KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan Rabu, 11 Maret 2026. Indeks turun 51,51 poin atau 0,69 persen ke level 7.389,40. Sepanjang sesi perdagangan, IHSG sempat bergerak di level tertinggi 7.527,32 sebelum terkoreksi hingga level terendah di 7.380,81.
Aktivitas transaksi di pasar saham terpantau cukup ramai. Total volume perdagangan di seluruh pasar mencapai 317,46 juta lot dengan nilai transaksi sebesar Rp14,85 triliun dari sekitar 1,84 juta kali transaksi. Sementara itu, pada pasar reguler tercatat volume perdagangan sebesar 279,08 juta lot dengan nilai Rp12,65 triliun dari frekuensi transaksi yang sama, yakni 1,84 juta kali.
Di tengah pelemahan indeks, sejumlah saham masuk dalam daftar 10 saham dengan kinerja terburuk atau top losers pada perdagangan hari ini. Penurunan harga terjadi di berbagai sektor mulai dari konsumer, industri, energi hingga media.
Saham PT Wilmar Cahaya Indonesia Tbk (CEKA) menjadi salah satu yang mencatat penurunan terdalam. Emiten yang bergerak di sektor barang konsumsi non-primer khususnya pengolahan minyak nabati tersebut turun 120 poin atau 5,06 persen ke level 2.250 dengan nilai transaksi sekitar Rp389,44 juta. Perusahaan ini dikenal sebagai produsen minyak nabati dan produk turunan yang banyak digunakan di industri makanan.
Penurunan juga terjadi pada saham PT Intermedia Capital Tbk (MDIA) yang bergerak di sektor media dan penyiaran. Saham MDIA turun 3 poin atau 5,00 persen ke level 57 dengan nilai transaksi sekitar Rp2,34 miliar. Emiten ini merupakan perusahaan yang mengelola jaringan televisi nasional dan bisnis media digital.
Saham PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA), perusahaan yang bergerak di sektor konstruksi dan infrastruktur, juga mengalami koreksi. Harga saham NRCA turun 30 poin atau 5,00 persen ke posisi 570 dengan nilai transaksi sekitar Rp2,57 miliar. Perusahaan ini dikenal sebagai kontraktor yang mengerjakan berbagai proyek pembangunan gedung dan infrastruktur di Indonesia.
Tekanan jual juga terjadi pada saham PT Integra Indocabinet Tbk (WOOD) yang bergerak di sektor industri manufaktur furnitur dan produk kayu. Saham WOOD terkoreksi 16 poin atau 4,94 persen menjadi 308 dengan nilai transaksi sekitar Rp2,62 miliar. Emiten ini dikenal sebagai salah satu produsen furnitur ekspor yang cukup besar di Indonesia.
Saham PT Hensel Davest Indonesia Tbk (HDIT) turut melemah 3 poin atau 4,92 persen ke level 58 dengan nilai transaksi sekitar Rp697,58 juta. Perusahaan ini bergerak di sektor teknologi dan digital yang berfokus pada pengembangan platform teknologi serta investasi digital.
Koreksi juga terjadi pada saham PT Radana Bhaskara Finance Tbk (HDFA) yang bergerak di sektor jasa keuangan dan pembiayaan. Saham HDFA turun 5 poin atau 4,90 persen menjadi 97 dengan nilai transaksi sekitar Rp64,97 juta. Perusahaan ini menyediakan layanan pembiayaan kendaraan dan pembiayaan konsumen.
Sementara itu saham PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) yang merupakan salah satu emiten besar di sektor industri pulp dan kertas juga masuk dalam daftar saham dengan penurunan terbesar. Harga saham INKP turun 475 poin atau 4,90 persen menjadi 9.225 dengan nilai transaksi mencapai Rp84,02 miliar. Perusahaan ini merupakan produsen pulp dan kertas yang produknya dipasarkan baik di dalam negeri maupun pasar ekspor.
Di sektor energi, saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) yang bergerak di bidang jasa pengeboran minyak dan gas turun 10 poin atau 4,76 persen ke level 200 dengan nilai transaksi sekitar Rp13,62 miliar. Perusahaan ini menyediakan layanan rig pengeboran untuk industri migas.
Penurunan serupa terjadi pada saham PT Merry Riana Edukasi Tbk (MERI) yang bergerak di sektor pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia. Saham MERI turun 7 poin atau 4,76 persen ke level 140 dengan nilai transaksi sekitar Rp1,12 miliar.
Sementara itu saham PT Sarana Mitra Luas Tbk (SMIL) yang bergerak di sektor logistik dan penyewaan peralatan material handling juga mengalami koreksi. Saham SMIL turun 12 poin atau 4,76 persen ke level 240 dengan nilai transaksi sekitar Rp2,68 miliar.
Pergerakan saham-saham tersebut terjadi seiring dengan tekanan pada IHSG yang masih bergerak fluktuatif sepanjang sesi perdagangan. Dalam laporan riset harian yang dirilis MNC Sekuritas pada 11 Maret 2026, pergerakan indeks disebut masih berada dalam fase konsolidasi setelah sebelumnya mengalami penguatan. Analis memandang pasar masih berpotensi mengalami koreksi lanjutan dengan area yang perlu dicermati berada di sekitar level 7.140, sementara peluang penguatan indeks berikutnya diperkirakan berada pada kisaran 7.573 hingga 7.701.(*)