KABARBURSA.COM — Harga emas global kembali tergelincir dan mencatat penurunan untuk hari ketiga berturut-turut. Tekanan datang dari kombinasi sentimen inflasi dan arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat yang masih penuh ketidakpastian.
Pada perdagangan Kamis, 30 April 2026, harga emas spot turun sekitar 1 persen ke level USD4.550,39 per ons atau setara Rp76.901.591. Angka ini menjadi salah satu level terendah dalam satu bulan terakhir. Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat juga ikut melemah 1 persen ke USD4.563,30 atau sekitar Rp77.119.770 per ons.
Pelemahan ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap inflasi yang dipicu konflik di Timur Tengah. Lonjakan harga minyak dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat membuat posisi emas sebagai aset lindung nilai mulai tertekan.
Analis senior Kitco Metals, Jim Wyckoff, melihat pelaku pasar saat ini lebih berhati-hati menjelang keputusan bank sentral Amerika Serikat.
“Kami melihat adanya penyesuaian posisi menjelang keputusan FOMC sore ini. Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat dan harga minyak mentah yang lebih tinggi, yang memicu kekhawatiran inflasi, juga memberikan sentimen negatif bagi pasar emas,” ujarnya, dikutip dari Reuters, Kamis.
Secara teori, emas dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi. Namun dalam praktiknya, daya tarik emas bisa memudar ketika suku bunga naik, karena emas tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen keuangan lainnya.
Ketegangan geopolitik juga memperkeruh situasi. Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut tengah membahas skenario pembatasan akses pelabuhan Iran bersama perusahaan minyak domestik, sambil mendesak Teheran menandatangani kesepakatan baru. Di sisi lain, Iran memperingatkan kemungkinan aksi militer yang belum pernah terjadi sebelumnya jika tekanan tersebut berlanjut.
Situasi ini mendorong harga minyak global melonjak, dengan Brent menyentuh level tertinggi dalam satu bulan terakhir. Dampaknya, tekanan inflasi semakin terasa dan mempersempit ruang gerak kebijakan moneter.
Pasar kini menunggu keputusan Federal Reserve yang dijadwalkan diumumkan pada sore hari waktu setempat. Konsensus memperkirakan suku bunga akan ditahan, namun arah pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell tetap menjadi perhatian utama.
“Pertemuan hari ini mungkin tidak menghasilkan banyak kejutan karena tidak diharapkan ada perubahan suku bunga. Namun, setiap pernyataan yang muncul dari Powell tetap akan sensitif bagi pasar,” kata Wyckoff.
Di sisi fundamental, permintaan emas global justru menunjukkan peningkatan. World Gold Council mencatat permintaan emas naik sekitar 2 persen secara tahunan pada kuartal pertama 2026. Kenaikan ini didorong oleh lonjakan pembelian emas batangan dan koin, serta peningkatan pembelian oleh bank sentral sebesar 3 persen.
Namun, tren tersebut tertahan oleh penurunan tajam permintaan perhiasan yang anjlok hingga 23 persen.
Untuk logam mulia lainnya, pergerakan juga cenderung melemah. Harga perak turun 1,8 persen ke USD71,75 atau sekitar Rp1.212.575 per ons. Platinum merosot 2,8 persen ke USD1.886,53 atau sekitar Rp31.875.357, sementara paladium turun tipis 0,1 persen ke USD1.458,75 atau sekitar Rp24.652.875.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar logam mulia tengah berada dalam fase tekanan, di mana sentimen suku bunga dan geopolitik lebih dominan dibanding faktor permintaan fisik.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.