KABARBURSA.COM - PT Bank Permata Tbk mengumumkan capaiannya selama kuartal pertama 2026. Selama periode tersebut, Permata Bank membukukan pertumbuhan laba bersih sebesar 16,6 persen secara tahunan (YoY).
Laba bersih Permata Bank ditopang oleh kenaikan pendapatan non-bunga sebesar 11,9 persen YoY. Selain itu hingga akhir Maret 2026, penyaluran kredit Permata Bank dinyatakan tumbuh sebesar 2,8 persen YoY menjadi Rp161 triliun.
Kinerja ini didorong oleh segmen korporasi yang naik 6,5 persen YoY menjadi Rp98,2 triliun, serta segmen komersial yang meningkat 1,8 persen YoY menjadi Rp19,7 triliun.
Direktur Utama Permata Bank, Meliza M. Rusli, mengatakan konsistensi strategi bisnis diklaim menjadi kunci ketahanan kinerja perseroan berkode saham BNLI tersebut.
“Kinerja Permata Bank pada kuartal pertama 2026 mencerminkan ketahanan dan disiplin kami dalam menjalankan strategi bisnis. Didukung oleh permodalan dan likuiditas yang kuat, serta pertumbuhan kredit yang selektif, kami terus menjaga kinerja bank dalam menghadapi dinamika pasar sekaligus mendukung kebutuhan nasabah dan pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan," ujarnya lewat keterangan resmi, Jumat, 24 April 2026.
Meliza menambahkan, Permata Bank akan terus mengembangkan talenta sumber daya manusia (SDM), optimalisasi kapabilitas digital, serta memperluas kemitraan strategis.
Sementara dari sisi fundamental, likuiditas dan permodalan Permata Bank diakui tetap kuat. Loan-to-Deposit Ratio (LDR) tercatat 87,1 persen, naik dari 83,2 persen pada periode yang sama tahun lalu.
Sedangkan untuk rasio likuiditas, berada jauh di atas ketentuan regulator dengan Liquidity Coverage Ratio (LCR) mencapai 267,4 persen dan Net Stable Funding Ratio (NSFR) sebesar 122,9 persen.
Optimalisasi neraca juga mendorong peningkatan dana murah (CASA) menjadi 65,5 persen, dari sebelumnya 58,6 persen pada kuartal I 2025.
Kondisi ini diyakini perusahaan bakal semakin memperkuat struktur pendanaan bank di tengah tekanan pasar.
Lebih lanjut, Rasio kredit bermasalah (NPL) gross Permata Bank saat ini berada di level 2,2 persen, sementara Loan at Risk (LAR) sebesar 6,4 persen.
Bank juga membentuk pencadangan secara konservatif dengan NPL coverage mencapai 355,7 persen dan LAR coverage 120,6 persen.
Permata Bank secara konsisten melakukan penanganan kredit bermasalah melalui restrukturisasi, litigasi, hingga penjualan aset untuk menjaga stabilitas portofolio.
Dari sisi permodalan, rasio Capital Adequacy Ratio (CAR) mencapai 33,9 persen dan Common Equity Tier 1 (CET-1) sebesar 25,9 persen.
Level ini menempatkan Permata Bank sebagai salah satu bank dengan permodalan terkuat di kelompok bank besar nasional, sekaligus membuka ruang ekspansi ke depan.
Di lini bisnis syariah, Permata Bank Syariah juga mencatat kinerja positif. Laba operasional sebelum provisi tumbuh 5,3 persen YoY menjadi Rp198,4 miliar. Hal ini didukung peningkatan pendapatan operasional sebesar 3,4 persen YoY.
Ke depan, unit usaha syariah akan fokus memperkuat neraca dan memperluas jaringan komunitas sebagai bagian dari strategi mendorong pertumbuhan industri keuangan syariah yang inklusif dan berkelanjutan.
Dengan dukungan Bangkok Bank sebagai pemegang saham pengendali, Permata Bank terus memperkuat konektivitas regional sekaligus menjaga posisi sebagai bank lokal dengan jaringan global.(*)