KABARBURSA.COM - Harga minyak dunia terkoreksi tajam pada perdagangan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara mendadak membatalkan rencana serangan militer terhadap Iran. Keputusan yang diambil hanya beberapa jam sebelum operasi tersebut diperkirakan berlangsung itu memunculkan harapan baru akan tercapainya kesepakatan damai guna mengakhiri konflik yang telah membentang lebih dari tiga bulan.
Minyak mentah Brent, yang menjadi acuan utama pasar global, ditutup merosot USD2,72 atau sekitar 2,9 persen ke level USD90,38 per barel. Penurunan tersebut mencerminkan meredanya premi risiko geopolitik yang sebelumnya membayangi pasar energi internasional.
Nasib serupa dialami minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) sebagai patokan Amerika Serikat. Kontrak berjangka WTI terkikis USD2,32 atau 2,6 persen dan berakhir pada posisi USD87,71 per barel.
Melalui unggahan di media sosial, Trump mengungkapkan bahwa dirinya membatalkan rencana serangan karena pembicaraan terkait penyelesaian konflik telah mencapai fase paling maju di tingkat kepemimpinan Iran. Ia juga menyebut proses tersebut melibatkan koalisi luas negara-negara kawasan yang berupaya mencari jalan keluar diplomatik. Namun demikian, Trump tidak menjelaskan secara rinci substansi maupun poin-poin final yang disebut telah memperoleh persetujuan dari pihak terkait.
Di tengah munculnya optimisme tersebut, ketidakpastian masih membayangi. Kantor berita semi-resmi Iran, Fars News Agency, melaporkan bahwa Teheran belum menyetujui naskah kesepakatan apa pun. Pernyataan itu memunculkan keraguan di kalangan pelaku pasar, terlebih Trump sebelumnya beberapa kali menyatakan kesepakatan dengan Iran sudah dekat, namun kemudian kembali melontarkan ancaman ketika tuntutan Washington tidak dipenuhi.
Ironisnya, beberapa jam sebelum mengumumkan pembatalan serangan, Trump sempat mengeluarkan peringatan keras yang mengisyaratkan kemungkinan aksi militer besar terhadap Iran. Meski retorika politik masih berlangsung dinamis, sejumlah sumber dari Iran dan pejabat Barat mengungkapkan bahwa pembicaraan tidak langsung mengenai kerangka perdamaian awal memang mengalami percepatan dalam beberapa hari terakhir.
Perkembangan di Selat Hormuz juga menjadi pusat perhatian pasar global. Jalur pelayaran strategis tersebut merupakan salah satu arteri terpenting dalam distribusi energi dunia. Pada Rabu, Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz bagi kapal tanker minyak maupun kapal komersial, seraya memperingatkan bahwa setiap kapal yang mencoba melintas berisiko menjadi sasaran serangan.
Posisi Selat Hormuz sangat krusial karena sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas dunia melewati kawasan tersebut. Penutupan jalur itu dilakukan setelah Iran menerima serangan dari Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari. Langkah tersebut sempat memicu lonjakan harga minyak global akibat kekhawatiran akan terganggunya pasokan energi internasional.
Meski demikian, militer Amerika Serikat menyatakan aktivitas pelayaran komersial masih berlangsung di kawasan tersebut. Washington menegaskan kapal-kapal dagang tetap keluar masuk Selat Hormuz dan tidak ada kapal perang AS yang terkena serangan. Di sisi lain, media pemerintah Iran melaporkan bahwa sejumlah kapal Amerika di sekitar perairan tersebut telah menjadi target serangan rudal dan pesawat nirawak.
Data pelacakan dari LSEG dan Kpler menunjukkan sedikitnya tiga kapal tanker pengangkut gas alam cair atau LNG berhasil meninggalkan Selat Hormuz menuju kawasan Asia dengan transponder dalam kondisi nonaktif. Kendati demikian, waktu pasti pelayaran mereka tidak dapat dipastikan sehingga menambah kabut ketidakjelasan mengenai kondisi aktual di lapangan.
Sementara itu, India melaporkan adanya insiden yang melibatkan sebuah kapal di dekat Pelabuhan Shinas, Oman, pada Kamis. Peristiwa tersebut menjadi insiden ketiga dalam sepekan yang berkaitan dengan gangguan navigasi dan keamanan pelayaran di kawasan Teluk.
Walau situasi masih bergejolak, perusahaan-perusahaan penyulingan minyak India berupaya menenangkan pasar. Mereka menyatakan telah mengamankan pasokan minyak mentah dalam jumlah memadai untuk memenuhi kebutuhan hingga setidaknya bulan Agustus. Pernyataan itu membantu mengurangi kekhawatiran mengenai potensi gangguan pasokan energi dalam jangka pendek.
Dari sisi fundamental pasar, sentimen juga memperoleh dukungan dari data persediaan minyak Amerika Serikat. Laporan terbaru menunjukkan stok minyak mentah mengalami penyusutan yang jauh lebih besar dibandingkan perkiraan pelaku pasar.
Badan Informasi Energi Amerika Serikat (EIA) melaporkan persediaan minyak mentah turun 7,2 juta barel menjadi 426,5 juta barel pada pekan yang berakhir 5 Juni. Penurunan tersebut menandakan permintaan yang tetap kuat atau distribusi pasokan yang lebih ketat dibandingkan ekspektasi sebelumnya.
Angka tersebut melampaui proyeksi para analis yang dalam survei sebelumnya memperkirakan penurunan hanya sekitar 4 juta barel. Kendati data persediaan memberikan dukungan terhadap harga, meredanya risiko geopolitik setelah perubahan sikap Washington terhadap Iran terbukti menjadi faktor dominan yang mendorong harga minyak bergerak turun pada akhir perdagangan.(*)