Logo
>

Koreksi BBCA Diproyeksikan Makin Mereda, ini Analisisnya!

Bahwa BBCA tetap menjadi pilihan defensif di sektor perbankan Indonesia, terutama di tengah ketidakpastian makroekonomi global

Ditulis oleh Pramirvan Datu
Koreksi BBCA Diproyeksikan Makin Mereda, ini Analisisnya!
Ilustrasi Saham BBCA. Foto: Dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM - Tren penurunan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) memang belum usai dalam beberapa waktu terakhir. Hanya saja, secara momentum teknikal, tekanan koreksi lanjutan dinilai mulai mereda, sehingga ruang penurunan diperkirakan semakin terbatas dalam jangka pendek, didukung pula oleh fundamental bank yang solid.

Harga saham BBCA ditutup terkoreksi 5,84 persen ke Rp6.050, level terendah sejak 2021 atau periode pandemi Covid-19. Dalam satu hari, net foreign sell (NFS) di saham ini tercatat mencapai Rp2,1 triliun. Namun, pelemahan yang terjadi dinilai tidak mencerminkan penurunan fundamental perseroan.

Dari sisi teknikal, Head of Retail Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai bahwa dalam timeframe bulanan, pergerakan saham BBCA masih berada dalam fase downtrend. Meski demikian, ia menekankan bahwa tekanan jual mulai menunjukkan tanda-tanda mereda.

Menurut Herditya, volume penjualan saat ini relatif lebih rendah dibandingkan periode-periode sebelumnya, yang mengindikasikan berkurangnya tekanan distribusi dari investor. Ini menjadi sinyal awal bahwa fase koreksi kemungkinan mendekati titik jenuh.

“Kami memperkirakan, koreksinya akan cenderung terbatas untuk menguji area support terdekat di 5.900, apabila mampu bertahan di atas area tersebut maka BBCA berpeluang menguat dengan 6575-7025,” ungkap Herditya.

Oleh karena itu, Herditya bilang ini menjadi peluang bagi investor untuk mulai mempertimbangkan akumulasi bertahap.

Sementara itu, dari perspektif fundamental, Muhammad Nurkholis Syafruddin dari DBS melihat valuasi BBCA saat ini telah mengalami tekanan signifikan, dengan price-to-book value (P/B) forward berada di kisaran 2,6x.

Bahkan, valuasi tersebut merupakan yang terendah sejak periode krisis keuangan global atau Global Financial Crisis (GFC), sehingga dinilai mencerminkan kondisi valuasi yang sangat menarik secara historis. Dalam konteks ini, saham BBCA dianggap telah memasuki area valuasi siklikal terendah.

Muhammad Nurkholis menambahkan bahwa BBCA tetap menjadi pilihan defensif di sektor perbankan Indonesia, terutama di tengah ketidakpastian makroekonomi global. Hal ini didukung oleh kualitas aset yang solid dengan rasio kredit bermasalah (NPL) sekitar 1,8 persen.

Selain itu, kekuatan utama BBCA terletak pada struktur pendanaan yang unggul serta pertumbuhan kredit yang relatif stabil dibandingkan bank-bank besar lainnya. Hal ini memberikan ketahanan terhadap tekanan eksternal yang bersifat sementara.
Dari sisi profitabilitas, BBCA juga diproyeksikan tetap mampu mencatatkan pertumbuhan laba positif pada tahun buku 2026. Meskipun, ada tantangan pada net interest margin (NIM) yang sedikit turun.

Kondisi permodalan yang sangat kuat dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 29,8 persen pada tahun buku 2025. Hal ini membuka ruang bagi peningkatan rasio pembayaran dividen lebih tinggi pada tahun buku 2026 dibandingkan rata-rata historis lima tahun di kisaran 65 persen.

Lebih lanjut, rencana manajemen untuk mendistribusikan dividen secara kuartalan dinilai akan meningkatkan daya tarik saham ini, khususnya dalam memberikan visibilitas arus kas kepada investor.

“Valuasi saat ini tampak tidak mencerminkan secara tepat tingkat profitabilitas dan ketahanan laba yang dimiliki. Kami meyakini bahwa penurunan valuasi (de-rating) yang terjadi belakangan ini lebih banyak didorong oleh faktor eksternal, bukan akibat adanya penurunan material pada kinerja inti,” ungkap Muhammad Nurkholis dalam risetnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan tekanan jual yang terjadi saat ini juga sebagian besar dipicu oleh faktor makro dan teknikal, seperti kekhawatiran terkait MSCI, sentimen global risk-off, serta tekanan terhadap outlook rating, bukan karena melemahnya fundamental yang mendasari kinerja.

Pada level harga saat ini, sebagian besar sentimen negatif dinilai telah terefleksikan dalam harga saham. Dengan fundamental yang tetap solid dan valuasi yang berada di level rendah secara historis, saham BBCA mulai dilihat sebagai titik masuk yang menarik bagi investor dengan horizon jangka menengah hingga panjang.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Pramirvan Datu

Pram panggilan akrabnya, jurnalis sudah terverifikasi dewan pers. Mengawali karirnya sejak tahun 2012 silam. Berkecimpung pewarta keuangan, perbankan, ekonomi makro dan mikro serta pasar modal.