KABARBURSA.COM – PT Jantra Grupo Indonesia Tbk (KAQI) telah merealisasikan seluruh penggunaan dana hasil penawaran umum perdana saham (IPO) senilai Rp49,58 miliar dalam waktu sekitar 15 bulan sejak efektif melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Maret 2025. Perseroan menyebut pencapaian tersebut menjadi bagian dari strategi percepatan ekspansi bisnis yang tengah dijalankan.
Berdasarkan laporan realisasi penggunaan dana yang disampaikan melalui keterbukaan informasi, hingga Juni 2026 seluruh dana IPO telah terserap 100 persen. Dana tersebut digunakan untuk mendukung pengembangan usaha, terutama melalui investasi pada aset produktif dan penguatan jaringan operasional.
Alokasi terbesar dana IPO digunakan untuk pembelian lahan dan pembangunan infrastruktur fisik bengkel dengan nilai lebih dari Rp31,6 miliar atau sekitar 64 persen dari total dana yang dihimpun. Investasi tersebut menjadi bagian dari upaya perseroan memperkuat aset tetap sekaligus meningkatkan kapasitas operasional untuk mendukung pertumbuhan bisnis di masa mendatang.
Perseroan juga menyebut penyesuaian strategi penggunaan dana dilakukan melalui mekanisme Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB), sehingga kebutuhan ekspansi dapat dijalankan lebih cepat sesuai perkembangan pasar.
Di tengah fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang terjadi belakangan ini, KAQI menyatakan operasional perusahaan tetap berjalan normal. Perseroan menilai karakteristik bisnis jasa perawatan kaki-kaki kendaraan yang berfokus pada pasar domestik membuat kinerja usaha relatif tidak terdampak oleh gejolak kurs.
Sebagai bagian dari ekspansi, KAQI telah menandatangani kerja sama dan tengah menyelesaikan proses pembukaan tiga cabang baru di lokasi strategis, yakni Bandung Timur, Madiun, dan Surabaya Barat. Ketiga cabang tersebut ditargetkan mulai berkontribusi terhadap pendapatan perseroan pada semester II 2026.
Direktur KAQI, Simon Arosokhi Gulo mengonfirmasi bahwa kerja sama pembukaan tiga cabang baru tersebut telah disepakati dan saat ini memasuki tahap finalisasi.
Menurut Simon, penambahan jaringan operasional tersebut diharapkan menjadi salah satu pendorong pertumbuhan kinerja keuangan perseroan pada tahun ini.
"Proyeksi dari pendapatan hingga laba bersih perseroan kuartal II tahun ini ada di angka positif, dibandingkan kinerja tahun 2025 di periode yang sama," ujar Simon pada Jumat, 12 Juni 2026.
Ia menjelaskan, manajemen memproyeksikan pendapatan dan laba bersih pada kuartal II 2026 tumbuh dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Proyeksi tersebut didukung oleh kontribusi bengkel-bengkel baru yang mulai beroperasi dan menghasilkan pendapatan.
Selain fokus pada ekspansi bisnis, KAQI juga tengah mempertimbangkan pelaksanaan pembelian kembali saham atau buyback. Menurut Simon, langkah tersebut menjadi salah satu opsi yang sedang dikaji manajemen sebagai bentuk keyakinan terhadap prospek dan fundamental perusahaan.
Perseroan melihat peluang untuk memanfaatkan kebijakan relaksasi yang diberikan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yang memungkinkan emiten melakukan buyback saham tanpa persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dalam kondisi pasar yang mengalami fluktuasi signifikan.
Manajemen menilai harga saham perseroan saat ini belum sepenuhnya mencerminkan nilai fundamental perusahaan. Karena itu, buyback menjadi salah satu alternatif yang dipertimbangkan untuk memanfaatkan kondisi pasar sekaligus menunjukkan optimisme terhadap prospek bisnis ke depan.
Menilik data perdagangannya, pada Kamis, 11 Juni 2026 saham KAQI ditutup di level 89 per lembarnya. Harga itu jauh di bawah nilai IPO pada 10 Maret 2025 yakni 118 per lembar.
Meski demikian, hingga saat ini KAQI masih melakukan kajian internal terkait rencana tersebut dan belum mengumumkan besaran dana maupun jadwal pelaksanaan buyback saham.(*)