KABARBURSA.COM — Harga batu bara global masih bertahan di kisaran USD131,25 per ton atau sekitar Rp2.218.125, meski dalam beberapa waktu terakhir mulai kehilangan tenaga. Berdasarkan data Trading Economics yang dilihat Kamis, 30 April 2026, posisi ini memang masih jauh di bawah puncak 17 bulan di level USD146,5 per ton atau sekitar Rp2.475.850 yang sempat tercapai pada 20 Maret 2026.
Namun, kalau ditarik ke belakang, kenaikan harga ini bukan karena fundamental yang benar-benar kuat. Lonjakan lebih banyak dipicu faktor eksternal, terutama ketegangan geopolitik yang bikin pasar energi global gelisah.
Sejak konflik memanas di awal Maret, harga batu bara masih naik hampir 9 persen. Kenaikan ini terjadi karena efek rambatan dari lonjakan premi risiko minyak dan LNG, setelah pembicaraan damai Amerika Serikat dan Iran gagal dan jalur distribusi energi utama jadi tidak pasti.
Di tengah kondisi itu, negara-negara Asia kembali mengandalkan batu bara sebagai sumber listrik dasar. Jepang memperpanjang umur pembangkit batu bara, Korea Selatan mulai melonggarkan pembatasan, sementara China justru meningkatkan produksi domestik dan mempercepat proyek konversi batu bara ke gas untuk mengurangi risiko impor.
Situasi ini menunjukkan arah baru kebijakan energi global yang mulai condong ke aspek keamanan pasokan, bukan lagi semata transisi hijau. Ketika minyak dan gas dianggap rentan, batu bara kembali jadi “penyangga darurat”.
Meski begitu, tren jangka pendek mulai menunjukkan pelemahan. Pada 28 April 2026, harga batu bara tercatat turun 0,76 persen dibanding hari sebelumnya. Dalam sebulan terakhir bahkan sudah terkoreksi sekitar 9,01 persen.
Namun secara tahunan, harga masih mencatatkan kenaikan signifikan sebesar 34,96 persen. Artinya, bagi investor, batu bara tetap berada di level yang relatif tinggi meski momentum penguatannya mulai berkurang.
Risikonya juga tidak kecil. Jika pasokan energi dari Timur Tengah kembali normal, tekanan harga batu bara bisa berbalik turun. Di sisi lain, dalam jangka panjang, permintaan juga mulai tertekan oleh percepatan energi terbarukan dan kebijakan transisi energi global.
Di level korporasi, geliat sektor ini masih terlihat. Aset batu bara metalurgi milik Anglo American di Australia dikabarkan menarik minat setidaknya tiga pihak, yakni Stanmore Resources, Mitsubishi Corporation, dan PT Buma Internasional Grup.
Pergerakan ini menunjukkan bahwa di tengah ketidakpastian global, batu bara masih dilihat sebagai aset strategis. Namun bagi investor, fase saat ini lebih mencerminkan pasar yang sedang mencari arah, bukan tren naik yang benar-benar solid.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.