Logo
>

Kripto Lagi Loyo, COIN Ikut Kena Imbas di Kuartal I

Penurunan harga dan volume transaksi kripto global menekan pendapatan, meski segmen derivatif tumbuh signifikan.

Ditulis oleh Syahrianto
Kripto Lagi Loyo, COIN Ikut Kena Imbas di Kuartal I
Ilustrasi: Koin-koin mata uang kripto (Foto: Unsplash)

KABARBURSA.COM – Kinerja PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN) tertekan pada kuartal I 2026 seiring melemahnya pasar aset kripto global dan domestik. Penurunan harga, kapitalisasi pasar, dan volume transaksi menjadi faktor utama yang mempengaruhi pendapatan perusahaan.

Direktur Utama Indokripto Koin Semesta Ade Wahyu mengatakan kondisi pasar kripto sepanjang awal tahun berdampak langsung pada kinerja perusahaan. 

“Salah satu yang memicu kondisi tersebut adalah perilaku risk off konsumen akibat makroekonomi global yang tidak stabil karena ketegangan geopolitik dan pengetatan likuiditas. Dengan turunnya nilai transaksi aset kripto, akhirnya berimbas negatif terhadap kinerja fundamental Perseroan,” ujar Ade dalam siaran persnya dikutip, Jumat, 1 Mei 2026.

Pendapatan COIN tercatat sebesar Rp41,49 miliar pada kuartal I 2026, turun 18 persen dibandingkan Rp50,63 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan ini sejalan dengan kontraksi aktivitas transaksi di pasar kripto.

Secara global, kapitalisasi pasar aset kripto menyusut 45 persen dari USD4,4 triliun menjadi USD2,4 triliun hingga akhir Maret 2026. Volume transaksi global juga turun 39,1 persen menjadi USD2,7 triliun sepanjang kuartal I 2026.

Di dalam negeri, tren serupa terjadi dengan volume transaksi kripto turun 31 persen secara tahunan menjadi Rp75,8 triliun pada periode Januari hingga Maret 2026. Kondisi ini berdampak langsung pada penurunan pendapatan perusahaan.

Tekanan pasar tersebut juga membuat kinerja operasional COIN tertekan, dengan EBITDA dan laba bersih tercatat negatif pada periode ini.

Di tengah kondisi tersebut, segmen perdagangan derivatif justru mencatat pertumbuhan signifikan. Pendapatan dari segmen ini meningkat 125 persen secara tahunan menjadi Rp11,4 miliar dari sebelumnya Rp5,1 miliar.

Kontribusi segmen derivatif terhadap total pendapatan mencapai 27,6 persen, menjadikannya salah satu penopang utama kinerja perusahaan. 

Produk derivatif dinilai memberikan fleksibilitas bagi investor melalui mekanisme dua arah yang dapat dimanfaatkan untuk lindung nilai saat pasar berfluktuasi.

Ade menyebut, rasio pasar derivatif kripto di Indonesia masih berada di level 0,13 kali dari pasar spot, jauh di bawah rasio global yang mencapai sekitar lima kali lipat. Kondisi ini menunjukkan ruang pertumbuhan yang masih terbuka.

“Melesatnya segmen derivatif di kuartal I-2026 adalah bukti nyata penerimaan pasar terhadap inovasi Bursa Kripto CFX. Dengan ruang pertumbuhan yang masih sangat luas dibandingkan pasar global, derivatif siap menjadi pilar kekuatan COIN untuk menjaga stabilitas dan memacu kinerja ke depan,” kata Ade.

COIN merupakan perusahaan holding yang menaungi PT Central Finansial X sebagai bursa aset kripto dan PT Kustodian Koin Indonesia sebagai lembaga kustodian. 

Kedua entitas tersebut telah memperoleh izin dan berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Syahrianto

Jurnalis ekonomi yang telah berkarier sejak 2019 dan memperoleh sertifikasi Wartawan Muda dari Dewan Pers pada 2021. Sejak 2024, mulai memfokuskan diri sebagai jurnalis pasar modal.

Saat ini, bertanggung jawab atas rubrik "Market Hari Ini" di Kabarbursa.com, menyajikan laporan terkini, analisis berbasis data, serta insight tentang pergerakan pasar saham di Indonesia.

Dengan lebih dari satu tahun secara khusus meliput dan menganalisis isu-isu pasar modal, secara konsisten menghasilkan tulisan premium (premium content) yang menawarkan perspektif kedua (second opinion) strategis bagi investor.

Sebagai seorang jurnalis yang berkomitmen pada akurasi, transparansi, dan kualitas informasi, saya terus mengedepankan standar tinggi dalam jurnalisme ekonomi dan pasar modal.