Logo
>

IHSG di Puncak Sejarah, Reli Mulai Kehilangan Tenaga dan Pasar Masuk Fase Konsolidasi

Rekor baru IHSG di awal 2026 memicu aksi ambil untung, sinyal teknikal melemah, dan pasar mulai memasuki fase konsolidasi jangka pendek.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
IHSG di Puncak Sejarah, Reli Mulai Kehilangan Tenaga dan Pasar Masuk Fase Konsolidasi
IHSG mencetak rekor tertinggi, namun sinyal teknikal menunjukkan reli mulai melemah dan pasar berpotensi masuk fase konsolidasi jangka pendek. Foto: Dok. KabarBursa

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM — Reli Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG kembali menjadi bahan perbincangan pelaku pasar setelah mencetak rekor tertinggi baru pada awal perdagangan Januari 2026. Kenaikan yang terjadi dalam waktu relatif singkat membuat sebagian ritel mulai menimbang ulang posisi di tengah sinyal teknikal yang mulai kehilangan tenaga.

    Dalam publikasi Monitor Market edisi 7 Januari 2026, Republik Investor mencatat IHSG kemarin ditutup menguat 74,42 poin atau 0,84 persen ke level 8.933,61, dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp16.145 triliun dan net foreign buy sebesar Rp911,41 miliar. Namun reli tersebut justru memunculkan potensi konsolidasi jangka pendek yang patut dicermati oleh trader ritel.

    Setelah reli kuat dan mendekati area resistance psikologis, tekanan ambil untung dinilai mulai meningkat. Kondisi ini membuat pasar tidak lagi bergerak agresif seperti awal pekan, melainkan cenderung mencari keseimbangan baru.

    “IHSG diperkirakan bergerak cenderung terkoreksi tipis atau konsolidatif pada perdagangan Rabu, 7 Januari 2026, setelah reli kuat dan mencetak rekor tertinggi baru sebelumnya,” tulis Founder Republik Investor, Hendra Wardana,

    Secara teknikal, pergerakan IHSG dinilai sudah cukup jauh dari rata-rata jangka pendeknya. Kondisi ini kerap menjadi fase transisi, ketika pasar membutuhkan waktu untuk mengonsolidasikan kenaikan sebelum menentukan arah lanjutan.

    Republik Investor mencatat bahwa meski tren jangka menengah masih berada dalam bias naik, sinyal pelemahan momentum mulai terlihat dari indikator teknikal. Situasi ini mendorong pelaku pasar untuk lebih selektif, terutama bagi trader yang mengandalkan pergerakan jangka pendek.

    “Kenaikan signifikan pada sesi awal pekan mendorong indeks ke area resistance psikologis, sehingga peluang profit taking meningkat menjelang pembukaan pasar berikutnya,” tulis Hendra.

    Di sisi sentimen, kehati-hatian juga dipengaruhi oleh agenda data ekonomi global dan domestik. Pasar menanti rilis data tenaga kerja Amerika Serikat serta indikator domestik yang dapat memengaruhi arah kebijakan moneter lanjutan.

    Dari sisi aktivitas investor, arus dana asing masih menunjukkan minat pada pasar saham Indonesia. Namun distribusinya tidak merata di seluruh sektor, melainkan terkonsentrasi pada saham-saham tertentu dengan nilai transaksi besar.

    Dalam daftar Movers (Top Value), saham-saham seperti BUMI, DEWA, RAJA, hingga saham perbankan besar seperti BMRI dan BBCA tercatat aktif diperdagangkan. Di sisi lain, sektor teknologi dan basic industry mencatatkan penguatan yang relatif menonjol, sementara sektor lain bergerak lebih terbatas.

    Kondisi ini memperlihatkan bahwa reli IHSG tidak sepenuhnya bersifat broad-based. Bagi trader ritel, situasi semacam ini kerap menjadi sinyal untuk lebih berhati-hati dalam mengejar harga, terutama pada saham-saham yang sudah bergerak cukup jauh.

    Sentimen Global Ikut Menopang, Tapi Tetap Rapuh

    Dari sisi eksternal, penguatan pasar juga ditopang oleh sentimen global. Penguatan rupiah ke kisaran Rp16.636 per dolar AS menjadi salah satu faktor penopang, seiring meningkatnya perhatian pasar terhadap kandidat Ketua The Fed baru yang diperkirakan lebih dovish terhadap suku bunga.

    Selain itu, sentimen global turut didorong oleh rencana stimulus properti China serta perkembangan positif dalam upaya perdamaian Rusia–Ukraina. Meski demikian, Republik Investor menilai sentimen tersebut masih bersifat rapuh dan mudah berubah.

    “Penguatan rupiah turut ditopang sentimen global, seperti rencana stimulus properti China dan perkembangan positif dalam upaya perdamaian Rusia–Ukraina,” tulis laporan News & Economic Event yang dikutip Republik Investor.

    Bagi pasar domestik, sentimen global yang berubah cepat dapat menjadi faktor pemicu volatilitas lanjutan, terutama ketika indeks sudah berada di level tinggi.

    Publikasi Republik Investor menegaskan pendekatan yang digunakan dalam Monitor Market bersifat trading-oriented. Fokus utamanya adalah membaca momentum teknikal, sentimen jangka pendek, dan manajemen risiko, bukan menyusun tesis investasi jangka panjang.

    Republik Investor secara eksplisit mengingatkan seluruh analisis dan rekomendasi bersifat non-mengikat dan berbasis data teknikal maupun fundamental. “Trading dan Investasi saham adalah instrumen investasi yang berisiko tinggi, sebelum memulai pastikan anda sudah memahami risiko di dalamnya,” tulis Republik Investor.

    Bagi investor ritel, pesan utama dari publikasi ini bukanlah soal saham mana yang harus dibeli, melainkan bagaimana membaca konteks pasar secara lebih utuh. Reli indeks yang kuat tidak selalu berarti ruang naik masih lebar, terutama ketika sinyal konsolidasi mulai muncul.

    Dengan IHSG berada di level tertinggi sepanjang sejarah, pasar memasuki fase yang menuntut kedisiplinan lebih tinggi dari pelaku ritel. Potensi keuntungan tetap terbuka, tetapi risiko koreksi jangka pendek juga tidak bisa diabaikan.

    Laporan Republik Investor memberi gambaran bahwa pasar saat ini berada di persimpangan antara melanjutkan tren naik atau mengambil jeda untuk bernapas. Bagi trader ritel, memahami fase ini menjadi krusial agar tidak terjebak euforia semata.

    Disclaimer:
    Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Moh. Alpin Pulungan

    Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

    Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).