KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali bergerak di zona merah hingga satu jam menjelang penutupan perdagangan Rabu, 20 Mei 2026. Tekanan jual yang sempat mereda pada sesi siang kembali membesar memasuki perdagangan sore.
Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga pukul 15.04 WIB, IHSG turun 87,55 poin atau 1,37 persen ke level 6.283,13. Pelemahan tersebut memperpanjang tekanan pasar domestik yang dalam beberapa hari terakhir masih dibayangi arus keluar dana asing dan tingginya volatilitas global.
IHSG dibuka di level 6.352,20 sebelum sempat bergerak naik menyentuh level tertinggi harian di 6.459,56 pada awal sesi perdagangan. Namun tekanan jual kembali mendominasi pasar dan menyeret indeks turun hingga menyentuh level terendah intraday di 6.215,56.
Nilai transaksi pasar hingga sore tercatat mencapai Rp17,88 triliun dengan volume perdagangan sekitar 35,15 miliar saham dan frekuensi transaksi mencapai 351,48 ribu kali.
Pergerakan IHSG sepanjang hari terlihat cukup fluktuatif. Setelah sempat menguat pada pagi hari, indeks mulai kehilangan tenaga memasuki akhir sesi pertama dan terus bergerak melemah sepanjang perdagangan sore.
Tekanan pasar kali ini masih didominasi saham-saham berkapitalisasi besar yang menjadi sasaran distribusi investor asing. Sejumlah saham sektor perbankan, energi, dan konglomerasi tercatat bergerak di zona merah.
Pelaku pasar juga masih mencermati kombinasi sentimen global yang belum mereda, mulai dari perang di Timur Tengah, penguatan dolar Amerika Serikat, kenaikan harga minyak dunia, hingga perubahan ekspektasi suku bunga global.
Di dalam negeri, pasar juga masih mencerna dampak kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen yang diumumkan pada siang hari ini. Langkah tersebut diambil Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas rupiah dan mengantisipasi tekanan inflasi akibat gejolak global.
Tekanan Terjadi Sejak Perdagangan Sesi Pagi
Hingga akhir sesi I perdagangan Rabu, 20 Mei 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih bergerak di zona merah. Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG masih turun 38,50 poin atau 0,60 persen ke level 6.332,18.
Tekanan jual terlihat mendominasi sejak awal perdagangan. IHSG sempat dibuka di level 6.352,20 sebelum bergerak di rentang 6.215,56 hingga 6.459,56 sepanjang sesi pagi. Volume transaksi tercatat mencapai 27,44 miliar saham dengan nilai transaksi sekitar Rp17,44 triliun.
Data foreign activity yang dihimpun Kabarbursa.com menunjukkan investor asing masih cenderung melakukan distribusi pada sejumlah saham berkapitalisasi besar.
Sepanjang sesi pertama, total pembelian asing tercatat sebesar Rp5,13 triliun. Sementara penjualan asing mencapai Rp4,72 triliun sehingga pasar masih membukukan net foreign buy sekitar Rp404,84 miliar.
Meski secara agregat masih mencatat net buy, tekanan jual asing terkonsentrasi pada sejumlah saham besar yang menjadi penekan utama indeks.
Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi emiten dengan net foreign sell terbesar mencapai Rp184,67 miliar. Setelah itu disusul PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) sebesar Rp141,85 miliar dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) sebesar Rp90,96 miliar.
Investor asing juga tercatat melepas saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) senilai Rp83,08 miliar. Tekanan jual lain terlihat pada saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), hingga PT Astra International Tbk (ASII).
Di sisi lain, aliran dana asing masih masuk ke sejumlah saham berbasis komoditas dan energi. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mencatat net foreign buy terbesar sebesar Rp243,92 miliar.
Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) juga mencatat net buy asing Rp224,72 miliar dengan volume transaksi mencapai 1,26 miliar saham. Selain itu, saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), hingga PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) masih masuk radar transaksi aktif investor asing.
Aktivitas broker menunjukkan perdagangan pasar masih didominasi sekuritas besar. UBS Sekuritas Indonesia (AK) menjadi broker dengan nilai transaksi terbesar mencapai Rp3,37 triliun, disusul Mandiri Sekuritas (CC) Rp3,25 triliun dan Stockbit Sekuritas Digital (XL) sekitar Rp3,1 triliun.
Broker asing dan institusi besar lain seperti Maybank Sekuritas Indonesia (ZP), Mirae Asset Sekuritas Indonesia (YP), hingga J.P. Morgan Sekuritas Indonesia (BK) juga masih aktif mendominasi transaksi pasar sesi pertama.(*)