KABARBURSA.COM – Volatilitas pasar saham diperkirakan masih tinggi sepanjang perdagangan 8-12 Juni 2026. Tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), pelemahan rupiah yang telah menembus Rp18.000 per dolar Amerika Serikat, serta derasnya arus keluar modal asing membuat investor diminta lebih selektif dalam menentukan strategi investasi.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Hari Rachmansyah, menilai pasar masih akan menghadapi berbagai sentimen penting dari dalam maupun luar negeri yang berpotensi memengaruhi pergerakan aset berisiko.
Dari sisi global, investor akan mencermati rilis data inflasi Amerika Serikat atau Consumer Price Index (CPI) Mei yang dijadwalkan pada Rabu, 10 Juni 2026. Data tersebut akan menjadi salah satu acuan utama arah kebijakan Federal Reserve melalui proyeksi suku bunga atau dot plot FOMC. Sehari kemudian, pasar juga akan menunggu data Producer Price Index (PPI) serta laporan keuangan perusahaan teknologi besar seperti Oracle dan Adobe.
Selain itu, perhatian pasar global juga tertuju pada penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) SpaceX yang dijadwalkan melakukan penetapan harga pada 11 Juni dan mulai diperdagangkan di Nasdaq pada 12 Juni.
"Puncaknya, SpaceX dijadwalkan melakukan pricing pada 11 Juni dan mulai diperdagangkan pada 12 Juni sebuah event yang berpotensi menjadi liquidity event terbesar dalam sejarah dan dapat memperparah volatilitas jangka pendek, terutama jika data CPI kembali mengejutkan di atas ekspektasi dan memperkuat narasi higher-for-longer The Fed," kata Hari pada Senin, 8 Juni 2026.
Dari dalam negeri, pasar akan mencermati sejumlah indikator ekonomi yang berpotensi memengaruhi arah IHSG. Mulai dari data cadangan devisa Mei 2026 yang dirilis pada Senin, 8 Juni, indeks keyakinan konsumen pada Rabu, 10 Juni, hingga data penjualan ritel April pada Kamis, 11 Juni.
Menurut Hari, data-data tersebut akan menjadi gambaran awal mengenai kondisi daya beli masyarakat dan ketahanan eksternal Indonesia di tengah pelemahan rupiah. Pasar juga akan mengamati kemampuan Bank Indonesia menjaga stabilitas nilai tukar setelah mata uang domestik menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Di saat yang sama, dampak rebalancing FTSE Russell yang akan efektif pada 22 Juni 2026 dinilai masih berpotensi menambah tekanan di pasar. Proses penyesuaian portofolio yang memicu aksi jual paksa atau forced selling disebut belum sepenuhnya selesai dan masih dapat membebani sejumlah saham.
Hari menilai kondisi pasar saat ini masih menunjukkan tekanan yang cukup besar dari sisi fundamental.
"Secara fundamental, IHSG masih berada dalam tekanan yang cukup berat memasuki pekan 8–12 Juni 2026, dimana kombinasi inflasi Mei yang melampaui ekspektasi (3,08% yoy), Rupiah yang telah menembus Rp18.000, dan total net foreign sell year to date yang telah mencapai Rp60,8 triliun mencerminkan erosi kepercayaan investor yang sistemik," ujarnya.
Karena itu, investor disarankan lebih mengutamakan perlindungan modal dibanding mengejar keuntungan jangka pendek. Menurut Hari, tren bearish masih mendominasi dan belum terlihat sinyal pembalikan arah yang kuat.
Ia mengingatkan investor untuk mengurangi eksposur pada saham berkapitalisasi kecil dan menengah yang memiliki likuiditas terbatas serta menghindari strategi averaging down secara agresif sebelum terdapat tanda-tanda stabilisasi rupiah dan pembentukan dasar harga yang lebih jelas.
"Bagi investor jangka menengah, manfaatkan momentum ini untuk selektif mencermati saham-saham big caps di sektor perbankan dan consumer staples yang valuasinya sudah sangat atraktif secara historis, namun tetap masuk secara bertahap dengan alokasi porsi kecil sembari menunggu kepastian arah kebijakan moneter BI," kata Hari.
Di tengah kondisi pasar yang masih penuh tekanan, IPOT tetap melihat sejumlah peluang trading jangka pendek. Untuk pekan ini, perusahaan sekuritas tersebut merekomendasikan saham PT Timah Tbk (TINS), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Ketrosden Triasmitra Tbk (KETR).
TINS direkomendasikan beli pada harga Rp3.150 dengan target Rp3.340 dan batas kerugian atau stop loss di Rp3.050. Menurut IPOT, saham emiten tambang timah tersebut mampu bertahan di atas area support dan masih bergerak di atas rata-rata pergerakan jangka pendek.
Sementara itu, saham CUAN direkomendasikan beli pada harga Rp675 dengan target Rp715 dan stop loss di Rp655. Saham milik grup Prajogo Pangestu itu dinilai berpotensi mengalami pembalikan arah atau reversal sekaligus membentuk tren naik baru.
Adapun KETR direkomendasikan beli pada harga Rp560 dengan target Rp600 dan stop loss Rp540. Saham ini dinilai masih menunjukkan pola uptrend meski bergerak cukup fluktuatif dalam beberapa waktu terakhir.
Selain saham individual, IPOT juga merekomendasikan produk reksa dana berbentuk Exchange Traded Fund (ETF), yakni Premier ETF IDX High Dividend 20 (XIHD). Produk tersebut dinilai menarik karena portofolionya didominasi saham-saham dengan dividen tinggi yang berpotensi menjadi pilihan defensif di tengah meningkatnya volatilitas pasar.
Menurut IPOT, tren pembagian dividen yang mulai ramai dilakukan emiten dapat menjadi katalis positif bagi kinerja XIHD sekaligus memberikan alternatif investasi bagi investor yang ingin tetap memperoleh potensi imbal hasil tanpa mengambil risiko yang terlalu besar di tengah gejolak pasar saham.(*)