KABARBURSA.COM – PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) sama-sama mencatat pertumbuhan penjualan pada kuartal I-2026. Namun, arah laba emiten grup Indofood ini tidak sejalan. INDF membukukan kenaikan laba bersih menjadi Rp2,96 triliun, sementara ICBP justru mencatatkan penurunan.
Direktur Utama dan CEO INDF dan ICBP Anthoni Salim, mengatakan kinerja kedua entitas tetap terjaga di tengah tekanan global. “Di tengah meningkatnya konflik geopolitik, Indofood tetap dapat mempertahankan kinerjanya di kuartal pertama tahun ini,” ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis, 30 April 2026.
Dalam laporan keuangannya, ICBP mencatatkan penjualan neto konsolidasi sebesar Rp21,72 triliun di kuartal I-2026. Catatan itu naik 8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan ini menunjukkan permintaan produk konsumen masih terjaga di tengah dinamika pasar.
Namun laba usaha ICBP turun 10 persen dari Rp5,15 triliun menjadi Rp4,62 triliun. Penurunan ini dipengaruhi oleh lebih rendahnya laba akibat selisih nilai tukar mata uang asing dari kegiatan operasi.
Laba bersih ICBP juga ikut terkoreksi 3 persen menjadi Rp2,57 triliun. Meski demikian, marjin laba usaha tetap terjaga di kisaran 21,3 persen.
Di sini, Anthoni menyebut perusahaan tetap fokus menjaga fundamental bisnis.
“Kami mengawali tahun 2026 dengan kinerja yang baik. ICBP terus memberikan penjualan yang meningkat dan mempertahankan marjin profitabilitas yang sehat,” katanya.
Di sisi lain, INDF mencatatkan penjualan neto konsolidasi sebesar Rp33,89 triliun, tumbuh 7 persen dari Rp31,56 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Tetapi, laba usaha INDF turun 6 persen menjadi Rp6,53 triliun dari Rp6,92 triliun. Seperti halnya ICBP, tekanan ini juga berasal dari lebih rendahnya keuntungan kurs dari kegiatan operasional.
Meski laba usaha tertekan, laba bersih INDF justru meningkat 9 persen menjadi Rp2,96 triliun dari Rp2,72 triliun. Marjin laba usaha tercatat di kisaran 19,3 persen.
Meskipun demikian, manajemen INDF menegaskan komitmen menjaga keseimbangan kinerja.
“Kami akan terus fokus pada pertumbuhan yang berkelanjutan, tetap menjaga keseimbangan antara pangsa pasar dan tingkat profitabilitas, serta mempertahankan posisi neraca yang sehat,” kata Anthoni.
Perbandingan kinerja ini memperlihatkan bahwa meski berada dalam satu grup, kedua emiten menunjukkan dinamika yang berbeda pada level laba. Pertumbuhan penjualan yang masih terjaga di awal tahun tidak sepenuhnya diterjemahkan menjadi peningkatan laba pada kedua entitas.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.