Logo
>

Dividen Rp200, Saham Sepi Peminat: ini Cerita BRAM, Pemasok Ban Dunia

BRAM membagikan dividen Rp200 per saham dengan dividend yield 4,73 persen. Di balik harga saham yang premium dan transaksi yang sangat tipis, emiten pemasok bahan baku ban global ini menyimpan fundamental yang mulai pulih.

Ditulis oleh Yunila Wati
Dividen Rp200, Saham Sepi Peminat: ini Cerita BRAM, Pemasok Ban Dunia
PT Indo Kordsa Tbk bergerak di industri serat sintetis dan kain ban, memproduksi benang nylon, benang polyester, serta kain ban. (Foto: dok BRAM)

KABARBURSA.COM - Di Bursa Efek Indonesia, ada beberapa saham yang jarang menjadi pembicaraan. Tidak ramai diperdagangkan, tidak sering masuk daftar top gainers atau top losers, tetapi diam-diam memiliki bisnis yang sangat spesifik dan pemain global sebagai induk usahanya.

PT Indo Kordsa Tbk (BRAM). Emiten ini bergerak di industri serat sintetis dan kain ban, memproduksi benang nylon, benang polyester, serta kain ban yang menjadi bahan penguat ban premium. Produknya tidak hanya dipasarkan di Indonesia, tetapi juga diekspor ke Eropa, Asia, hingga Timur Tengah.

Di kawasan Asia Tenggara, BRAM bahkan dikenal sebagai salah satu pemasok utama bahan penguat ban premium. Namun yang menarik, di tengah bisnis yang berskala internasional itu, saham BRAM justru memiliki likuiditas yang sangat terbatas.

Harga Premium, Investor Sedikit

Pada perdagangan Senin, 8 Juni 2026, BRAM ditutup di level Rp4.230, turun 1,63 persen dari penutupan sebelumnya di Rp4.300. Nilai transaksi sepanjang hari hanya sekitar Rp17,48 juta dengan volume 41 lot dan frekuensi transaksi hanya 16 kali.

Angka tersebut sangat kecil untuk ukuran perusahaan dengan kapitalisasi pasar hampir Rp1,9 triliun.

Orderbook juga menggambarkan kondisi yang sama. Total antrean beli hanya 14 lot, sedangkan antrean jual sekitar 160 lot. Bahkan di level bid tertinggi hanya terdapat tiga lot pada harga Rp4.210, sementara sisi penawaran tersebar mulai Rp4.340 hingga Rp4.810.

BRAM sepertinya lebih sering menjadi saham yang dipegang untuk investasi jangka panjang dibandingkan diperdagangkan setiap hari.

Free Float 15,98 Persen

Salah satu penyebabnya adalah struktur kepemilikan saham yang sangat terkonsentrasi. Sebanyak 61,59 persen saham BRAM dimiliki Kordsa Teknik Tekstil A.S., perusahaan asal Turki yang menjadi pengendali.

Pemegang saham terbesar kedua adalah Endang Lestari Pujiastuti dengan kepemilikan 16,57 persen, disusul masyarakat non-warkat sebesar 15,98 persen dan PT Risjadson Suryatama 5,61 persen.

Artinya, saham yang benar-benar beredar di publik hanya sekitar 15,98 persen.

Free float yang kecil inilah yang membuat likuiditas BRAM relatif rendah dan pergerakan harganya cenderung tidak seramai saham manufaktur lainnya.

Fundamental Bangkit, Neraca Sehat

Yang menarik justru datang dari laporan keuangannya. Pada kuartal I 2026, BRAM membukukan pendapatan Rp626 miliar.

Memang angka tersebut lebih rendah dibandingkan Rp689 miliar pada periode yang sama tahun lalu, tetapi laba bersih justru melonjak menjadi Rp96 miliar, jauh lebih tinggi dibandingkan Rp41 miliar pada kuartal I 2025.

Perbaikan tersebut membuat estimasi laba tahunan mencapai sekitar Rp385 miliar, berbalik dari kondisi 2025 yang masih mencatat rugi sekitar Rp38 miliar.

EPS juga berubah drastis dari negatif menjadi sekitar 855,65, menunjukkan pemulihan profitabilitas yang cukup signifikan.

Dengan kata lain, BRAM sedang memasuki fase turnaround.

Selain laba yang membaik, kondisi keuangan BRAM juga terlihat konservatif. Current ratio mencapai 2,74 kali, quick ratio 1,95 kali, sementara total liabilitas terhadap ekuitas hanya sekitar 0,25 kali.

Interest coverage berada di level 5,78 kali, sedangkan Altman Z-Score mencapai 6,89, yang mengindikasikan risiko finansial relatif rendah.

Perusahaan juga masih mencatat free cash flow positif sekitar Rp241 miliar.

Kondisi seperti ini memberikan ruang yang cukup besar bagi BRAM untuk mempertahankan kebijakan dividennya.

Dividen Konsisten Selama Bertahun-tahun

BRAM termasuk emiten yang memiliki budaya pembagian dividen yang sangat konsisten.

Sejak 2017, investor hampir setiap tahun menikmati pembagian dividen, bahkan beberapa kali dalam satu tahun.

Nominalnya juga relatif stabil. Pada 2020 dan 2021, BRAM membagikan dividen Rp400 per saham. Pada 2022 turun menjadi kombinasi Rp200 dan Rp300, lalu pada 2023 serta 2024 kembali membagikan Rp200 per saham sebanyak dua kali dalam setahun.

Untuk tahun buku 2025, RUPS kembali menyetujui dividen Rp200 per saham dengan total nilai sekitar Rp90 miliar, cum date pada 12 Juni 2026 dan pembayaran dijadwalkan pada 22 Juni 2026.

Dengan harga saham saat ini di kisaran Rp4.230, dividend yield BRAM mencapai sekitar 4,73 persen, lebih tinggi dibandingkan realisasi tahun sebelumnya yang berada di kisaran 3 persen.

Apakah BRAM Menarik?

Jawabannya bergantung pada tipe investor. Bagi trader harian, BRAM mungkin bukan pilihan ideal karena likuiditas sangat rendah dan spread harga cukup lebar. Namun bagi investor jangka panjang, BRAM menawarkan kombinasi yang menarik.

Perusahaan memiliki bisnis yang spesifik dengan posisi kuat di industri global, fundamental yang mulai pulih, neraca yang sehat, serta rekam jejak dividen yang konsisten.

Ditambah lagi, mayoritas saham berada di tangan pemegang saham strategis sehingga volatilitas cenderung lebih rendah dibandingkan saham dengan free float besar.

Karena itu, BRAM lebih tepat dipandang sebagai saham dividend play dengan karakter defensif, bukan saham yang mengejar kenaikan harga dalam waktu singkat.

Di tengah pasar yang semakin ramai oleh saham-saham berfluktuasi tinggi, BRAM justru menawarkan cerita yang berbeda: bergerak pelan, diperdagangkan sepi, tetapi tetap rutin membagikan keuntungan kepada pemegang sahamnya.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79