KABARBURSA.COM – Sejak beberapa waktu lalu, saham PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) terkoreksi sangat dalam. Angka pelemahan mencapai 31 persen, namun analis ini melihat perusahaan masih memiliki peluang rebound.
Harga saham KLBF ambruk sekitar 31 persen dari level sebelum perang Amerika Serikat-Iran. Angkanya menyentuh area Rp680 pada 23 Juni 2026. Penurunan itu bahkan jauh lebih dalam dibandingkan proyeksi penurunan laba yang diperkirakan analis.
Selama ini, bisnis farmasi sangat sensitif terhadap dua faktor utama, yaitu harga bahan baku dan nilai tukar. Sebagian besar bahan baku obat masih diimpor, sehingga ketika rupiah melemah dan harga energi meningkat, biaya produksi ikut naik.
Itu mengapa terjadi aksi jual besar-besaran pada KLBF selama beberapa pekan terakhir. Pertanyaannya, apakah penurunan harga saham KLBF ini membawa dampak buruk pada fundamentalnya?
Analis Stockbit menjelaskan, dalam scenario sebelum perang AS-Iran terjadi, KLBF diproyeksikan membukukan laba bersih sekitar Rp3,96 triliun pada 2026 atau tumbuh 8,1 persen secara tahunan. Setelah perang pecah dan asumsi makro berubah drastis, proyeksi tersebut memang harus direvisi.
Pada skenario dasar (base case), asumsi kurs rupiah bergerak ke Rp17.450 per dolar AS dan harga minyak Brent naik ke USD82 per barel. Dalam kondisi tersebut, laba bersih KLBF diperkirakan turun menjadi Rp3,45 triliun. Artinya, terdapat penurunan sekitar 14,1 persen dibandingkan asumsi sebelum perang.
Dalam skenario yang lebih pesimis, ketika harga minyak mencapai USD90 per barel dan rupiah melemah ke Rp17.600 per dolar AS, laba bersih KLBF diperkirakan berada di kisaran Rp3,14 triliun atau turun 22,3 persen dibandingkan asumsi awal.
Di atas kertas, dampaknya memang tidak kecil. Namun angka tersebut masih jauh lebih ringan dibandingkan koreksi harga saham yang sudah mencapai sekitar 31 persen.
Perbedaan inilah yang membuat sebagian analis mulai melihat adanya indikasi overreaction atau reaksi berlebihan dari pasar.
Bicara saat ini tentunya berbeda dengan beberapa pekan lalu. Harga minyak global mulai menunjukkan tanda-tanda pelandaian, sementara rupiah mulai bergerak stabil. Kondisi tersebut membuka peluang KLBF untuk lebih baik dibandingkan skenario terburuk yang selama ini dikhawatirkan investor.
Dari sisi operasional, tekanan utama memang berada pada margin laba kotor atau gross profit margin (GPM). Sebelum perang, margin laba kotor KLBF diperkirakan mencapai 40,3 persen. Dalam skenario dasar, margin tersebut turun menjadi 37,4 persen, sedangkan pada skenario pesimistis turun menjadi 36,4 persen.
Meski terjadi penurunan, angka tersebut masih berada dalam rentang yang pernah dialami perusahaan pada periode sebelumnya. Dengan kata lain, pasar seolah menghukum KLBF seakan-akan bisnisnya mengalami kerusakan permanen, padahal yang terjadi lebih menyerupai tekanan siklus akibat faktor makroekonomi.
Nilai Tukar Rupiah dan Harga KLBF
Menariknya, optimisme terhadap pemulihan KLBF tidak hanya datang dari sisi fundamental, tetapi juga dari pendekatan historis dan teknikal.
Stockbit mencatat bahwa sejak 2016 terdapat hubungan yang cukup kuat antara pergerakan nilai tukar rupiah dan harga saham KLBF. Ketika rupiah melemah tajam, saham KLBF mengalami koreksi. Sebaliknya, ketika rupiah mulai menguat, saham KLBF menjadi salah satu emiten yang paling cepat melakukan pulih.
Ini cukup masuk akal, karena investor selalu menggunakan nilai tukar sebagai indikator utama dalam menghitung potensi biaya impor bahan baku farmasi.
Karena itu, apabila tren penguatan rupiah berlanjut dalam beberapa bulan ke depan, KLBF berpotensi menjadi salah satu saham defensif yang memperoleh manfaat paling besar dari perubahan sentimen tersebut.
Valuasi Mulai Menarik
Dengan proyeksi laba bersih sekitar Rp3,45 triliun pada 2026, KLBF saat ini diperdagangkan pada valuasi sekitar 10 kali price to earnings ratio (PER). Angka ini berada jauh di bawah rata-rata historis perusahaan selama lima tahun terakhir.
Data konsensus menunjukkan 27 analis masih mempertahankan pandangan positif terhadap KLBF. Sebanyak 24 analis merekomendasikan beli dan hanya tiga analis yang memilih menahan saham. Tidak ada satu pun rekomendasi jual.
Target harga rata-rata analis berada di level Rp1.324 per saham, sementara target terendah mencapai Rp1.000 dan target tertinggi Rp1.810. Dengan harga pasar yang kini berada di kisaran Rp770, ruang kenaikannya terlihat sangat besar.
Bahkan menggunakan pendekatan yang lebih konservatif, yakni valuasi kembali ke level sekitar 12 kali PER atau masih berada di bawah rata-rata historis, harga wajar KLBF diperkirakan berada di sekitar Rp920 per saham. Angka tersebut mengindikasikan potensi kenaikan lebih dari 20 persen dari level saat ini.
Pergerakan perdagangan beberapa hari terakhir juga memberikan sinyal awal bahwa tekanan jual mulai berkurang. Setelah sempat anjlok ke Rp680 pada 23 Juni, saham KLBF langsung memantul dan ditutup naik 11,76 persen dalam sehari.
Pada perdagangan 24 Juni, saham ini kembali menguat ke Rp770 dengan volume yang masih cukup solid. Meski belum cukup untuk mengonfirmasi pembalikan tren jangka panjang, pantulan tersebut menunjukkan bahwa investor mulai melihat area harga saat ini sebagai zona yang menarik untuk akumulasi.
Risiko KLBF memang masih ada, terutama jika harga minyak kembali melonjak atau rupiah kembali tertekan akibat kebijakan hawkish The Fed. Namun, jika sentimen makro terus membaik, saham ini berpotensi menjadi salah satu kandidat pemulihan paling menarik di sektor kesehatan.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.