Logo
>

MIDI Putuskan Dividen Rp11,85, Segini Cuan yang Didapat AMRT

MIDI resmi membagikan dividen Rp11,85 per saham dengan AMRT sebagai penerima terbesar. Di saat yang sama, kinerja laba terus mencetak rekor baru dan investor asing masih aktif mengoleksi sahamnya pada awal Juni.

Ditulis oleh Yunila Wati
MIDI Putuskan Dividen Rp11,85, Segini Cuan yang Didapat AMRT
MIDI membukukan pendapatan sebesar Rp20,64 triliun, naik sekitar 3,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya. (Foto: dok MIDI)

KABARBURSA.COM - PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI) memutuskan untuk membagikan dividen tunai final sebesar Rp11,85 per saham. Di balik dividen senilai total Rp396,2 miliar tersebut, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) selaku pemegang saham pengendali, akan mendapatkan cuan besar.

Dengan kepemilikan mayoritas di MIDI, Alfamart akan menerima sekitar Rp305,4 miliar dari pembagian dividen tersebut. Sementara itu, investor publik memperoleh porsi sekitar Rp88,1 miliar dan sisanya didistribusikan kepada pemegang saham lain sesuai porsi kepemilikannya.

Fundamental Tumbuh Solid

Namun yang membuat keputusan dividen ini menarik bukan hanya besarnya dana yang diterima AMRT, melainkan kondisi fundamental MIDI yang memang sedang berada dalam fase pertumbuhan yang cukup solid.

Sepanjang tahun buku 2025, MIDI membukukan pendapatan sebesar Rp20,64 triliun, naik sekitar 3,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan memang terlihat moderat, terutama jika dibandingkan dengan ekspansi ritel pascapandemi. Namun, kemampuan perusahaan mengubah pertumbuhan penjualan menjadi laba menunjukkan adanya peningkatan efisiensi operasional yang cukup signifikan.

Laba bersih tahun 2025 mencapai Rp792,36 miliar, melonjak sekitar 45 persen dibandingkan laba tahun 2024 yang sebesar Rp546,41 miliar. Kenaikan ini membuktikan bahwa perusahaan berhasil mengendalikan biaya dan memperbaiki profitabilitas bisnisnya.

Tren tersebut ternyata tidak berhenti saat memasuki tahun 2026.

Laporan kuartal pertama 2026 menunjukkan bahwa pendapatan MIDI mencapai Rp5,88 triliun. Angka ini meningkat sekitar 6,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp5,53 triliun.

Lebih menarik lagi, laba bersih kuartal pertama 2026 mencapai Rp266 miliar, naik sekitar 53,8 persen dibanding laba bersih kuartal pertama 2025 yang sebesar Rp173 miliar. Dengan kata lain, laju pertumbuhan laba masih lebih cepat dibanding pertumbuhan pendapatan.

Dari sisi operasional, perbaikan terlihat hampir di seluruh lini laporan keuangan. Laba usaha meningkat menjadi Rp343 miliar dibanding Rp245 miliar pada kuartal pertama 2025. Laba sebelum pajak naik menjadi Rp337 miliar dari Rp234 miliar. Sementara laba komprehensif juga tumbuh menjadi Rp266 miliar dibanding Rp173 miliar setahun sebelumnya.

Kinerja tersebut tercermin pada berbagai rasio profitabilitas yang terus membaik. Return on Assets (ROA) kuartal pertama 2026 naik menjadi 2,75 persen dari 2,00 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya. 

Return on Equity (ROE) meningkat menjadi 5,52 persen dari 4,41 persen. Sementara Return on Capital Employed (ROCE) naik menjadi 6,48 persen dari 4,94 persen.

Perbaikan yang paling menarik terlihat pada kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban bunga. Interest Coverage Ratio melonjak menjadi 31,63 kali dibanding 19,65 kali pada kuartal pertama 2025. Artinya, posisi keuangan MIDI semakin sehat dan fleksibel untuk ekspansi di masa depan.

Kinerja tersebut juga membuat valuasi MIDI terlihat semakin menarik. EPS kuartalan meningkat menjadi 7,94 dibanding 5,69 pada periode yang sama tahun lalu. Sementara Price to Sales Ratio turun menjadi 1,72 kali dari 2,06 kali, mengindikasikan bahwa pertumbuhan kinerja mulai mengejar valuasi pasar.

Saham Tertekan, Asing Masuk Kuat

Meski demikian, pasar saham tidak selalu bergerak lurus mengikuti fundamental.

Pergerakan saham MIDI pada awal Juni justru memperlihatkan dinamika yang cukup menarik. Pada 2 Juni, saham ini melonjak 10,95 persen ke level 304 dengan nilai transaksi mencapai Rp21,79 miliar. Lonjakan tersebut menjadi sinyal bahwa pasar mulai merespons positif prospek perusahaan.

Namun euforia itu tidak bertahan lama. Pada 3 Juni, saham terkoreksi 5,26 persen ke level 288. Koreksi berlanjut pada 4 Juni dengan penurunan tipis 0,69 persen ke level 286.

Menariknya, tekanan tersebut tidak diikuti keluarnya dana asing. Justru sebaliknya.

Pada 2 Juni, investor asing membukukan net buy Rp2,36 miliar. Pada 3 Juni, net buy asing meningkat menjadi Rp2,47 miliar. Bahkan pada 4 Juni, ketika harga kembali melemah, asing masih mencatatkan net buy Rp473,96 juta.

Artinya, selama tiga hari perdagangan berturut-turut, investor asing tetap melakukan akumulasi dengan total net buy sekitar Rp5,3 miliar.

Pada perdagangan 5 Juni, MIDI mulai menunjukkan tanda stabilisasi dengan kenaikan 1,40 persen ke level 290. Meskipun nilai transaksi turun menjadi Rp5,29 miliar, harga berhasil bertahan di atas area psikologis 280 yang sebelumnya menjadi zona support penting.

Dari sudut pandang pasar, kombinasi antara pertumbuhan laba yang kuat, pembagian dividen tunai, dan akumulasi asing yang masih berlangsung menjadi faktor yang patut diperhatikan. Memang belum ada sinyal bahwa saham MIDI akan bergerak agresif dalam waktu dekat. 

Namun data menunjukkan bahwa fundamental perusahaan sedang membaik, sementara investor asing belum meninggalkan saham ini.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79