KABARBURSA.COM - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada sesi I Rabu, 25 Maret 2026, memperlihatkan perubahan arah yang cukup jelas, dari tekanan ke fase penguatan. Indeks ditutup naik 92 poin atau 1,30 persen ke level 7.199, setelah sempat bergerak di rentang lebar dari 7.057 hingga menyentuh puncak intraday di 7.212.
Rentang ini menunjukkan bahwa tekanan jual masih sempat muncul di awal sesi, namun secara bertahap terserap hingga mendorong indeks kembali ke zona hijau.
Kekuatan penguatan IHSG tercermin dari breadth pasar yang dominan positif. Sebanyak 554 saham menguat, jauh melampaui 198 saham yang melemah dan 206 saham yang bergerak stagnan. Di sini, penguatan tidak hanya ditopang oleh saham berkapitalisasi besar, tetapi juga menyebar secara luas ke berbagai lapisan emiten di pasar.
Dari sisi aktivitas, likuiditas terlihat tetap terjaga dengan frekuensi transaksi mencapai 1,33 juta kali dan nilai transaksi sekitar Rp13,28 triliun hingga paruh hari. Volume yang tercatat sebesar 259,3 juta lot mengindikasikan partisipasi pasar sangat aktif, seiring meningkatnya minat beli di tengah perubahan sentimen global.
Nilai transaksi yang relatif besar pada sesi I juga memperlihatkan adanya akselerasi aktivitas dibandingkan hari-hari sebelumnya.
Saham Berkinerja Baik dan Buruk
Secara sektoral, pergerakan IHSG ditopang oleh rotasi yang cukup kuat ke sektor berbasis komoditas dan siklikal. Sektor energi menjadi penggerak utama dengan kenaikan 3,91 persen, diikuti sektor industri yang menguat 3,74 persen serta infrastruktur 2,05 persen.
Kenaikan ini sejalan dengan penguatan saham-saham energi seperti HRUM, BIPI, ITMG, PTBA, dan ADRO yang mencatat kenaikan signifikan sepanjang sesi.
Di sisi lain, tekanan masih terlihat pada beberapa sektor defensif dan berbasis pertumbuhan. Sektor teknologi mencatat penurunan terdalam sebesar 0,83 persen, diikuti sektor keuangan yang turun 0,61 persen serta bahan baku yang melemah 0,48 persen.
Pelemahan ini memperlihatkan adanya pergeseran aliran dana dari sektor tertentu menuju sektor yang lebih sensitif terhadap perubahan sentimen global, khususnya terkait energi dan geopolitik.
Pergerakan saham dalam indeks utama juga memperkuat gambaran rotasi tersebut. Di kelompok LQ45, saham-saham berbasis komoditas dan infrastruktur seperti BUMI, ASII, AMMN, ITMG, PTBA, TLKM, dan ADRO masuk dalam jajaran top gainers.
Sebaliknya, saham-saham seperti UNVR, ANTM, MDKA, EXCL, PGAS, MEDC, dan HEAL berada di sisi pelemahan, menunjukkan distribusi pergerakan yang tidak merata di antara sektor.
Dari indeks Kompas100, saham BULL, DEWA, dan RAJA mencatat kenaikan dua digit, masing-masing sebesar 15,09 persen, 13,20 persen, dan 12,32 persen. Sementara itu, tekanan terbesar datang dari BBNI yang turun 7,74 persen, diikuti PSAB dan ARCI yang masing-masing melemah 4,72 persen dan 4,06 persen.
Hal ini menunjukkan bahwa volatilitas tetap tinggi pada saham-saham tertentu meskipun indeks secara keseluruhan menguat.
Pergerakan Bursa Asia
Sentimen global menjadi salah satu pendorong utama perubahan arah pasar pada sesi ini. Bursa Asia secara umum bergerak menguat, dengan indeks Nikkei 225 naik 2,93 persen, Topix 2,64 persen, Kospi 2,09 persen, hingga Taiex yang melonjak 3,12 persen.
Penguatan ini terjadi seiring pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengindikasikan adanya proses negosiasi dengan Iran untuk mengakhiri konflik yang selama ini menjadi sumber ketidakpastian global.
Pernyataan tersebut memicu respons positif di pasar, meskipun masih disertai kehati-hatian. Informasi mengenai potensi gencatan senjata selama satu bulan dan rencana penyelesaian 15 poin menjadi faktor yang direspons pelaku pasar, meskipun belum ada kepastian terkait implementasi maupun dampaknya terhadap jalur distribusi energi global, khususnya di Selat Hormuz.
Sejalan dengan perubahan sentimen tersebut, harga minyak dunia justru mengalami penurunan tajam. Minyak Brent turun 4,7 persen ke level USD99,60 per barel, sementara WTI melemah 3,8 persen ke USD88,81 per barel.
Penurunan ini mencerminkan respons pasar terhadap potensi berkurangnya gangguan pasokan energi apabila proses negosiasi benar-benar berlanjut.
Rupiah Bergerak Stabil, Yen Melemah Tipis
Di sisi mata uang, pergerakan di kawasan Asia relatif terbatas dengan kecenderungan melemah terhadap dolar Amerika Serikat. Yen, dolar Singapura, dolar Australia, hingga yuan dan rupee tercatat mengalami pelemahan tipis, sementara rupiah bergerak stabil di kisaran 16.899 per dolar AS.
Di sini, tekanan eksternal masih ada, meskipun tidak sekuat sebelumnya.
Secara keseluruhan, sesi I perdagangan hari ini memperlihatkan kombinasi antara pemulihan sentimen global dan rotasi sektoral di dalam negeri. Penguatan indeks yang didukung oleh mayoritas saham serta sektor energi dan industri menunjukkan adanya dorongan beli yang cukup luas.
Namun, pergerakan yang masih disertai tekanan di sektor tertentu dan fluktuasi global yang belum sepenuhnya mereda membuat dinamika pasar tetap bergerak dalam rentang yang aktif hingga pertengahan hari.(*)