KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ternyata belum mampu keluar dari tekanan. Pada sesi I perdagangan Selasa, 28 April 2026, indeks terpaksa kehilangan 10 poin atau turun 0,15 persen ke level 7.095.
Padahal, aktivitas transaksi yang tetap tinggi dengan nilai mencapai Rp85,94 triliun dari volume 171,7 juta lot saham.
Tekanan terhadap indeks datang dari sejumlah saham berkapitalisasi besar, salah satunya PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO). Saham yang masuk dalam jajaran top losers LQ45 ini terkoreksi 3,19 persen ke level 2.430. ADRO bergerak turun dari harga pembukaan yang sama dan sempat menyentuh level terendah di 2.410 sepanjang sesi.
Dalam data orderbooknya, terlihat tekanan jual yang lebih dominan dibandingkan permintaan. Total antrean jual mencapai 281.163 lot dengan frekuensi 4.385 kali. Angka ini lebih tinggi dibandingkan antrean beli sebesar 272.578 lot dengan frekuensi 6.269 kali.
Pada level harga terdekat, bid berada di 2.430 sementara offer di 2.440. Ada jarak harga yang masih tipis namun dengan volume jual yang lebih tebal di atasnya.
Pelemahan ADRO terjadi seiring dengan tekanan yang juga terlihat pada sejumlah saham besar lain seperti AMRT, AMMN, ISAT, hingga TLKM. Kondisi inilah yang kemudian membatasi ruang penguatan IHSG.
Di sisi lain, sektor industri justru menjadi penopang utama dengan kenaikan 0,97 persen, didorong lonjakan saham INDS sebesar 12,37 persen. Namun, penguatan ini belum cukup untuk mengimbangi tekanan dari sektor konsumen non-primer yang turun 1,19 persen, dengan saham-saham seperti MYOR, UNVR, dan ICBP bergerak melemah.
Bursa Asia Beragam
Pergerakan pasar domestik berjalan seiring dengan dinamika bursa Asia yang cenderung beragam. Indeks Nikkei 225 di Jepang turun 0,89 persen, sementara Topix justru menguat 0,94 persen.
Di China, indeks Shanghai turun tipis 0,07 persen dan Shenzhen melemah 0,41 persen, sedangkan CSI 300 mencatat kenaikan marginal 0,06 persen.
Di kawasan lain, indeks Hang Seng Hong Kong turun 0,67 persen, sementara Kospi Korea Selatan naik 0,84 persen dan Taiex Taiwan menguat 0,36 persen. S&P/ASX 200 Australia juga tercatat melemah 0,62 persen, mencerminkan sentimen yang belum seragam di kawasan.
Pergerakan ini terjadi di tengah perhatian pasar terhadap perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Proposal Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dengan syarat pencabutan sanksi menjadi salah satu faktor yang dipantau pelaku pasar global, meskipun belum ada kepastian terkait arah kebijakan selanjutnya.
Rupiah Melemah, Yen Terus Menguat
Di pasar mata uang, tekanan terhadap sejumlah mata uang Asia masih terlihat. Rupiah melemah 0,20 persen ke level 17.245 per dolar AS, sejalan dengan pelemahan rupee India sebesar 0,24 persen dan baht Thailand yang turun 0,36 persen.
Dolar Singapura dan dolar Australia juga mencatat pelemahan tipis masing-masing 0,05 persen dan 0,08 persen.
Sebaliknya, yen Jepang menguat 0,19 persen ke level 159,11 per dolar AS, sementara ringgit Malaysia naik 0,08 persen. Yuan China tercatat melemah tipis 0,03 persen, menunjukkan pergerakan yang relatif terbatas dibandingkan mata uang lain di kawasan.
Dengan kombinasi tekanan pada saham-saham besar domestik, pergerakan bursa Asia yang tidak seragam, serta fluktuasi mata uang regional, IHSG pada sesi pertama perdagangan hari ini bergerak dalam ruang yang terbatas dengan kecenderungan melemah.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.