersama, Dayamitra, Moratel, hingga IForte.
Di sisi lain, aset hak guna peralatan jaringan juga naik menjadi Rp31,95 triliun. Kondisi ini menunjukkan bahwa ekspansi dan modernisasi jaringan masih menjadi fokus utama perusahaan sepanjang awal 2026.
Risiko Kurs Masih Membayangi
Tekanan lain yang mulai diperhatikan pasar datang dari pelemahan rupiah. Dalam catatan laporan keuangan, EXCL mengakui bahwa pendapatan utama perusahaan menggunakan rupiah, sementara sebagian besar belanja modal masih berbasis dolar AS.
Situasi itu membuat perusahaan rentan terhadap fluktuasi nilai tukar. EXCL mencatat bahwa jika seluruh posisi moneter asing dihitung menggunakan kurs terbaru per 11 Mei 2026, maka rugi selisih kurs belum terealisasi akan bertambah sekitar Rp18,57 miliar.
Tekanan kurs menjadi faktor penting karena industri telekomunikasi nasional saat ini masih sangat bergantung pada impor perangkat jaringan dan kebutuhan belanja modal berbasis dolar AS. Ketika rupiah bergerak melemah ke area Rp17.300 per dolar AS, tekanan terhadap operator otomatis ikut meningkat.
Mesin Digital dan Data Center Mulai Bergerak
Meski tekanan biaya masih besar, EXCL mulai memperlihatkan upaya memperluas sumber pertumbuhan di luar layanan seluler tradisional.
Salah satunya terlihat dari investasi perusahaan pada bisnis pusat data melalui PT Princeton Digital Group Data Centres (PDGDC). Entitas ini membukukan pendapatan Rp121,3 miliar pada kuartal I-2026, naik dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp91,9 miliar.
Walaupun masih mencatat rugi tipis Rp963 juta, angka tersebut jauh membaik dibanding rugi Rp20,4 miliar pada kuartal I-2025.
Pergerakan ini mulai memberi sinyal bahwa bisnis digital infrastructure perlahan mulai ikut menopang pertumbuhan EXCL. Pasar kini tidak hanya melihat EXCL sebagai operator seluler, tetapi juga mulai masuk ke rantai bisnis data center dan layanan digital pendukung.
Namun cerita berbeda justru datang dari Link Net. Investasi EXCL pada bisnis fixed broadband tersebut masih mencatat tekanan cukup besar. Link Net membukukan rugi periode berjalan Rp434,6 miliar pada kuartal I-2026, lebih dalam dibanding rugi Rp354,9 miliar pada periode sama tahun lalu.
Pendapatan Link Net juga turun menjadi Rp661,3 miliar dari sebelumnya Rp810,2 miliar.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa persaingan fixed broadband dan internet rumah masih berlangsung ketat di tengah perang harga dan kebutuhan investasi jaringan fiber yang besar.
EXCL Ubah Skala Permainan
Kuartal pertama 2026 menunjukkan EXCL sedang berada di fase transisi besar. Struktur perusahaan berubah, skala operasional membesar, jaringan terus diperluas, dan bisnis digital mulai diperkuat.
Namun transformasi itu juga datang bersama konsekuensi yang tidak kecil. Beban sewa meningkat, biaya keuangan naik tajam, dan sensitivitas terhadap kurs dolar masih menjadi tantangan utama di tengah kebutuhan ekspansi jaringan yang belum berhenti.
Pasar kini mulai memperhatikan apakah fase transformasi XLSMART mampu benar-benar meningkatkan efisiensi dan profitabilitas dalam beberapa kuartal ke depan, atau justru membuat tekanan biaya perusahaan semakin berat di tengah kompetisi industri telekomunikasi yang masih agresif.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.