KABARBURSA.COM - PT Bach Multi Global Tbk (BACH) dan PT Rans Entertainmen Indonesia Tbk (RANS) sama-sama sedang menjalani masa bookbuilding pada Juni 2026. Namun, keduanya menawarkan investasi yang berbeda.
BACH bergerak di bidang industri dan infrastruktur. Bisnisnya mungkin tidak terlalu akrab di telinga masyarakat umum, tetapi perannya cukup penting di balik berbagai aktivitas ekonomi.
Perusahaan ini bergerak dalam penyediaan genset sekaligus jasa konstruksi dan pemeliharaan infrastruktur telekomunikasi yang mengelola lebih dari 41.000 site di seluruh Indonesia.
Sementara RANS, lebih populer. Nama besar Raffi Ahmad dan Nagita Slavina membuat perusahaan media dan hiburan ini memiliki tingkat pengenalan merek yang sangat tinggi. Bahkan sebelum resmi melantai di Bursa Efek Indonesia, RANS sudah memiliki basis penggemar dan ekosistem bisnis yang dikenal luas oleh masyarakat.
RANS Tawarkan Valuasi Premium
Perbedaan karakter kedua perusahaan tercermin dari nilai saham yang ditawarkan. BACH menawarkan saham pada rentang Rp400 hingga Rp500 per lembar. Dengan jumlah saham beredar setelah IPO diperkirakan mencapai sekitar 4,08 miliar saham, valuasi perusahaan ini menghasilkan price to earnings ratio (P/E) sekitar 10,5 kali hingga 13,1 kali berdasarkan laba bersih tahun 2025.

Di sisi lain, RANS menawarkan saham pada rentang Rp135 hingga Rp170 per saham. Meski terlihat lebih murah secara nominal, valuasi yang tercermin justru jauh lebih mahal.
Dengan estimasi total saham beredar mencapai sekitar 12,61 miliar lembar dan laba bersih 2025 sebesar Rp56,69 miliar, saham RANS diperdagangkan pada kisaran P/E 30 kali hingga hampir 38 kali.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa investor yang membeli BACH membayar harga yang relatif lebih murah terhadap laba yang dihasilkan perusahaan. Sementara investor yang masuk ke RANS sebenarnya sedang membayar premi yang cukup tinggi untuk potensi pertumbuhan di masa depan.
Fundamental BACH Lebih Agresif
Fundamental kedua perusahaan juga bergerak dalam arah yang berbeda.
BACH mencatatkan pertumbuhan yang sangat impresif sepanjang 2025. Pendapatan meningkat hampir 40 persen menjadi Rp1,73 triliun. Yang lebih menarik, laba bersih melonjak hampir dua kali lipat atau naik 97,55 persen menjadi Rp155,55 miliar. Bisnis perusahaan berada dalam fase ekspansi yang agresif.

Momentum tersebut semakin diperkuat oleh rencana masuknya PT Global Telekomunikasi Prima, anak usaha Grup Djarum, sebagai pemegang saham pengendali mayoritas pasca IPO.
Kehadiran salah satu kelompok usaha terbesar di Indonesia tersebut menjadi katalis yang sulit diabaikan oleh pelaku pasar. Bagi banyak investor, bukan hanya angka pertumbuhan yang menjadi daya tarik, tetapi juga potensi sinergi dan pengembangan bisnis yang dapat terjadi setelah perubahan struktur kepemilikan tersebut.
Sementara, RANS lebih bercerita tentang masa. Sepanjang 2025, pendapatan perusahaan justru turun 13,91 persen menjadi Rp353,38 miliar. Penurunan ini dipicu melemahnya kontribusi bisnis brand ambassador dan talent management yang selama ini menjadi salah satu sumber pendapatan utama.
Dampaknya, laba bersih juga ikut terkoreksi 41,60 persen menjadi Rp56,69 miliar.
Dana hasil IPO akan digunakan untuk mengembangkan berbagai proyek baru, mulai dari taman hiburan Cipungland, penyelenggaraan konser, hingga pengembangan teknologi berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Di sinilah letak perbedaan filosofi investasi antara BACH dan RANS.
BACH menawarkan kisah perusahaan yang sudah menunjukkan pertumbuhan nyata. Investor membeli bisnis yang sedang berkembang dengan valuasi yang relatif murah. Risiko tentu tetap ada, tetapi fondasi keuangan yang kuat dan pertumbuhan laba yang tinggi memberikan bantalan yang cukup nyaman bagi investor yang mengutamakan fundamental.

Sebaliknya, RANS lebih menyerupai saham berbasis ekspektasi. Investor tidak membeli pertumbuhan yang sudah terjadi, melainkan pertumbuhan yang diharapkan akan muncul di masa depan.
Nama besar pendiri, kekuatan merek, serta peluang monetisasi ekosistem media menjadi alasan utama mengapa perusahaan ini dihargai jauh lebih mahal dibandingkan laba yang dihasilkan saat ini.
Rasio Profitabilitas BACH Lebih Unggul
Jika melihat rasio profitabilitas, BACH kembali menunjukkan keunggulannya. Return on Equity (ROE) perusahaan mencapai 29,02 persen. Angka tersebut menunjukkan kemampuan manajemen menghasilkan laba dari modal pemegang saham secara sangat efisien. Sebagai perbandingan, ROE RANS berada di level 16,63 persen.
RANS masih memiliki satu keunggulan yang menarik, yakni Net Profit Margin (NPM) sebesar 16,04 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan BACH yang mencatatkan margin laba bersih 8,99 persen. Karakter bisnis media dan hiburan ini memiliki struktur biaya lebih ringan dibandingkan bisnis industri dan infrastruktur.
BACH atau RANS?
Bagi investor yang mencari valuasi murah, pertumbuhan laba yang kuat, serta dukungan grup usaha besar, BACH tampak menawarkan kombinasi yang lebih menarik. Namun bagi investor yang percaya pada kekuatan merek, ekonomi kreatif, bisnis hiburan, dan potensi monetisasi ekosistem digital dalam jangka panjang, RANS bisa menjadi pilihan meskipun harus dibeli dengan valuasi premium.
Di pasar modal, tidak semua saham mahal berarti buruk dan tidak semua saham murah pasti menarik. Angka-angka fundamental sering kali menjadi kompas terbaik untuk membantu investor membedakan antara harapan dan kenyataan.(*)