KABARBURSA.COM - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan seluruh Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Indonesia siap menyalurkan biodiesel B50 secara serentak mulai 1 Juli 2026.
Pemerintah menggandeng Badan Usaha MiliBUMN) sektor energi untuk mengeksekusi penugasan hilir ini guna menggeser penggunaan B40 yang berlaku sebelumnya.
ESDM menjamin kesiapan infrastruktur tangki, fasilitas pencampuran (blending), hingga dispensasi di SPBU telah matang, meski operasionalnya akan melewati masa transisi selama tiga bulan ke depan.
"Infrastruktur di hilir termasuk kesiapan SPBU sudah kami siapkan menjelang 1 Juli nanti. Penugasan ini kami berikan ke BUMN energi. Jadi nanti di setiap SPBU, masyarakat sudah mulai bisa mengakses B50," ujar Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, dikutip Rabu, 24 Juni 2026.
Anggia menegaskan, implementasi serentak ini membutuhkan waktu penyesuaian agar pasokan tersebar merata tanpa hambatan logistik. Oleh karena itu, pemerintah menerapkan masa transisi komersial selama tiga bulan untuk menjangkau seluruh wilayah dari Sabang sampai Merauke.
"Infrastrukturnya sudah siap 100 persen. Namun kan ada tiga bulan masa transisi untuk di seluruh Indonesia. Kuncinya masyarakat harus sabar," jelasnya.
Dari sisi produksi, Anggia menyebut proses pencampuran 50 persen biofuel dan 50 persen solar murni juga telah disiapkan di kilang-kilang domestik. Pengurangan pasokan solar fosil di SPBU ini berjalan seiring dengan beroperasinya RDMP RU V Balikpapan yang memperkuat produksi solar mandiri di dalam negeri.
Menjawab keraguan konsumen mengenai dampak bahan bakar baru ini terhadap kendaraan, Kementerian ESDM menyatakan bahwa uji jalan (road test) lintas sektor telah rampung sejak April kemarin. Anggia menegaskan, hasil pengujian menunjukkan dampak negatif penggunaan B50 pada mesin diesel tidak signifikan.
Selain sektor otomotif, pengujian B50 juga telah meluas ke sektor transportasi laut, serta sektor kereta api dan pembangkit listrik yang dijadwalkan terus berjalan hingga Oktober 2026.
Menurut Anggia, kehadiran B50 di SPBU tidak sekadar menawarkan alternatif bahan bakar yang lebih hemat energi bagi pemilik kendaraan, tetapi juga berdampak langsung pada penghematan devisa negara dan peningkatan kesejahteraan petani sawit.
Di samping itu, konsumsi B50 diproyeksikan mampu memangkas emisi karbon hingga 46,72 juta ton CO2 sepanjang tahun 2026.
"Persiapan dari hulu ke hilir sangat matang. Di bawah koordinasi Kemenko Perekonomian, pasokan CPO juga sudah dihitung agar tidak ada rebutan antara kebutuhan energi, pangan, maupun minyak goreng. Bismillah, 1 Juli kita punya bahan bakar baru," pungkasnya.(*)
Jelang Implementasi B50, ESDM Klaim Kesiapan SPBU Sudah 100 Persen
Pemerintah menggandeng Badan Usaha MiliBUMN) sektor energi untuk mengeksekusi penugasan hilir ini guna menggeser penggunaan B40 yang berlaku sebelumnya.
Ditulis oleh
Gusti Ridani
•