KABARBURSA.COM – PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) melaksanakan uji coba corfiring tahap II di PLTU Mulut Tambang Banko Barat berkapasitas 3x10 MW. Uji coba ini dilakukan untuk mengurangi emisi karbon atau implementasi dekarbonisasi.
Pada tahap kedua ini, PTBA meningkatkan pemanfaatan biomassa dibandingkan uji coba sebelumnya yang dilakukan pada September 2025.
Dalam pelaksanaan terbaru, Perseroan menggunakan wood pellet Kaliandra Merah sebesar 2 persen serta biomassa campuran dari tanaman pulai, akasia, dan puspa sebesar 3 persen. Pada Uji Coba Tahap I, biomassa hasil land clearing yang digunakan masing-masing hanya sebesar 1 persen.
Mine Development Department Head PTBA, Ferry Fadri Al Ilham, mengatakan pengujian dilakukan dengan parameter yang sama seperti tahap pertama, namun menggunakan jenis dan volume biomassa yang lebih besar.
"Uji coba ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan PTBA untuk mengoptimalkan pemanfaatan biomassa sebagai sumber energi pendamping batu bara. Hasilnya akan menjadi dasar evaluasi dalam pengembangan implementasi cofiring ke depan," ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin, 15 Juni 2026.
Menurut Ferry, seluruh rangkaian uji coba berlangsung lancar tanpa memerlukan modifikasi terhadap konstruksi maupun sistem utama pembangkit yang telah beroperasi.
Hal senada disampaikan Direktur PT Bukit Energi Servis Terpadu (PT BEST), Zulkurniadi. Ia menjelaskan bahwa penerapan cofiring tidak mengubah sistem operasional PLTU yang saat ini berjalan.
Keandalan operasional tersebut didukung oleh penggunaan boiler tipe Circulating Fluidized Bed (CFB) di PLTU Banko Barat. Dengan teknologi tersebut, performa pembangkit tetap terjaga meskipun biomassa memiliki nilai kalor yang lebih rendah dibandingkan batu bara.
Pasokan biomassa Kaliandra Merah dalam program ini berasal dari kerja sama PTBA dengan Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta (UPNVYK). Kolaborasi tersebut telah berlangsung sejak Januari 2024 melalui pengembangan Kebun Energi, termasuk pembangunan fasilitas pengolahan wood pellet.
Sementara itu, Guru Besar Fakultas Pertanian UPN "Veteran" Yogyakarta, Mohammad Nurcholis, menjelaskan bahwa Kaliandra Merah memiliki kemampuan menyerap karbon dioksida sekaligus menghasilkan biomassa berkualitas tinggi.
Menurutnya, tanaman tersebut memiliki nilai kalor di atas 4.300 kilokalori per kilogram sehingga dapat mendukung proses pembakaran tanpa mengurangi kualitas energi yang dihasilkan.
Selain dimanfaatkan untuk mendukung program dekarbonisasi, Kaliandra Merah juga diproyeksikan menjadi sumber pasokan biomassa berkelanjutan.
Tanaman ini dipilih karena termasuk jenis yang cepat tumbuh (fast-growing), memiliki kandungan energi tinggi, dan mampu tumbuh kembali setelah dipanen tanpa memerlukan penanaman ulang.
Corporate Secretary Division Head PTBA, Eko Prayitno, mengatakan sinergi antara perusahaan, akademisi, dan pelaku industri menjadi elemen penting dalam transformasi PTBA menuju perusahaan energi berkelanjutan.
"Langkah ini merupakan bukti nyata komitmen Perseroan dalam mendukung ketahanan energi nasional, mengurangi emisi karbon, dan mempercepat transisi menuju masa depan energi yang lebih bersih," tutup Eko.(*)