KABARBURSA.COM – Kelompok saham milik konglomerat Prajogo Pangestu kompak mengalami tekanan pada perdagangan sesi I Rabu, 3 Juni 2026. Mayoritas saham grup Barito dan Petrindo bergerak melemah tajam di tengah derasnya aksi jual asing dan koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Merujuk data yang dihimpun Kabarbursa.com, IHSG pada sesi pertama anjlok 305,94 poin atau 4,94 persen ke level 5.889,48. Tekanan pasar terjadi bersamaan dengan aksi jual investor asing yang membukukan net foreign sell sebesar Rp525,37 miliar di seluruh pasar.
Di antara saham-saham Prajogo, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) menjadi salah satu yang paling aktif diperdagangkan sekaligus paling banyak dilepas investor asing. Saham TPIA turun 13,42 persen ke level Rp1.645.
Nilai transaksi TPIA mencapai Rp1,89 triliun dengan volume perdagangan sekitar 1,09 miliar saham. Investor asing tercatat melakukan net foreign sell sebesar Rp257,53 miliar pada saham petrokimia tersebut.
Tekanan juga terjadi pada PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN). Saham CUAN jatuh 12,10 persen ke level Rp690 dengan nilai transaksi mencapai Rp772,49 miliar.
Sementara itu, PT Petrosea Tbk (PTRO) menjadi saham dengan pelemahan terdalam di kelompok Prajogo setelah ambles 15 persen ke level Rp4.080. Nilai transaksi saham PTRO mencapai Rp388,36 miliar.
PT Barito Pacific Tbk (BRPT) ikut terkoreksi 13,47 persen ke posisi Rp1.670. Saham holding energi dan petrokimia tersebut mencatat transaksi Rp468,97 miliar sepanjang sesi pertama.
Tekanan juga menjalar ke PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) yang turun 13,79 persen ke level Rp750 dengan nilai transaksi sekitar Rp62,10 miliar.
Di tengah pelemahan mayoritas saham grup Prajogo, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) justru menunjukkan pola berbeda dari sisi aliran dana asing.
Meski saham BREN turun 5,83 persen ke level Rp3.880, investor asing masih mencatat pembelian bersih (net foreign buy) sebesar Rp43,21 miliar. Nilai transaksi saham energi terbarukan tersebut mencapai Rp262,95 miliar.
Data perdagangan Stockbit Sekuritas menunjukkan tekanan jual asing terbesar pada sesi pertama terjadi di saham-saham berkapitalisasi besar seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), TPIA, dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI).
Selain TPIA dan CUAN, saham Prajogo lain yang masuk daftar top net foreign sell adalah PTRO dengan penjualan bersih asing Rp36,24 miliar.
Secara akumulatif, investor asing tercatat melepas saham-saham grup Prajogo Pangestu senilai sekitar Rp350,9 miliar pada sesi pertama perdagangan, dengan tekanan terbesar terjadi di TPIA, CUAN, dan PTRO.
Sementara itu, pada daftar top net foreign buy, BREN menjadi satu-satunya saham grup Prajogo yang masih mencatat akumulasi asing cukup besar di tengah koreksi pasar.
Pergerakan saham-saham Prajogo kali ini juga menjadi salah satu sorotan pasar karena sebelumnya kelompok saham tersebut beberapa kali menjadi penopang utama pergerakan IHSG.
Namun pada perdagangan kali ini, pelemahan saham-saham grup Barito dan Petrindo justru ikut memperdalam tekanan indeks. Hal itu terlihat dari besarnya nilai transaksi saham-saham Prajogo yang mendominasi perdagangan sesi pertama.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.