KABARBURSA.COM - PT. Pertamina Geothermal Energy Tbk atau PGE (PGEO) memiliki rekam jejak panjang dalam pemanfaatan energi di Indonesia.
Mengutip situs resmi perusahaan, PGE resmi berdiri pada tahun 2006. Awal mula perusahaan ini dibentuk ialah untuk mengoptimalkan pengelolaan potensi 70 titik wilayah panas bumi di Indonesia yang dilakukan Pertamina sejak 1974.
Setelah setahun berdiri, PGE langsung menunjukkan aksinya dengan meresmikan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Area Lahendong Unit II berkapasitas 20 Megawatt (MW) di Sulawesi Utara pada tahun 2007.
Ekspansi kapasitas pembangkit terus digencarkan perusahaan di sejumlah wilayah tanah air. Pada tahun 2008, untuk mengoptimalkan sumur produksi panas bumi di Jawa Barat, PGE kembali menambah satu unit PLTP di WKP Kamojang. PLTP Area Kamojang Uni IV mulai resmi beroperasi dengan kapasitas 60 MW.
Di tahun yang sama, PGE juga meresmikan dua PLTP di WKP Gunung Sibayak-Gunung Sinabung dengan kapasitas 2 x 5 MW. PLTP Area Sibayak Unit I dan II akan memenuhi kebutuhan listrik di Provinsi Sumatera Utara.
Tak berhenti di situ, pada tahun 2009 dan 2011, anak perusahaan PT Pertamina (Persero) ini menambah kapasitas di Sulawesi Utara dengan meresmikan PLTP Lahendong Unit III (20 MW) dan Unit IV (20 MW).
Masuk ke tahun 2012, PGE memperluas jangkauan operasional ke Pulau Sumatera setelah meresmikan PLTP Ulubelu Unit I dan II di Lampung dengan kapasitas 2 x 55 MW.
Penguatan kapasitas perusahaan terus berlanjut hingga tahun 2015, di mana PGE resmi mengoperasikan PLTP Kamojang Unit V (35 MW) di Jawa Barat yang menyuplai setrum ke PT PLN (Persero).
PGE kemudian memperkuat pasokan listrik di wilayah Sulawesi pada tahun 2016. Kawasan yang disentuh meliputi Sulawesi Utara, Tengah, dan Gorontalo dengan mengoperasikan PLTP Lahendong Unit V dan VI (2 x 20 MW) di wilayah Tompaso.
Tak berhenti di situ, di tahun yang sama, PGE juga mulai mengoperasikan 1 unit PLTP tambahan di Lampung yakni PLTP Ulubelu Unit III dengan kapasitas 55 MW.
Melantai di BEI
Puncak transformasi PGE terjadi pada 24 Februari 2023. Saat itu, PGE resmi menjadi perusahaan terbuka setelah mencatat saham perdana di Bursa Efek Indonesia dengan kode saham PGEO.
Saat penawaran perdana itu, saham PGEO dihargai Rp875 dengan jumlah saham IPO mencapai 10,35 miliar. Merujuk data Stockbit pada Sabtu, 4 Juli 2026, PGEO memiliki free float sebesar 11,06 persen.
Berdasarkan data profil pemegang saham yang diperbarui per 3 Juli 2026, PT Pertamina Power Indonesia menjadi pemegang saham terbesar dengan kepemilikan mencapai 28,57 miliar saham atau setara 68,18 persen dari total saham beredar.
Posisi pemegang saham terbesar kedua ditempati oleh Masdar Indonesia Solar Holdings RSC, yang menggenggam 6,21 miliar saham atau 14,82 persen.
Sementara itu, Pertamina Dana Ventura tercatat memiliki 2,48 miliar saham atau sekitar 5,91 persen. Adapun Tanam Investasi Indonesia menguasai 2,07 miliar saham, setara dengan 4,94 persen dari total saham perseroan.
Pergerakan Saham
Saham PGEO ditutup tidak berubah pada perdagangan Jumat, 3 Juli 2026 dari hari sebelumnya di level Rp875. Kendati stagnan per kemarin, akumulasi dalam satu pekan terakhir mengantongi pertumbuhan hijau sebesar 2,94 persen di kisaran 810 sampai 900.
Tren penguatan jangka pendek ini melebar pada periode satu bulan dengan kenaikan sebesar 6,06 persen di rentang harga 770 hingga 920.
Sebaliknya, performa saham PGEO dalam periode jangka menengah dan panjang masih tertekan. Pada periode tiga bulan terakhir, harga saham menurun sedalam 14,22 persen di rentang harga 770 hingga 1.105.
Dalam periode enam bulan terakhir, pergerakan saham merosot sebesar 22,57 persen di kisaran harga 770 sampai 1.305.
Secara kinerja berjalan sepanjang tahun ini, saham PGEO membukukan penurunan sebesar 22,22 persen dengan fluktuasi harga di rentang 770 hingga 1.305.
Dalam basis satu tahun terakhir, saham PGEO mencatatkan pelemahan paling dalam hingga minus 39,24 persen, bergerak dari harga terendah 770 menuju level puncak di 1.855.
Meskipun demikian, jika ditarik dalam rentang waktu jangka panjang tiga tahun terakhir, investasi pada saham PGEO masih membukukan imbal hasil positif tipis sebesar 2,34 persen, bergerak fluktuatif dari batas bawah di level 700 hingga batas atas tertingginya di level 1.855 per lembar saham. (*)