KABARBURSA.COM – Perjalanan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan akhir pekan ini cukup berat. Setelah sempat dibuka di zona hijau, indeks perlahan kehilangan tenaga hingga akhirnya kembali jatuh ke area 6.000-an.
IHSG ditutup melemah 204,93 poin atau turun 2,86 persen ke level 6.969,40. Ini menjadi salah satu koreksi terdalam dalam beberapa pekan terakhir sekaligus memperlihatkan tekanan pasar domestik yang belum benar-benar reda.
Padahal pada awal perdagangan, IHSG sempat dibuka cukup optimistis di level 7.182,96. Indeks bahkan bergerak menyentuh area tertinggi 7.186,83 sebelum tekanan jual datang bertahap di sepanjang sesi perdagangan.
Menjelang penutupan, tekanan semakin deras dan mendorong IHSG jatuh ke level terendah harian di 6.969,40. Artinya, indeks ditutup tepat di area low intraday tanpa sempat melakukan rebound berarti di akhir sesi.
Pelaku pasar cenderung memilih keluar dari aset berisiko dibanding menahan posisi hingga akhir perdagangan.
Rupiah Terkoreksi
Tekanan terhadap pasar saham domestik berjalan beriringan dengan pelemahan rupiah. Mata uang Garuda kembali turun ke level Rp17.355 per dolar Amerika Serikat dan kini menuju pelemahan mingguan keenam berturut-turut.
Pasar mulai kembali mengkhawatirkan kombinasi tekanan eksternal dan sentimen domestik. Kenaikan harga minyak dunia membuat risiko inflasi dan tekanan fiskal kembali muncul, terutama bagi negara importir energi seperti Indonesia.
Di saat yang sama, investor asing juga mulai lebih sensitif terhadap isu daya tarik aset domestik, mulai dari stabilitas fiskal hingga arah tata kelola kebijakan ekonomi.
Kondisi tersebut membuat pasar Indonesia bergerak berlawanan dibanding reli besar yang sempat terjadi tahun lalu. Jika pada 2025 IHSG mampu melonjak sekitar 22 persen, tahun ini indeks justru sudah terkoreksi lebih dari 17 persen secara year to date.
Data regional juga menunjukkan tekanan tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi pasar domestik terlihat menjadi salah satu yang paling lemah di kawasan.
Rupiah tercatat melemah sekitar 3,97 persen sepanjang tahun berjalan. Sementara indeks saham Indonesia menjadi salah satu indeks dengan performa terburuk di Asia pada 2026.
Sebagai perbandingan, indeks saham Korea Selatan masih melonjak sekitar 77,92 persen secara year to date, Taiwan naik 43,64 persen, dan Jepang menguat sekitar 20,99 persen.
Sementara itu, ringgit Malaysia justru menjadi salah satu mata uang paling stabil di Asia. Ringgit memang turun tipis 0,2 persen hari ini ke level 3,9160 per dolar AS, tetapi sepanjang tahun masih menguat sekitar 3,55 persen.
Kondisi tersebut membuat arus dana global terlihat mulai lebih selektif masuk ke pasar negara berkembang. Investor cenderung memilih pasar yang dinilai memiliki stabilitas mata uang lebih kuat dan risiko fiskal lebih rendah.
Di Bursa Efek Indonesia sendiri, tekanan jual terlihat sangat besar hari ini. Total volume perdagangan mencapai 56,34 miliar saham dengan nilai transaksi Rp36,10 triliun.
Frekuensi transaksi bahkan menembus 2,83 juta kali, menunjukkan aksi jual terjadi sangat aktif di hampir seluruh sektor pasar.
Secara teknikal, kembalinya IHSG ke bawah level psikologis 7.000 membuat pasar kini mulai masuk ke fase yang lebih sensitif. Area 6.900 menjadi support penting jangka pendek yang mulai diuji pasar.
Jika tekanan eksternal seperti harga minyak dan pelemahan rupiah terus berlanjut, volatilitas IHSG diperkirakan masih akan tetap tinggi dalam beberapa waktu ke depan.
Yang membuat pasar semakin gelisah adalah fakta bahwa pelemahan kali ini tidak hanya terjadi di saham, tetapi juga bersamaan dengan tekanan di nilai tukar rupiah. Kombinasi tersebut biasanya menjadi sinyal bahwa investor mulai menurunkan eksposur terhadap aset domestik secara lebih luas.(*)