Logo
>

Harga Minyak Naik Drastis, tapi Tekanan Pasar Kembali Menarik Turun

Ketidakpastian membubung, dipicu kekhawatiran serius atas potensi terganggunya pasokan akibat konflik bersenjata

Ditulis oleh Pramirvan Datu
Harga Minyak Naik Drastis, tapi Tekanan Pasar Kembali Menarik Turun
Ilustrasi minyak dunia. Foto: dok Pertamina

KABARBURSA.COM - Harga minyak global bergerak liar pada perdagangan Kamis. Sempat melesat ke titik tertinggi dalam empat tahun, sebelum akhirnya tergelincir tajam. Ketidakpastian membubung, dipicu kekhawatiran serius atas potensi terganggunya pasokan akibat konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran yang belum menunjukkan tanda mereda.

Minyak mentah berjangka Brent—yang menjadi tolok ukur internasional—menyentuh USD126,41 per barel. Angka itu merupakan puncak sejak 9 Maret 2022. Namun euforia tersebut tak bertahan lama. Harga justru ditutup anjlok USD4,02 atau 3,41 persen ke level USD114,01 per barel, sebagaimana dilaporkan Reuters dari New York, Jumat 1 Mei 2026 pagi WIB.

Menariknya, kontrak Brent aktif untuk pengiriman Juli justru bertahan lebih stabil. Ia ditutup menguat tipis 0,4 persen ke posisi USD110,88 per barel, setelah kontrak Juni resmi berakhir pada hari yang sama.

Di sisi lain, acuan Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI), turut mengalami tekanan. Harga ditutup turun USD1,81 atau 1,69 persen menjadi USD105,07 per barel. Padahal sebelumnya sempat menyentuh USD110,93—level tertinggi sejak awal April.

Kendati terkoreksi dari puncaknya, baik Brent maupun WTI masih mencatatkan tren kenaikan bulanan untuk empat bulan berturut-turut. Ini bukan sekadar fluktuasi biasa. Pasar mencerminkan kegelisahan mendalam terhadap risiko gangguan pasokan energi global yang berpotensi berlangsung lama.

Sejak konflik Timur Tengah memanas pada akhir Februari, pasar minyak berubah menjadi arena dengan volatilitas ekstrem. Pergerakan intraday melonjak drastis. Kadang tanpa pemicu fundamental yang jelas. Ketidakpastian menjadi satu-satunya kepastian.

Sejumlah analis menilai penurunan dari level tertinggi lebih didorong oleh aksi ambil untung menjelang akhir bulan. Aktivitas perdagangan juga cenderung tidak stabil, terutama menjelang jatuh tempo kontrak Brent Juni.

Analis PVM, Tamas Varga, menyebut dinamika harga saat ini lebih mencerminkan turbulensi pasar ketimbang respons terhadap perkembangan baru. Sementara Ole Hvalbye dari SEB Research menilai lanskap pasar kini terlalu cair untuk membentuk pijakan fundamental yang solid.

Pandangan serupa datang dari Phil Flynn, analis Price Futures Group. Ia menilai tekanan harga juga dipicu aksi jual dari hedge fund yang memilih mengamankan keuntungan setelah reli panjang.

Di luar faktor teknikal, pergerakan mata uang turut memainkan peran. Pelemahan dolar AS memberi tekanan tambahan pada harga minyak. Yen Jepang melonjak hingga 3 persen—kenaikan harian terbesar dalam lebih dari tiga tahun—setelah sinyal intervensi dari otoritas Jepang. Dampaknya jelas: komoditas berbasis dolar menjadi lebih mahal bagi pembeli global.

Sementara itu, ketegangan geopolitik terus membara. Presiden AS Donald Trump dijadwalkan menerima briefing terkait kemungkinan serangan militer lanjutan terhadap Iran. Teheran pun tak tinggal diam. Ancaman balasan skala besar dilontarkan jika agresi kembali terjadi.

Iran juga kembali menegaskan kendalinya atas Selat Hormuz. Jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan LNG dunia. Ancaman terhadap jalur ini menjadi katalis utama lonjakan harga energi global.

Sejak konflik dimulai pada 28 Februari, harga Brent dilaporkan telah melonjak dua kali lipat. Sementara WTI naik sekitar 90 persen. Angka-angka ini bukan sekadar statistik—melainkan cerminan kegelisahan pasar terhadap potensi krisis pasokan berkepanjangan.

Lonjakan harga energi membawa implikasi luas. Risiko inflasi global meningkat. Harga bahan bakar di Amerika Serikat berpotensi melonjak, terutama menjelang pemilu paruh waktu. Minyak dan turunannya tetap menjadi urat nadi bagi transportasi, industri, hingga produksi bahan kimia dan pupuk.

Upaya diplomatik masih berjalan di tempat. Meski Trump sempat menyerukan gencatan senjata, blokade terhadap pelabuhan Iran tetap diberlakukan. Perundingan pun menemui jalan buntu. Washington bersikeras membahas isu nuklir, sementara Teheran menuntut kontrol atas Selat Hormuz serta kompensasi kerugian perang.

Prospek resolusi konflik dalam waktu dekat tampak suram. Analis IG, Tony Sycamore, menilai pembukaan kembali Selat Hormuz masih jauh dari realisasi.

Data pelayaran memperkuat kekhawatiran tersebut. Dalam 24 jam terakhir, hanya tujuh kapal yang melintasi selat itu—jauh di bawah rata-rata normal 125 hingga 140 kapal per hari sebelum konflik.

Rinciannya, tiga kapal curah kering, satu kapal kontainer, dan dua tanker bitumen tercatat keluar dari jalur tersebut, berdasarkan data Kpler dan analisis satelit SynMax.

Analis OANDA, Kelvin Wong, menilai potensi penutupan Selat Hormuz memiliki dampak jauh lebih signifikan dibanding dinamika internal OPEC+, termasuk keputusan Uni Emirat Arab keluar dari organisasi setelah hampir enam dekade keanggotaan.

Di tengah tekanan pasokan, satu-satunya faktor yang berpotensi meredakan situasi adalah pelemahan permintaan. Harga yang terlalu tinggi bisa menjadi rem alami. Namun untuk saat ini, pasar masih terombang-ambing—antara ketakutan, spekulasi, dan realitas geopolitik yang terus berubah.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Pramirvan Datu

Pram panggilan akrabnya, jurnalis sudah terverifikasi dewan pers. Mengawali karirnya sejak tahun 2012 silam. Berkecimpung pewarta keuangan, perbankan, ekonomi makro dan mikro serta pasar modal.