KABARBURSA.COM – Di tengah aktivitas tambang yang belum sepenuhnya pulih, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) berhasil membukukan kinerja yang bertumbuh di kuartal I 2026. Laba bersihnya tercatat naik 22 persen.
Dalam laporan kinerjanya, laba bersih BRNS secara tahunan naik menjadi USD18,05 juta dari sebelumnya USD14,85 juta. Kenaikan tersebut terjadi justru saat produksi emas dan perak perusahaan mengalami penurunan tajam.
Direktur & Chief Financial Officer BRMS Charles Gobel, mengakui bahwa terhambatnya produksi emas dan perak tidak lepas dari aktivitas pushback tambang terbuka River Reef di Poboya, Palu. Di tambang tersebut, produksi emas turun menjadi 14.790 troy ounce, dari sebelumnya 21.922 troy ounce.
Begitu pula dengan produksi peraknya. Pada periode kuartal pertama tahun ini, tambang River Reef hanya mampu memproduksi 41.043 troy ounce perak.
Namun, harga jual emas dan perak yang sedang meroket, menjadi alasan kenaikan laba bersih. Masih dari laporan kinerjanya, pendapatan BRMS tetap tumbuh 10 persen secara tahunan, menjadi USD69,47 juta. Laba operasi juga meningkat, mencapai USD28,59 juta.
Kenaikan pendapatan dan laba operasi ini sejalan dengan lonjakan harga emas yang tercatat menjadi USD4.512 per troy ounce. Padahal, sebelumnya emas dijual dengan harga USD2.809 per troy ounce. Begitu pula dengan harga perak yang naik tajam ke USD66,81 per troy ounce dari sebelumnya USD28,74 per troy ounce.
Ekspansi BRMS
Menanggapi anjloknya produksi emas dan perak, Direktur utama PT Citra Palu Minerals (CPM), entitas yang mengelola tambang emas di Poboya, Palu, menjelaskan, fase pushback diperkirakan selesai pada akhir Mei atau awal Juni 2026.
Fase pushback adalah tahapan dalam penambangan terbuka (open pit) ketika perusahaan mengupas atau memindahkan lapisan batuan penutup (waste/overburden) untuk membuka akses ke lapisan bijih yang lebih dalam.
Setelah fase ini selesai, perusahaan akan mulai menambang bijih dengan kadar emas yang lebih tinggi. Perubahan kualitas bijih ini menjadi kunci karena akan mempengaruhi tingkat perolehan emas dalam setiap ton material yang diproses.
Di saat yang sama, ekspansi kapasitas juga sedang berjalan. BRMS menargetkan peningkatan kapasitas salah satu pabrik emas miliknya, dari semula 500 ton menjadi 2.000 ton bijih per hari. Adapun target ini akan selesai pada Oktober 2026. Langkah ini menjadi bagian dari strategi untuk mengakselerasi produksi setelah fase transisi operasional berakhir.
Hal ini diakui Direktur Utama BRMS Agus Projosasmito. Ia menyampaikan bahwa perusahaan menargetkan produksi sekitar 80.000 troy ounce emas sepanjang 2026. Selain itu, BRMS juga menyiapkan pengembangan tambang bawah tanah yang direncanakan mulai beroperasi pada 2027.
Tambang bawah tanah ini dikenal memiliki kadar emas yang lebih tinggi dibanding tambang terbuka, sehingga berpotensi meningkatkan efisiensi dan output produksi ke depan.
Analisis Pengamat
Dari sisi pandangan pasar, pengamat pasar modal Hasan Zein Mahmud melihat kinerja kuartal I 2026 BRMS cukup menarik. Meskipun mengalami penurunan produksi emas mencapai sekitar 33 persen, Namun di saat bersamaan, kenaikan harga emas sebesar 61 persen dan lonjakan harga perak hingga 132 persen menjadi faktor utama yang menjaga pertumbuhan pendapatan dan laba.
Menurut mantan Dirut Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) ini menjelaskan, BRMS saat ini berada dalam fase jeda produksi, bukan pelemahan fundamental. Jika fase pushback selesai, perusahaan akan masuk ke fase produksi dengan kadar emas yang lebih tinggi. Belum lagi rencana pengembangan tambang bawah tanah dengan tingkat rendemen yang disebut bisa mencapai tiga kali lebih besar.
Dengan perkembangan tersebut, Hasan menilai periode Mei 2026 sebagai fase awal yang mulai menarik untuk melakukan akumulasi, seiring dengan ekspektasi perbaikan produksi dan peningkatan kapasitas yang berjalan hingga akhir tahun.
Proyeksi jangka menengahnya mengarah pada potensi harga saham di kisaran 1.500 dalam horizon investasi hingga 2027, sejalan dengan perubahan struktur produksi dan peningkatan kualitas cadangan.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.