KABARBURSA.COM - Pasar saham Wall Street ditutup menguat tajam pada perdagangan Kamis setelah meredanya tensi geopolitik di Timur Tengah serta menguatnya optimisme pelaku pasar menjelang pencatatan saham SpaceX di bursa Nasdaq.
Ketiga indeks utama mencatat lonjakan harian paling signifikan sejak 8 April, periode ketika Amerika Serikat dan Iran sempat mencapai kesepakatan gencatan senjata sementara yang berhasil menenangkan gejolak pasar keuangan global. Euforia tersebut kembali mengalir ke lantai bursa dan memicu aksi beli dalam skala luas.
Indeks Dow Jones Industrial Average melesat 929,97 poin atau 1,86 persen dan berakhir di level 50.848,75. Sementara itu, S&P 500 yang menjadi tolok ukur pasar yang lebih luas menguat 127,31 poin atau 1,75 persen ke posisi 7.394,30. Nasdaq Composite tampil paling impresif dengan kenaikan 640,16 poin atau 2,54 persen hingga menutup sesi di angka 25.809,66.
Kebangkitan pasar ini terjadi setelah Wall Street menghadapi tekanan cukup berat dalam beberapa pekan terakhir. S&P 500 sebelumnya tergelincir dari rekor penutupan tertinggi yang dibukukan pada awal Juni akibat meningkatnya kecemasan terhadap inflasi yang dipicu konflik kawasan Timur Tengah. Bahkan, pada perdagangan Rabu, indeks teknologi tersebut secara resmi memasuki wilayah koreksi.
Arah sentimen berubah drastis ketika Presiden AS Donald Trump mengumumkan pembatalan rencana serangan terhadap Iran hanya beberapa jam sebelum operasi militer itu diperkirakan dimulai. Tidak lama berselang, Trump menyampaikan bahwa Washington dan Teheran berpeluang mencapai kesepakatan damai dalam waktu dekat, bahkan secepatnya pada akhir pekan. Harapan tersebut turut membuka kemungkinan normalisasi kembali jalur perdagangan melalui Selat Hormuz yang selama ini menjadi urat nadi distribusi energi dunia.
Informasi itu segera memantik minat investor terhadap aset berisiko. Dana kembali mengalir ke pasar saham dan memperpanjang fase pemulihan setelah gelombang aksi jual yang sempat mendominasi sesi sebelumnya.
Saham-saham teknologi menjadi lokomotif utama reli kali ini. Kelompok semikonduktor tampil paling menonjol, dengan indeks PHLX Semiconductor melonjak 7,9 persen. Kenaikan tersebut menjadi yang terbesar sejak April 2025 dan mencerminkan kembalinya selera risiko di kalangan investor.
Robert Phipps, Direktur Per Stirling Capital Management, menilai penguatan pasar tidak hanya dipicu sentimen geopolitik. Menurutnya, faktor teknikal juga memainkan peranan penting setelah pasar mengalami penurunan yang terlalu cepat dalam beberapa waktu terakhir.
Ia menjelaskan bahwa banyak indikator telah memasuki area jenuh jual, kondisi yang lazim membuka ruang bagi pemantulan harga yang agresif. Dalam pandangannya, fluktuasi pasar selama beberapa pekan terakhir berlangsung jauh lebih ekstrem dibandingkan perubahan fundamental ekonomi yang sebenarnya.
Kini sorotan investor beralih ke SpaceX yang dijadwalkan memulai perdagangan sahamnya pada Jumat. Perusahaan antariksa milik Elon Musk tersebut menetapkan harga penawaran umum perdana sebesar USD135 per saham, menjadikannya IPO terbesar sepanjang sejarah pasar modal Amerika Serikat.
Melalui pelepasan 555,56 juta saham, SpaceX berhasil menghimpun dana sekitar USD75 miliar. Transaksi tersebut menghasilkan valuasi perusahaan mencapai USD1,77 triliun, sebuah capaian monumental yang sekaligus menjadi valuasi tertinggi yang pernah diraih dalam proses IPO.
Adam Sarhan, Chief Executive Officer 50 Park Investments, menilai harga penawaran hanyalah titik awal perjalanan sebuah saham di pasar terbuka. Menurutnya, faktor yang jauh lebih menentukan adalah bagaimana investor mencerna informasi dan memberikan respons setelah perdagangan resmi dimulai.
Ia juga mengingatkan bahwa investor perlu memahami horizon investasinya sebelum mengambil posisi pada saham teknologi berkapitalisasi raksasa yang baru memasuki bursa. Kejelasan strategi investasi dinilai menjadi elemen krusial dalam menghadapi volatilitas awal pasca-IPO.
Di tengah reli yang melanda sebagian besar sektor, saham Oracle justru bergerak berlawanan arah. Emiten perangkat lunak tersebut merosot 8,5 persen setelah memproyeksikan belanja modal tahun fiskal 2027 berada di atas ekspektasi analis. Prospek pengeluaran yang lebih besar memunculkan kekhawatiran mengenai potensi tekanan terhadap margin dan biaya operasional perusahaan.
Dari ranah ekonomi makro, data terbaru menunjukkan harga produsen di Amerika Serikat selama Mei meningkat lebih tinggi daripada perkiraan pasar. Kenaikan tersebut mendorong inflasi tahunan ke laju tercepat dalam lebih dari tiga tahun terakhir dan menegaskan bahwa tekanan harga belum sepenuhnya surut.
Data lain turut memperlihatkan kenaikan tipis jumlah warga Amerika yang mengajukan klaim tunjangan pengangguran pada pekan lalu. Meskipun pasar tenaga kerja masih tergolong kokoh, perkembangan tersebut mengindikasikan mulai munculnya sinyal perlambatan aktivitas ketenagakerjaan.
Pelaku pasar kini menunggu hasil rapat kebijakan Federal Reserve yang akan berlangsung pekan depan. Bank sentral AS diperkirakan tetap mempertahankan suku bunga acuan pada level saat ini. Namun demikian, pasar masih memperhitungkan peluang setidaknya satu kali kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin sebelum pergantian tahun.
Secara keseluruhan, dinamika perdagangan menunjukkan dominasi saham yang menguat. Di NYSE, rasio saham naik terhadap saham turun mencapai 2,74 banding 1. Bursa tersebut juga mencatat 247 saham yang menorehkan rekor tertinggi baru dan 134 saham yang menyentuh titik terendah baru.
Di Nasdaq, sebanyak 3.587 saham berakhir di zona hijau, sementara 1.304 saham terkoreksi. Rasio penguatan terhadap pelemahan tercatat 2,75 banding 1, menandakan sentimen positif yang tersebar luas di berbagai sektor.
S&P 500 membukukan 27 rekor tertinggi baru dalam periode 52 minggu dan 15 rekor terendah baru. Adapun Nasdaq Composite mencatat 167 rekor tertinggi baru serta 144 rekor terendah baru.
Aktivitas transaksi juga berlangsung sangat ramai. Volume perdagangan di Wall Street mencapai 21,41 miliar saham, melampaui rata-rata harian sebesar 20,7 miliar saham selama 20 sesi perdagangan terakhir. Angka tersebut mencerminkan tingginya partisipasi investor dalam merespons perubahan lanskap geopolitik dan prospek pasar yang terus berkembang.(*)