KABARBURSA.COM – PT Rans Entertainmen Indonesia Tbk bersiap mencatatkan saham perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kode saham RANS pada 10 Juli 2026. Perseroan menawarkan sebanyak 2,525 miliar saham baru atau setara 20,02 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah penawaran umum perdana saham (IPO), dengan potensi dana yang dihimpun mencapai Rp429,25 miliar.
Penawaran perdana sudah dimulai 23-25 Juni 2026 dengan harga Rp135 sampai Rp170 per lembarnya.
Namun sebelum menjadi perusahaan terbuka, perjalanan RANS Entertainment dimulai hampir satu dekade lalu dengan struktur permodalan yang jauh lebih sederhana.
Berawal dari PT RNR Film Internasional
Berdasarkan prospektus ringkas tertanggal 23 Juni 2026, perusahaan didirikan pada 18 Oktober 2016 dengan nama PT RNR Film Internasional berdasarkan Akta Nomor 04 yang dibuat di hadapan Notaris Raden Mas Dendy Subangil di Tangerang Selatan. Badan hukum perusahaan kemudian disahkan Kementerian Hukum dan HAM pada 24 Oktober 2016.
Saat didirikan, perseroan memiliki modal dasar Rp4 miliar yang terbagi dalam 4.000 saham bernilai nominal Rp1 juta per saham. Dari jumlah tersebut, baru 1.000 saham atau senilai Rp1 miliar yang ditempatkan dan disetor penuh.
Modal awal itu berasal dari dua pendiri perusahaan yang masing-masing menyetor Rp500 juta. Raffi Farid Ahmad memegang 500 saham atau setara 50 persen kepemilikan, sedangkan 500 saham lainnya dimiliki Antonius Rovy Pratikno.
Adapun 3.000 saham sisanya belum diterbitkan kepada pemegang saham dan masih berstatus saham dalam portepel. Dengan kata lain, saham tersebut telah disediakan dalam modal dasar perusahaan, tetapi belum disetor maupun dimiliki pihak tertentu sehingga dapat diterbitkan sewaktu-waktu untuk kebutuhan penambahan modal atau masuknya investor baru.
Seiring perkembangan bisnis, PT RNR Film Internasional kemudian berubah nama menjadi PT Rans Entertainmen Indonesia dan mulai menjalankan kegiatan usaha secara komersial pada 2018.
Mengembangkan Bisnis Hiburan Terintegrasi
RANS tidak hanya mengembangkan produksi konten digital, tetapi juga membangun ekosistem bisnis yang mencakup pengelolaan intellectual property (IP), periklanan, penyelenggaraan acara, perdagangan kosmetik, restoran, rekaman suara, klub olahraga digital hingga taman rekreasi.
Dalam prospektus, manajemen menyebut setiap lini usaha saling melengkapi untuk menciptakan nilai ekonomi.
"Setiap lini usaha tidak berdiri sendiri, melainkan saling melengkapi dan memperkuat dalam proses penciptaan nilai ekonomi," tulis manajemen.
Investor Baru Mulai Masuk
Seiring ekspansi bisnis, struktur kepemilikan perseroan berkembang. Sejumlah nama mulai masuk ke dalam daftar pemegang saham.
Salah satunya adalah Dony Oskaria, yang kini menjabat Wakil Menteri BUMN. Sebelum masuk pemerintahan, Dony dikenal sebagai eksekutif yang pernah memimpin InJourney serta sejumlah perusahaan pelat merah lainnya.
Nama lain yang tercatat sebagai pemegang saham adalah Sutanto Hartono, Presiden Direktur PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) yang juga merupakan bagian dari Grup Emtek.
Perseroan juga mencatat kepemilikan saham oleh Kaesang Pangarep, putra bungsu Presiden ke-7 RI Joko Widodo. Selain aktif sebagai pengusaha, Kaesang juga dikenal sebagai Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Selain itu, terdapat Soultan Ariq Rachman, Hikmat Janika, serta PT Ekonomi Baru Investasi Teknologi yang turut menjadi pemegang saham perusahaan.
Pada akhir 2025 seluruh pemegang saham memperoleh tambahan saham melalui kapitalisasi tambahan modal disetor atau agio saham senilai Rp60,5 miliar.
Struktur Modal Berubah pada 2025
Pada akhir 2025, perseroan melakukan pemecahan nilai nominal saham menjadi Rp50 per saham. Modal ditempatkan dan disetor penuh yang sebelumnya Rp40,33 miliar kemudian meningkat menjadi Rp100,84 miliar.
Tambahan modal sebesar Rp60,5 miliar berasal dari kapitalisasi agio saham dan dibagikan secara proporsional kepada para pemegang saham.
Raffi Ahmad memperoleh tambahan terbesar sebanyak 952,02 juta saham dengan nilai Rp47,6 miliar. PT Indonesia Entertainmen Grup mendapatkan tambahan 109,38 juta saham senilai Rp5,47 miliar.
Soultan Ariq Rachman menerima tambahan 41,46 juta saham senilai Rp2,07 miliar, sedangkan Dony Oskaria memperoleh tambahan 41,43 juta saham senilai Rp2,07 miliar.
Sutanto Hartono memperoleh tambahan 17,28 juta saham senilai Rp864 juta. Nagita Slavina Mariana Tengker menerima tambahan 14,97 juta saham senilai Rp748,5 juta, sedangkan Kaesang Pangarep memperoleh tambahan 13,83 juta saham senilai Rp691,5 juta.
Hikmat Janika memperoleh tambahan 10,35 juta saham senilai Rp517,5 juta dan PT Ekonomi Baru Investasi Teknologi memperoleh tambahan 9,21 juta saham senilai Rp460,5 juta.
Raffi Ahmad Tetap Menjadi Pemegang Saham Pengendali
Sebelum IPO, Raffi Ahmad tercatat sebagai pemegang saham terbesar dengan kepemilikan 7,935 miliar saham atau setara 78,68 persen.
Di bawahnya terdapat PT Indonesia Entertainmen Grup dengan porsi 9,04 persen. Soultan Ariq Rachman menggenggam 3,43 persen saham, Dony Oskaria 3,42 persen, Sutanto Hartono 1,43 persen, Nagita Slavina Mariana Tengker 1,24 persen, Kaesang Pangarep 1,14 persen, Hikmat Janika 0,86 persen, serta PT Ekonomi Baru Investasi Teknologi sebesar 0,76 persen.
Setelah IPO nantinya, kepemilikan masyarakat diperkirakan mencapai 20,02 persen. Porsi kepemilikan Raffi Ahmad akan terdilusi menjadi 62,93 persen, sedangkan kepemilikan PT Indonesia Entertainmen Grup menjadi 7,23 persen. Jumlah saham beredar akan meningkat dari 10,084 miliar saham menjadi 12,609 miliar saham.
Saat ini RANS memiliki 11 entitas anak dan empat perusahaan asosiasi yang bergerak di berbagai bidang, mulai dari periklanan, restoran, perdagangan kosmetik, reproduksi media rekaman, perdagangan makanan dan minuman, penyelenggaraan acara, klub olahraga digital, hingga pengelolaan taman rekreasi.
Kinerja keuangan
Dari sisi kinerja keuangan, total aset perseroan pada 2025 tercatat sebesar Rp461,03 miliar, turun dibandingkan Rp590,79 miliar pada 2024. Penurunan tersebut terutama dipengaruhi berkurangnya piutang jangka panjang pihak berelasi dan pengembalian uang muka pembelian aset tetap akibat perubahan strategi bisnis perusahaan.
Meski demikian, aset lancar perseroan meningkat 22,39 persen menjadi Rp242,13 miliar. Kenaikan tersebut terutama didorong meningkatnya piutang usaha dan piutang lain-lain yang berkaitan dengan penyelenggaraan The Beauty, Fashion & Fragrance Festival 2025 serta pengakhiran kerja sama dengan SAMS Studio.
Sepanjang 2025, perseroan membukukan laba operasi sebesar Rp75,55 miliar, turun 14,21 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara laba tahun berjalan tercatat Rp56,69 miliar, turun dari Rp97,06 miliar pada 2024. Perseroan menjelaskan penurunan tersebut dipengaruhi adanya keuntungan pelepasan entitas anak yang bersifat tidak berulang pada tahun sebelumnya.
Di sisi lain, kas dan setara kas perseroan terus meningkat dari Rp63,7 miliar pada 2023 menjadi Rp91,07 miliar pada 2024 dan kembali naik menjadi Rp100,13 miliar pada akhir 2025. Arus kas operasi pada 2025 tercatat sebesar Rp37,68 miliar.
Penggunaan dana hasil IPO
Adapun dana hasil IPO akan digunakan untuk sejumlah kebutuhan ekspansi. Sebanyak 6,98 persen akan digunakan untuk melunasi pinjaman kepada PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Sekitar 18,64 persen dialokasikan untuk pembangunan wahana bermain dan belajar edukatif "Cipungland", sedangkan porsi terbesar sebesar 37,61 persen akan digunakan untuk penyelenggaraan konser yang menghadirkan artis lokal maupun internasional di berbagai kota.
Selain itu, sekitar 8,15 persen dana IPO akan digunakan untuk membentuk perusahaan baru bersama PT Global Teknologi untuk mengembangkan bisnis berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Sebanyak 19,80 persen lainnya akan digunakan untuk mengakuisisi PT Rans Kosmetika Indonesia atau Slavina, sedangkan sisa dana akan disalurkan kepada entitas anak untuk mendukung pengembangan usaha dan ekspansi jaringan bisnis.(*)