Logo
>

Laba PGE Tumbuh 40 Persen di Awal 2026, Ekspansi Panas Bumi Kian Agresif

Kinerja ini memperkuat posisi PGE untuk melanjutkan ekspansi bisnis panas bumi secara lebih agresif di tengah dorongan transisi energi dan meningkatkan kebutuhan energi

Ditulis oleh Gusti Ridani
Laba PGE Tumbuh 40 Persen di Awal 2026, Ekspansi Panas Bumi Kian Agresif
Laba PGE Tumbuh 40 Persen di Awal 2026, Ekspansi Panas Bumi Kian Agresif

KABARBURSA.COM – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) mencatat pencatatan laba bersih 40 persen pada kuartal I 2026, menandai awal tahun yang kuat bagi emiten panas bumi berkode saham PGEO tersebut. 

Kinerja ini memperkuat posisi PGE untuk melanjutkan ekspansi bisnis panas bumi secara lebih agresif di tengah dorongan transisi energi dan meningkatkan kebutuhan energi bersih nasional.

Berdasarkan laporan keuangan per 31 Maret 2026, PGE membukukan pendapatan sebesar USD116,555 juta, naik 14,8 persen secara tahunan dibandingkan USD101,507 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. 

Sementara itu, laba bersih perseroan tercatat sebesar US$43.899 juta, meningkat 40 persen dari USD31.352 juta pada kuartal I 2025.

Direktur Keuangan PGE Fransetya Hutabarat mengatakan perseroan tetap mampu menjaga profitabilitas yang sehat serta arus kas operasional yang kuat sepanjang tiga bulan pertama tahun ini.

“Sepanjang Kuartal I-2026, PGE mencatatkan laba bersih sebesar US$43,899 juta. Angka ini meningkat 40 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yaitu US$31,352 juta. Pertumbuhan ini didorong oleh efektivitas strategi bisnis berkelanjutan yang dijalankan Perseroan. Selain itu, kemampuan ini menempatkan PGE pada posisi keuangan yang solid untuk terus tumbuh secara berkelanjutan,” ujar Fransetya Hutabarat.

Selain pendapatan dan laba, sejumlah indikator keuangan lain juga menunjukkan penguatan. Total aset PGE tercatat mencapai US$3,06 miliar , naik 0,71 persen dibandingkan posisi 31 Desember 2025. 

Ekuitas perseroan meningkat menjadi US$2,09 miliar, atau tumbuh 2,23 persen , sementara kas dan setara kas naik menjadi US$745,213 juta , meningkat 3,72 persen dibandingkan akhir tahun lalu.

Dari sisi struktur permodalan, PGE juga mencatat penurunan liabilitas sebesar 2,44 persen dibandingkan 31 Desember 2025 menjadi US$964,737 juta. 

Penurunan kewajiban ini dinilai memberi dampak positif terhadap penguatan struktur modal sekaligus menurunkan risiko keuangan perseroan.

Manajemen menilai ekuitas, kas, dan penurunan liabilitas menunjukkan kondisi keuangan PGE tetap sehat dan memberi ruang yang cukup untuk melanjutkan ekspansi usaha. 

Hal ini menjadi penting karena panas bumi kini dipandang sebagai salah satu pilar utama dalam agenda transisi energi nasional.

Direktur Utama PGE Ahmad Yani menegaskan bahwa di tengah ketegangan geopolitik dan krisis energi global, pengembangan energi terbarukan, khususnya musim panas bumi, justru harus semakin dipercepat. 

Menurutnya, situasi global saat ini menjadi momentum bagi Indonesia untuk memaksimalkan potensi panas bumi yang dimiliki.

“Kondisi global tersebut menjadi momentum bagi Indonesia untuk semakin mengoptimalkan pengembangan panas bumi. Sejalan dengan itu, sebagai produsen panas bumi terkemuka dunia , PGE terus fokus pada pertumbuhan jangka panjang melalui tiga strategi utama: optimalisasi aset yang ada, ekspansi bisnis, dan diversifikasi sumber pendapatan baru. Kinerja PGE yang solid dalam beberapa tahun terakhir menjadi fondasi kuat untuk pertumbuhan berkelanjutan. Ke depan, capaian ini menjadi bekal bagi kami untuk terus berekspansi dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” ujar Ahmad Yani dalam keterangan resminya, dikutip Kamis 30 April 2026.

Prospek sektor energi baru juga dinilai semakin terbuka lebar. Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) 2025-2034, porsi energi baru yang ditargetkan mencapai 76 persen, dengan panas bumi diharapkan memberikan kapasitas sebesar 5,2 gigawatt (GW) selama periode tersebut.

Untuk mendukung target tersebut, PGE menargetkan kapasitas terpasang sebesar 1 GW pada tahun 2028 dan meningkat menjadi 1,8 GW pada tahun 2034. 

Saat ini, perseroan mengelola 15 Wilayah Kerja Panas Bumi dengan kapasitas terpasang mencapai 727 megawatt (MW).

Dengan porsi sekitar 70 persen dari total kapasitas terpasang panas bumi nasional, PGE kini menjadi salah satu pemain kunci dalam penyediaan listrik berbasis energi bersih di Indonesia. 

Peran ini membuat perseroan berada pada posisi strategis, baik dalam menopang sistem kelistrikan nasional maupun dalam mendukung penurunan emisi karbon.

Tak hanya dari sisi keuangan dan operasional, PGE juga mencatat capaian positif pada aspek perjalanan. 

Perseroan meraih skor ESG tertinggi di Indonesia, yakni 7,1 dari Sustainalytics, dan menjadi satu-satunya perusahaan Indonesia yang masuk dalam daftar Top 50 Global ESG Companies 2025.

Capaian ini menegaskan bahwa ekspansi PGE tidak hanya bertumpu pada pertumbuhan bisnis, tetapi juga pada penguatan tata kelola dan kemiskinan. 

Dengan laba yang tumbuh signifikan, kas yang kuat, dan target ekspansi yang semakin agresif, PGE kini berada dalam posisi yang semakin kokoh untuk memainkan peran sentral dalam pengembangan panas bumi nasional.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang