KABARBURSA.COM – Kontrak berjangka saham Amerika Serikat (stock futures) bergerak melemah pada Minggu, 10 Mei 2026 malam waktu setempat setelah harga minyak melonjak menyusul penolakan Presiden Donald Trump terhadap proposal terbaru Iran untuk mengakhiri perang.
Seperti dilansir CNBC, futures yang terkait dengan Dow Jones Industrial Average turun 143 poin atau sekitar 0,3 persen. Sementara itu, futures S&P 500 dan Nasdaq 100 masing-masing juga terkoreksi 0,3 persen.
Pergerakan tersebut terjadi setelah Wall Street menutup pekan lalu dengan penguatan solid. Indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite masing-masing melonjak lebih dari 2 persen dan 4 persen sepanjang pekan lalu.
Kedua indeks tersebut juga mencatat kenaikan selama enam pekan berturut-turut, yang menjadi rekor pertama sejak 2024.
Sementara itu, Dow Jones naik sekitar 0,2 persen selama sepekan dan membukukan lima pekan penguatan dalam enam pekan terakhir.
Pasar saham AS menguat pada penutupan perdagangan Jumat setelah laporan nonfarm payrolls menunjukkan penambahan 115 ribu lapangan kerja pada April. Angka tersebut melampaui ekspektasi ekonom yang disurvei Dow Jones yang memperkirakan kenaikan hanya 55 ribu pekerjaan.
S&P 500 dan Nasdaq juga menutup sesi perdagangan Jumat di level tertinggi sepanjang masa atau all-time high.
Di tengah penguatan pasar tersebut, Iran mengirim proposal baru kepada negosiator Amerika Serikat terkait upaya mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama berbulan-bulan.
Kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, mengutip sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut menyebut proposal balasan Iran menekankan perlunya mengakhiri perang di seluruh wilayah konflik serta pencabutan sanksi terhadap Teheran.
Namun, Trump menolak proposal tersebut melalui unggahan di platform Truth Social. Ia menyebut respons Iran “sepenuhnya tidak dapat diterima.”
Harga minyak langsung naik dalam perdagangan semalam setelah pernyataan Trump tersebut.
Meski demikian, sebagian pelaku pasar menilai pasar keuangan AS masih memiliki daya tahan di tengah ketidakpastian geopolitik dan lonjakan harga energi.
Chief Investment Officer Global Fixed Income BlackRock Rick Rieder mengatakan ekonomi AS memang berpotensi melambat akibat perang Iran dan guncangan harga minyak.
Namun menurut dia, masih terdapat sejumlah faktor struktural yang dinilai mampu menjaga kondisi ekonomi agregat tetap lebih baik dibanding ekspektasi sebagian pasar.
Investor pada pekan ini juga akan menantikan rilis data indeks harga konsumen dan produsen AS periode April untuk melihat dampak perang terhadap inflasi.
Selain itu, pelaku pasar akan memantau laporan kinerja keuangan sejumlah perusahaan seperti Under Armour dan Cisco.(*)