KABARBURSA.COM – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih dibayangi volatilitas pada perdagangan pekan ini, 11-13 Mei 2026, seiring tekanan rebalancing indeks global Morgan Stanley Capital International ( MSCI) dan ketidakpastian kebijakan royalti sektor tambang yang terus membebani sentimen pasar.
Perdagangan pasar pekan ini juga hanya berlangsung 3 hari. Lantaran 14 dan 15 Mei 2026 hari peringatan kenaikan Isa Almasih dan cuti bersama.
Dalam perdagangan sepekan sebelumnya, 4-8 Mei 2026, IHSG mencatat penguatan tipis sebesar 0,18 persen. Meski sempat menguat selama tiga hari berturut-turut, laju indeks cenderung sideways akibat tarik-menarik sentimen positif global dan tekanan regulasi domestik.
Penguatan IHSG pada awal pekan ditopang oleh meredanya tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, serta rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,61 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Angka tersebut melampaui ekspektasi pasar dan memperkuat keyakinan investor terhadap fundamental ekonomi domestik.
Namun momentum penguatan itu terhenti pada Jumat, 8 Mei 2026, setelah pasar merespons negatif usulan kenaikan tarif royalti mineral yang diumumkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Kebijakan tersebut memicu aksi jual pada saham-saham sektor pertambangan dan energi sehingga memangkas sebagian besar penguatan indeks sepanjang pekan.
Tekanan pasar juga masih datang dari investor asing. Sepanjang pekan lalu, investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih atau net sell sebesar Rp2,4 triliun di pasar reguler. Kondisi itu menunjukkan penguatan IHSG lebih banyak ditopang oleh aliran dana domestik.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Hari Rachmansyah mengatakan, perdagangan pekan ini berpotensi bergerak mixed dengan ruang penguatan yang terbatas karena hanya berlangsung selama tiga hari perdagangan menjelang libur nasional dan cuti bersama Kenaikan Yesus Kristus pada 14-15 Mei 2026.
“Rebalancing MSCI Indonesia yang dijadwalkan pada 12 Mei 2026 kemungkinan tidak menghadirkan pendatang baru, namun tetap berpotensi memicu pergeseran bobot saham yang dapat mempengaruhi arah pergerakan pasar secara keseluruhan,” ujar Hari dalam pernyataan resmi Senin, 11 Mei 2026.
Ia menjelaskan, dari sisi global, pasar juga masih dibayangi sejumlah dinamika geopolitik. Salah satunya datang dari Presiden Rusia Vladimir Putin yang menyatakan keyakinannya bahwa perang Ukraina akan segera berakhir. Pernyataan tersebut muncul hanya beberapa jam setelah Putin menegaskan tekad kemenangan Rusia dalam pidato Hari Kemenangan di Moskow.
Selain itu, kekhawatiran terkait potensi wabah hantavirus dinilai belum terlalu memengaruhi pasar. Berdasarkan data platform prediksi Kalshi, probabilitas wabah hantavirus menjadi ancaman serius tahun ini hanya sebesar 21 persen.
Di sisi lain, perhatian investor global kini tertuju pada rencana pertemuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping. Menurut Hari, isu perang Iran diperkirakan akan mendominasi agenda pembahasan kedua pemimpin tersebut.
“Kondisi ini berpotensi mempersempit ruang negosiasi untuk isu-isu krusial lainnya seperti tarif perdagangan dan pasokan rare earth,” kata Hari.
Sementara dari dalam negeri, pasar juga menyoroti perkembangan kebijakan sektor minerba. Kementerian ESDM telah menggelar public hearing pada 8 Mei 2026 terkait usulan perubahan tarif royalti komoditas tembaga, timah, nikel, emas, dan perak. Kebijakan tersebut ditargetkan mulai berlaku pada Juni 2026.
Hari menilai emas menjadi komoditas dengan kenaikan tarif paling signifikan secara persentase di batas bawah hingga mencapai 100 persen. Kondisi itu memberi tekanan tambahan di tengah harga emas global yang masih berada di level tinggi.
Sementara itu, timah dinilai menjadi komoditas yang paling terpukul secara keseluruhan karena kenaikan tarif terjadi pada kedua ujung rentang royalti sekaligus.
Menurut Hari, tekanan terhadap sektor minerba juga berpotensi semakin besar karena pemerintah masih mengkaji penerapan bea ekspor dan windfall tax untuk subsektor nikel dan batu bara.
“Volatilitas sektor minerba secara keseluruhan berpotensi bertahan dalam jangka pendek,” ucapnya.
IPOT menilai pergerakan IHSG pekan ini masih cenderung terbatas dengan potensi rotasi portofolio pada saham-saham berkapitalisasi besar akibat rebalancing MSCI.(*)