KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir menguat pada perdagangan hari ini setelah ditutup di level 8.407,94, naik 46,01 poin atau setara 0,55 persen pada Rabu, 18 November 2025.
Sepanjang sesi, IHSG bergerak dinamis dan sempat menyentuh level tertinggi di 8.426,63 sebelum terkoreksi ke level terendah di 8.375,58. Total transaksi pasar mencapai 417,14 juta lot dengan nilai perdagangan Rp27,46 triliun dari 2,18 juta transaksi.
Di tengah penguatan indeks, sejumlah saham justru menempati posisi terlemah dan masuk daftar 10 top losers. Tekanan jual paling besar berasal dari saham-saham berkapitalisasi kecil hingga menengah, terutama dari sektor jasa keuangan, real estat, ritel, dan industri presisi.
Isra Presisi Indonesia Tbk (ISAP) menjadi salah satu saham yang mengalami tekanan signifikan setelah turun 3,03 persen ke harga 32 dengan nilai transaksi Rp1,53 miliar.
Saham jasa pembiayaan Clipan Finance Indonesia Tbk (CFIN) juga melemah 2,99 persen ke posisi 324 dengan nilai transaksi Rp2,15 miliar.
Dari sektor properti, Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) terkoreksi 2,96 persen menjadi 164 dengan total nilai perdagangan Rp4,37 miliar. Sementara itu, emiten teknologi Global Digital Niaga Tbk (BELI) turun 2,95 persen ke level 460 setelah tekanan jual meningkat, membukukan nilai transaksi Rp5,54 miliar.
Asia Pramulia Tbk (ASPR) terkoreksi 2,94 persen menjadi 99, diikuti Jantra Grupo Indonesia Tbk (KAQI) yang turun 2,94 persen ke level 66. Emiten ritel makanan Supra Boga Lestari Tbk (RANC) turut melemah 2,91 persen ke harga 1.000 dengan nilai transaksi Rp1,17 miliar.
Di sektor media dan teknologi radar, Utama Radar Cahaya Cemerlang Tbk (RCCC) merosot 2,86 persen ke level 204. Sementara itu, Agro Bahari Nusantara Tbk (UDNG) turun 2,83 persen ke posisi 3.430 dengan nilai transaksi Rp8,38 miliar.
Penurunan juga terjadi pada saham Woori Finance Indonesia Tbk (BPFI) yang melemah 3,09 persen ke harga 314 dengan nilai transaksi Rp630,46 juta.
Kendati indeks bergerak positif, pelemahan pada saham-saham tersebut menunjukkan investor masih selektif dalam mengambil posisi, terutama pada sektor-sektor yang sensitif terhadap fluktuasi suku bunga dan sentimen global. (*)