KABARBURSA.COM – Aktivitas pasar modal nasional pada pekan 8-12 Desember 2025, diwarnai sejumlah pencatatan baru saham dan instrumen utang, seiring dengan kinerja perdagangan yang tetap solid.
Bursa Efek Indonesia (BEI) membuka perdagangan Senin, 8 Desember 2025, dengan pencatatan perdana saham PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) di Papan Pengembangan.
RLCO menjadi perusahaan tercatat ke-25 di BEI sepanjang 2025 dengan total dana yang dihimpun sebesar Rp105 miliar. Perusahaan ini bergerak di bidang pengolahan dan pencucian sarang burung walet serta perdagangan produk kesehatan melalui entitas anak.
Pencatatan tersebut menambah jumlah emiten baru yang masuk ke pasar modal di tengah kondisi perdagangan yang masih terjaga positif.
P.H. Sekretaris Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia, I Gusti Agung Alit Nityaryana, menyampaikan bahwa pencatatan emiten baru mencerminkan minat korporasi untuk memanfaatkan pasar modal sebagai sumber pendanaan jangka panjang.
Menurutnya, aktivitas tersebut berlangsung seiring dengan membaiknya likuiditas dan kepercayaan investor di bursa domestik.
“Pencatatan saham RLCO menunjukkan bahwa pasar modal tetap menjadi alternatif pendanaan yang relevan, termasuk bagi perusahaan yang bergerak di sektor pengolahan dan kesehatan,” ujarnya dalam siaran pers resmi, dikutip Minggu, 14 Desember 2025.
Selain saham, BEI juga mencatatkan instrumen surat utang baru. Pada Rabu, 10 Desember 2025, Obligasi Berkelanjutan I Merdeka Battery Materials Tahap III Tahun 2025 dan Sukuk Mudharabah Berkelanjutan I Merdeka Battery Materials Tahap III Tahun 2025 resmi tercatat dengan nilai masing-masing Rp2,10 triliun dan Rp1 triliun.
Kedua instrumen tersebut memperoleh peringkat idA dan idA(sy) dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO), dengan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk bertindak sebagai wali amanat.
Pencatatan berlanjut pada Kamis, 11 Desember 2025. PT Pollux Hotels Group Tbk (POLI) mencatatkan Obligasi Terkait Keberlanjutan I Tahun 2025 senilai Rp500 miliar. Obligasi ini memperoleh peringkat idAAA(cg) dari PEFINDO dengan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk sebagai wali amanat.
Pada hari yang sama, BEI juga mencatatkan Obligasi Berkelanjutan IV dan Sukuk Mudharabah Berkelanjutan II Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry Tahap I Tahun 2025.
Masing-masing instrumen bernilai Rp500 miliar dan memperoleh peringkat idA serta idA(sy) dari PEFINDO. Wali amanat kembali dipegang oleh PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk.
I Gusti Agung Alit Nityaryana menjelaskan, hingga akhir 2025 total emisi obligasi dan sukuk yang tercatat di BEI mencapai 173 emisi dari 79 emiten dengan nilai Rp204,55 triliun.
“Secara kumulatif, BEI telah mencatatkan 660 emisi dengan nilai outstanding Rp540,21 triliun dan USD134,01 juta dari 137 emiten,” ungkap dia.
Di luar itu, lanjutnya, terdapat 191 seri Surat Berharga Negara senilai Rp6.423,84 triliun dan USD352,10 juta serta tujuh emisi Efek Beragun Aset senilai Rp2,13 triliun.
Dari sisi pengembangan ekosistem, BEI bersama Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pada Rabu, 10 Desember 2025, menyelenggarakan KreatIPO Workshop Go Public Usaha Ekonomi Kreatif di Bandung. Kegiatan ini diikuti pelaku dan pendiri usaha kreatif dari berbagai subsektor di Jawa Barat, dengan fokus peningkatan pemahaman akses pendanaan melalui pasar modal.
Kinerja IHSG Sepekan
Sementara itu, kinerja perdagangan saham BEI sepanjang pekan 8–12 Desember 2025 ditutup menguat.
Pada awal pekan, IHSG dan kapitalisasi pasar BEI mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah, masing-masing di level 8.710,695 dan Rp16.004 triliun.
Rata-rata nilai transaksi harian meningkat 41,95 persen menjadi Rp30,29 triliun. Rata-rata volume transaksi harian naik 27,92 persen menjadi 59,35 miliar saham, sedangkan frekuensi transaksi harian bertambah 20,16 persen menjadi 3,2 juta kali.
IHSG secara mingguan naik 0,32 persen ke level 8.660,499, dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp15.882 triliun.
Investor asing pada periode tersebut mencatatkan beli bersih Rp282,27 miliar, sementara secara tahun berjalan masih membukukan jual bersih Rp25,67 triliun. (*)