Logo
>

IHSG Berakhir di 7.559, Indeks Asia Bergerak Menguat

Bursa Asia reli ditopang harapan meredanya konflik AS-Iran, sementara IHSG tertahan tekanan sektor energi dan distribusi saham besar.

Ditulis oleh Yunila Wati
IHSG Berakhir di 7.559, Indeks Asia Bergerak Menguat
IHSG berakhir melemah di saat pasar Asia justru menguat karena sentimen damai dari AS-Iran. (Foto: dok KabarBursa)

KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir dalam tekanan. Indeks menutup sesi perdagangan hari ini di level 7.559, melemah 0,46 persen. Sementara, pasar Asia justru bergerak meninggalkan IHSG.

Indeks melemah di tengah aktivitas transaksi yang justru tetap ramai dengan nilai mencapai Rp17,25 triliun. Sementara, mayoritas bursa Asia justru menguat, dengan Kospi Korea Selatan melonjak hingga 2,72 persen dan mencetak rekor tertinggi baru. 

Indeks MSCI Asia di luar Jepang juga naik 1,1 persen, mencerminkan adanya aliran sentimen positif di kawasan.

Perbedaan arah ini mulai terlihat dari dalam negeri. Sektor industri menjadi penopang utama dengan kenaikan 2,58 persen, tetapi tidak cukup untuk menahan tekanan dari sektor energi yang turun lebih dari 1 persen. Saham-saham seperti ADRO, PGEO, dan ELSA menjadi pemberat, seiring pelemahan harga minyak global.

Di sisi lain, pergerakan saham unggulan juga tidak seragam. Beberapa saham seperti BRPT, GOTO, hingga AMMN masih mampu menguat, namun tekanan dari saham-saham besar seperti BBRI, TLKM, dan DSSA membuat indeks sulit bergerak naik. Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar berada dalam fase tarik-menarik yang cukup kuat.

Peluang ‘Abu-abu’ Damai AS-Iran

Dari sisi global, arah pasar Asia ditopang oleh harapan meredanya ketegangan geopolitik. Munculnya sinyal bahwa Iran masih membuka peluang untuk hadir dalam pembicaraan dengan Amerika Serikat menjadi pemicu optimisme. 

Meski demikian, situasinya belum sepenuhnya stabil, karena retorika dari kedua pihak masih menunjukkan ketegangan yang belum selesai.

Sentimen ini juga langsung tercermin pada harga komoditas, khususnya minyak. Harga Brent turun ke USD94,44 per barel, sementara WTI melemah ke USD87,95. Penurunan ini menjadi salah satu faktor yang menekan saham energi, termasuk di pasar domestik.

Rupiah Menguat Tipis, Yen Bergerak Melemah

Pergerakan mata uang di kawasan juga menunjukkan pola yang tidak seragam. Rupiah justru menguat tipis ke level 17.143 per dolar AS, sementara yen Jepang, dolar Australia, dan rupee India bergerak melemah. 

Kondisi ini mencerminkan bahwa aliran dana global masih bersifat selektif, belum sepenuhnya kembali ke aset berisiko.

Jika ditarik lebih jauh, kondisi saat ini menunjukkan bahwa IHSG tidak sepenuhnya tertinggal, tetapi sedang berada dalam fase konsolidasi di tengah perubahan sentimen global. Saat bursa Asia mulai merespons peluang meredanya konflik, pasar domestik masih menghadapi tekanan dari sektor tertentu dan distribusi pada saham-saham besar.

Di titik ini, arah IHSG terlihat lebih dipengaruhi oleh dinamika internal, sementara dorongan eksternal belum sepenuhnya mampu mengangkat indeks secara keseluruhan.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79