KABARBURSA.COM - PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL), yang lebih dikenal sebagai Mitratel, kembali mengukuhkan reputasinya di pasar keuangan. Perseroan berhasil mempertahankan peringkat tertinggi idAAA dengan prospek stabil dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO) untuk Obligasi Berkelanjutan I, serta idAAA(sy) untuk Sukuk Ijarah Berkelanjutan I.
Informasi tersebut disampaikan secara resmi kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui keterbukaan informasi tertanggal 14 April 2026, yang dipublikasikan di laman IDX pada Selasa. Dokumen itu ditandatangani oleh Direktur Investasi sekaligus Sekretaris Perusahaan Mitratel, Hendra Purnama.
Manajemen menegaskan bahwa pelaporan ini merupakan bagian dari komitmen perseroan dalam menjunjung tinggi prinsip transparansi kepada regulator maupun investor. Sebuah langkah yang mencerminkan tata kelola perusahaan yang disiplin.
Dalam penilaiannya, PEFINDO menempatkan Mitratel pada posisi yang sangat kokoh di industri menara telekomunikasi. Hal ini ditopang oleh aliran pendapatan berulang dari bisnis penyewaan menara, serta dukungan struktural dari induk usaha, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM).
Kinerja finansial perseroan juga dinilai berada dalam kondisi prima, dengan visibilitas pendapatan yang terjaga. Prospek stabil yang disematkan mencerminkan keyakinan bahwa Mitratel mampu mempertahankan performa operasional dan keuangan di tengah lanskap industri yang kompetitif.
Meski demikian, PEFINDO memberikan catatan kehati-hatian. Ketergantungan terhadap pendanaan eksternal menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati. Peringkat dapat tertekan apabila terjadi pelemahan signifikan pada posisi pasar, penurunan realisasi pendapatan dan EBITDA di bawah ekspektasi, atau lonjakan utang yang tidak diimbangi pertumbuhan bisnis.
Secara fundamental, Mitratel menutup tahun buku 2025 dengan total aset konsolidasi sebesar Rp57,03 triliun. Ekuitas tercatat Rp32,03 triliun, sementara total liabilitas mencapai Rp21,48 triliun. Dari sisi operasional, perseroan membukukan pendapatan Rp9,53 triliun, EBITDA Rp7,83 triliun, serta laba bersih Rp2,12 triliun.
Margin EBITDA tetap impresif di level 82,2 persen—sebuah indikator efisiensi yang terjaga. Rasio utang terhadap EBITDA berada di kisaran 2,7 kali, sedangkan rasio FFO terhadap utang mencapai 26 persen.
Sebagai entitas anak PT Telkom Indonesia dengan kepemilikan 71,83 persen, Mitratel telah melantai di Bursa Efek Indonesia sejak 2021. Kini, perseroan menjelma menjadi salah satu operator menara telekomunikasi terbesar di Tanah Air. Sisa sahamnya dimiliki publik, PT Mettle Investama, serta Government of Singapore.
Dengan perolehan peringkat idAAA ini, Mitratel semakin mempertegas kredibilitasnya di pasar surat utang. Pencapaian tersebut diharapkan mampu menjaga kepercayaan investor terhadap instrumen obligasi dan sukuk yang diterbitkan, sekaligus menopang langkah ekspansi bisnis perseroan di masa mendatang.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.