KABARBURSA.COM – Raksasa energi nasional Grup Adaro, PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) dan PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR), mengucurkan pendanaan afiliasi bernilai fantastis guna mendanai ekspansi anak-anak usahanya.
Berdasarkan dokumen laporan informasi atau fakta material resmi ADRO per Kamis, 2 Juli 2026, anak perusahaan yang 99,99 persen sahamnya dimiliki langsung oleh Perseroan, yakni PT Adaro Power (AP), resmi menandatangani Perjanjian Fasilitas Pinjaman (Loan Agreement) dengan PT Adaro Green (AG) pada 30 Juni 2026. PT Adaro Green sendiri merupakan entitas terkendali yang dimiliki ADRO secara tidak langsung melalui AP.
Dalam kesepakatan tersebut, AP berkomitmen untuk menyediakan fasilitas pinjaman dengan nilai plafon jumbo mencapai USD45.000.000 atau setara dengan Rp736 miliar (asumsi kurs Rp16.360 per dolar AS).
“Dana tersebut dialokasikan secara khusus untuk mendanai kegiatan investasi ekspansi proyek energi baru dan terbarukan (EBT) serta kebutuhan modal kerja umum AG,” ungkap dokumen tersebut.
Fasilitas ini dikunci dengan jangka waktu 5 tahun sejak tanggal penandatanganan dan mengenakan tingkat suku bunga sebesar SOFR + 2 persen per tahun.
Guna memperkuat struktur pinjaman tersebut, ADRO selaku induk usaha ikut menandatangani Perjanjian Penjaminan Perusahaan (Corporate Guarantee Agreement) pada tanggal yang sama. Melalui dokumen ini, ADRO bertindak sebagai penjamin penuh atas seluruh kewajiban pembayaran PT Adaro Green atas pinjaman USD45 juta dari AP.
Laporan transaksi penting ini dijamin legalitasnya melalui Surat Pernyataan Direksi dan Dewan Komisaris yang ditandatangani oleh jajaran manajemen kunci, di antaranya Direktur Utama Garibaldi "Boy" Thohir, Wakil Direktur Utama Christian Ariano Rachmat, Direktur Chia Ah Hoo, Presiden Komisaris Edwin Soeryadjaya, serta Wakil Presiden Komisaris Theodore Permadi Rachmat.
Ekspansi Tambahan Pinjaman Proyek PLTS Batam Rp300 Miliar
Masih dalam lini bisnis hijau, ekosistem Alamtri Resources Indonesia melalui anak usahanya, PT Alamtri Renewables Indonesia, juga merampungkan revisi perjanjian pemberian pinjaman kepada PT Batam Sarana Surya. Aksi ini berupa penambahan plafon pinjaman Tranche B dengan nilai hingga Rp300 miliar.
“Kucuran modal tambahan ini dipatok menggunakan tingkat suku bunga tetap sebesar 6,5 persen per tahun. Bersamaan dengan penambahan plafon tersebut, kedua belah pihak juga menyepakati perubahan tanggal jatuh tempo pinjaman yang diubah secara resmi menjadi hingga 31 Desember 2031,” jelas dokumen keterbukaan informasi itu.
Manajemen menegaskan seluruh dana pinjaman ini akan diserap secara penuh guna mendanai kebutuhan investasi dan percepatan pengembangan proyek energi terbarukan berupa Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) milik PT Batam Sarana Surya yang berlokasi strategis di Batam, Kepulauan Riau.
Transaksi ini diklasifikasikan sebagai transaksi afiliasi karena PT Batam Sarana Surya merupakan anak usaha langsung dari PT Alamtri Renewables Indonesia, di mana kendali utamanya dipegang penuh oleh ADRO.
ADMR Suntik USD300 Juta untuk Megaproyek Smelter Aluminium Kalimantan
Langkah agresif tidak hanya monopoli ADRO. Lini bisnis mineral grup, Alamtri Minerals Indonesia, turut mengumumkan eksekusi fasilitas penandatanganan pinjaman bernilai masif untuk sektor hilirisasi batuan komoditas.
“ADMR resmi memberikan fasilitas pinjaman bersifat revolving dan uncommitted basis dengan nilai plafon mencapai USD300.000.000 (sekitar Rp4,9 triliun) kepada anak usahanya, PT Kalimantan Aluminium Industry (KAI),” ungkap keterbukaan informasi.
Berdasarkan rincian kontrak pendanaan internal tersebut, fasilitas pinjaman ini memiliki tenor jangka panjang dengan tanggal jatuh tempo yang ditetapkan pada 30 November 2031. Kendati demikian, manajemen mutlak memilih untuk tidak merinci secara detail besaran tingkat suku bunga yang dikenakan dalam skema kerja sama internal ini.
Manajemen ADMR memaparkan bahwa keputusan strategis ini sengaja ditempuh guna memberikan skema pendanaan yang jauh lebih efisien, fleksibel, serta terukur bagi kelangsungan operasional proyek konstruksi hilirisasi yang sedang dikerjakan anak usaha.
Seluruh dana pinjaman akan digunakan untuk pengembangan proyek pembangunan smelter aluminium komersial di Kalimantan.
“Smelter tersebut dirancang untuk memiliki kapasitas produksi tahap pertama sebesar 500 ribu ton ingot aluminium per tahun,” papar dokumen tersebut.
Sinergi pendanaan intra-grup ini diharapkan mampu memangkas ketergantungan terhadap pembiayaan eksternal yang cenderung memiliki beban bunga lebih fluktuatif di tengah dinamika pasar keuangan global.(*)