Logo
>

BRI Latih 60 Purna PMI di Cirebon Bangun Usaha Mandiri

BRI Peduli membekali 60 purna PMI di Cirebon dengan pelatihan kewirausahaan, literasi keuangan, dan pendampingan bisnis berkelanjutan.

Ditulis oleh Harun Rasyid
BRI Latih 60 Purna PMI di Cirebon Bangun Usaha Mandiri
Program BRI Peduli memberi pelatihan kepada 60 purna pekerja migran di Cirebon, perkuat kemampuan wirausaha dan ketahanan ekonomi. Foto: dok. BRI

KABARBURSA.COM – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk melalui program tanggung jawab sosial (TJSL) BRI Peduli menggelar pelatihan kewirausahaan bagi 60 purna Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.

Program BRI tersebut ditujukan bagi para pekerja migran yang telah menyelesaikan kontrak kerja di luar negeri dan kembali ke Indonesia. Tujuannya, agar PMI mampu membangun usaha produktif sekaligus meningkatkan ketahanan ekonomi keluarga.

Pelatihan yang digelar di Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Cirebon itu mencakup berbagai materi, mulai dari dasar-dasar kewirausahaan, identifikasi potensi usaha dan peluang pasar lokal, penyusunan rencana bisnis (business plan), manajemen produksi, pemasaran dan keuangan, sampai penguatan mental wirausaha serta pendampingan bisnis setelah pelatihan.

Corporate Secretary BRI, Dhanny mengatakan, Program Pemberdayaan Purna PMI dirancang untuk membekali peserta dengan keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan. Sehingga dapat menciptakan peluang usaha maupun meningkatkan kesempatan kerja di dalam negeri.

Menurutnya, program tersebut juga bertujuan meningkatkan kemampuan purna PMI dalam menyusun perencanaan bisnis serta mengelola usaha secara berkelanjutan.

Melalui pelatihan ini, peserta didorong untuk memulai ataupun mengembangkan usaha sesuai potensi daerah masing-masing. Selain itu, mereka akan memperoleh pendampingan bisnis secara intensif agar usaha yang dijalankan mampu tumbuh lebih optimal dan memiliki daya saing.

"Dengan dukungan mentor yang berpengalaman, mereka diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan, sekaligus berkontribusi secara aktif dalam mendorong pembangunan ekonomi masyarakat," jelas Dhanny lewat keterangan resmi, Selasa, 30 Juni 2026.

Lebih lanjut, BRI menilai Kabupaten Cirebon menjadi salah satu daerah prioritas dalam program tersebut.

Berdasarkan data penempatan PMI per Desember 2025 dari Pusat Data dan Informasi Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia, Jawa Barat menjadi daerah asal PMI terbesar di Indonesia dengan kontribusi sekitar 21,93 persen dari total nasional.

Sementara itu, Kabupaten Cirebon masuk dalam lima besar daerah asal PMI dengan kontribusi 4,02 persen. Jumlah pekerja migran dari wilayah tersebut juga meningkat dari 767 orang menjadi 886 orang sepanjang 2025 atau tumbuh 15,51 persen.

"Ini menunjukkan bahwa Kabupaten Cirebon merupakan salah satu wilayah prioritas dalam upaya pemberdayaan purna migran yang diharapkan dapat meningkatkan kapasitas serta ketahanan ekonomi, mendorong tumbuh dan berkembangnya usaha-usaha produktif yang mereka kelola, serta membuka peluang penghidupan yang berkelanjutan di dalam negeri," imbuh Dhanny.

Salah seorang peserta, Tanipa, purna PMI asal Desa Bungko Lor, Kecamatan Kapetakan, Kabupaten Cirebon, mengaku memperoleh banyak manfaat dari pelatihan tersebut.

Perempuan yang pernah bekerja di Hong Kong, Bahrain, dan Singapura itu mengatakan materi yang diberikan tidak hanya membahas seputar bisnis, tetapi juga literasi keuangan dan strategi pengembangan usaha.

"Materi yang diberikan sangat relevan dengan kebutuhan purna PMI dalam mengembangkan usaha. Saya berharap pelatihan serupa dapat terus dilaksanakan oleh BRI agar semakin banyak purna PMI yang merasakan manfaat positif dari program tersebut," jelas Tanipa. (Info-bks/*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Harun Rasyid

Harun Rasyid adalah jurnalis KabarBursa.com yang fokus pada liputan pasar modal, sektor komersial, dan industri otomotif. Berbekal pengalaman peliputan ekonomi dan bisnis, ia mengolah data dan regulasi menjadi laporan faktual yang mendukung pengambilan keputusan pelaku pasar dan investor. Gaya penulisan lugas, berbasis riset, dan memenuhi standar etika jurnalistik.