Logo
>

Harga Minyak Turun Tipis, Brent Masih Bertahan di Atas USD110

Harga minyak melemah tipis, namun Brent masih di atas USD110 per barel karena risiko Selat Hormuz dan ketidakpastian pasokan global.

Ditulis oleh Citra Dara Vresti Trisna
Harga Minyak Turun Tipis, Brent Masih Bertahan di Atas USD110
Ilustrasi harga minyak dunia melemah pada perdagangan Rabu, 20 Mei 2026. Foto: dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM - Harga minyak dunia cenderung melemah tipis pada perdagangan Rabu, 20 Mei 2026, setelah pasar mulai melihat peluang diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran. Meski demikian, harga Brent yang masih bertahan di atas USD110 per barel menunjukkan premi risiko geopolitik belum sepenuhnya hilang dari pasar energi global.

Data Trading Economics mencatat harga Brent berada di kisaran USD110,76 per barel atau turun 0,47 persen secara harian. Secara bulanan, harga Brent masih naik 12,47 persen dan melonjak 70,63 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) berada di sekitar USD103,80 per barel atau turun sekitar 0,34 persen. Bloomberg Energy Board mencatat WTI melemah USD0,35 dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Pergerakan intraday menunjukkan Brent berada di rentang USD110,68 hingga USD111,30 per barel, sedangkan WTI bergerak di kisaran USD103,71 sampai USD104,34 per barel.

Pasar minyak masih dibayangi ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama terkait konflik Iran-AS dan gangguan distribusi energi melalui Selat Hormuz.

Pelaku pasar mulai mengurangi posisi safe haven setelah muncul sinyal diplomasi menyusul penundaan rencana serangan AS terhadap Iran. Namun, harga minyak tetap tinggi karena negosiasi dinilai belum menghasilkan perubahan signifikan.

Selain itu, isu pengawalan kapal NATO di Selat Hormuz juga terus dipantau investor energi global. Energy Information Administration (EIA) menyebut arus lalu lintas energi di Selat Hormuz masih terganggu akibat risiko keamanan.

“Lalu lintas melalui Selat Hormuz sebagian besar masih berada dalam kondisi terhenti,” tulis EIA dalam laporan pasar energinya, Rabu, 20 Mei 2026.

EIA juga memperkirakan penarikan persediaan minyak global mencapai rata-rata 8,5 juta barel per hari pada kuartal II 2026. Kondisi itu diperkirakan menjaga harga Brent tetap berada di kisaran rata-rata USD106 per barel sepanjang Mei hingga Juni.

Dari sisi persediaan, American Petroleum Institute (API) melaporkan stok minyak mentah AS turun 9,1 juta barel pada pekan yang berakhir 15 Mei 2026.

“Persediaan minyak mentah AS turun untuk minggu kelima berturut-turut pekan lalu,” tulis Reuters, pada Rabu, 20 Mei 2026.

API juga mencatat stok bensin turun 5,8 juta barel dan stok distilat melemah 1 juta barel. Pasar kini menunggu validasi data resmi Energy Information Administration (EIA) sebagai katalis berikutnya.

Di sisi permintaan, China mulai menunjukkan tanda perlambatan konsumsi energi akibat konflik geopolitik dan pelemahan aktivitas kilang.

Reuters melaporkan kilang milik negara China memangkas throughput lebih dari 1 juta barel per hari sejak perang Iran memanas. “Kilang milik negara China memangkas throughput minyak lebih dari satu juta barel per hari,” tulis Reuters.

Firma riset Energy Aspects memperkirakan pemrosesan minyak mentah kilang negara China turun menjadi 8,4 juta barel per hari pada Mei, dibandingkan sekitar 10 juta barel per hari sebelum konflik meningkat.

International Energy Agency (IEA) juga memangkas proyeksi permintaan minyak dunia untuk 2026.

“Permintaan minyak dunia diperkirakan terkontraksi sebesar 420 ribu barel per hari secara tahunan pada 2026,” tulis IEA dalam laporan bulanannya.

IEA mencatat penurunan permintaan terbesar diperkirakan terjadi pada kuartal II 2026 sebesar 2,45 juta barel per hari. Di sisi lain, pasokan minyak global April tercatat turun 1,8 juta barel per hari menjadi 95,1 juta barel per hari.

Faktor lain yang membatasi kenaikan harga minyak adalah penguatan dolar AS dan kenaikan yield Treasury AS.

Indeks dolar AS (DXY) berada di sekitar 99,296, sedangkan yield US Treasury tenor 10 tahun bergerak di kisaran 4,668 hingga 4,687 persen. Yield obligasi tenor 30 tahun bahkan menyentuh 5,180 persen, tertinggi sejak 2007.

Kondisi tersebut memperbesar kekhawatiran pasar terhadap risiko inflasi energi dan suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama. Saat ini, investor kini melihat Selat Hormuz sebagai variabel paling penting dalam menentukan arah harga minyak global dalam jangka pendek, di tengah tarik-menarik antara harapan diplomasi dan risiko gangguan pasokan energi dunia.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Citra Dara Vresti Trisna

Citra Dara Vresti Trisna adalah Asisten Redaktur KabarBursa.com yang memiliki spesialisasi dalam analisis saham dan dinamika pasar modal. Dengan ketelitian analitis dan pemahaman mendalam terhadap tren keuangan, ia berperan penting dalam memastikan setiap publikasi redaksi memiliki akurasi data, konteks riset, dan relevansi tinggi bagi investor serta pembaca profesional. Gaya kerjanya terukur, berstandar tinggi, dan berorientasi pada kualitas jurnalistik berbasis fakta.