Logo
>

Net Buy Asing Rp3,2 Triliun, IHSG Diprediksi Konsolidasi di 9.200

Masuknya kembali dana asing mencerminkan respons positif investor global terhadap stabilitas makroekonomi Indonesia.

Ditulis oleh Desty Luthfiani
Net Buy Asing Rp3,2 Triliun, IHSG Diprediksi Konsolidasi di 9.200
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan sepekan terakhir dengan kinerja positif. (Foto: KabarBursa/Desty Luthfiani)

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan sepekan terakhir dengan kinerja positif. Hingga akhir perdagangan Kamis, 14 Januari 2026, IHSG menguat 1,55 persen ke level 9.075. 

    Penguatan ini didukung oleh arus dana asing yang kembali masuk ke pasar saham domestik dengan catatan net buy sebesar Rp3,2 triliun sepanjang sepekan.

    Masuknya kembali dana asing mencerminkan respons positif investor global terhadap stabilitas makroekonomi Indonesia, di tengah dinamika dan volatilitas pasar global yang masih tinggi.

    Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, menjelaskan bahwa pergerakan pasar global sepanjang pekan lalu cenderung positif, meskipun dibayangi ketidakpastian geopolitik. Menurutnya, stabilnya data ekonomi Amerika Serikat menjadi salah satu penopang sentimen pasar.

    “Pasar global bergerak relatif positif dengan dukungan data ekonomi AS yang stabil, meskipun risiko geopolitik masih membayangi,” ujar Imam dalam keterangan tertulis Senin, 19 Januari 2026.

    Imam jelaskan dari sisi inflasi, Consumer Price Index Amerika Serikat pada Desember 2025 tercatat sebesar 2,7 persen secara tahunan, tidak berubah dibandingkan bulan sebelumnya dan sesuai dengan ekspektasi pasar. Inflasi inti juga bertahan di level 2,6 persen yoy, yang merupakan posisi terendah sejak 2021.

    Sementara itu, indikator aktivitas ekonomi AS masih menunjukkan ketahanan. Penjualan ritel Amerika Serikat tumbuh 3,3 persen year on year (yoy) pada November 2025, diikuti oleh kenaikan Producer Price Index sebesar 3 persen yoy. Kondisi pasar tenaga kerja juga tetap solid, tercermin dari initial jobless claims yang turun menjadi 198 ribu pada pekan yang berakhir 10 Januari, jauh di bawah perkiraan pasar.

    Namun demikian, sentimen global sempat terganggu oleh meningkatnya risiko perdagangan setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana pengenaan tarif 10 persen terhadap barang-barang dari sejumlah negara Eropa, dengan ancaman kenaikan hingga 25 persen mulai Juni, yang dikaitkan dengan sengketa Greenland.

    “Rencana tarif tersebut memicu respons keras dari Uni Eropa dan meningkatkan ketidakpastian pasar karena dasar hukum serta mekanisme penerapannya masih belum jelas,” kata Imam.

    Dari China, data ekonomi menunjukkan kontras yang cukup tajam antara sektor eksternal dan kondisi domestik. Sepanjang 2025, China mencatatkan surplus perdagangan rekor sebesar USD 1,189 triliun, dengan ekspor tumbuh 5,5 persen yoy, sementara impor relatif stagnan.

    Pada Desember 2025, ekspor China meningkat 6,6 persen yoy, melampaui ekspektasi pasar, sedangkan impor tumbuh 5,7 persen yoy. Pergeseran tujuan ekspor ke Uni Eropa dan Asia Tenggara menjadi pendorong utama, sementara surplus perdagangan China dengan Amerika Serikat justru menurun.

    Di sisi domestik, pertumbuhan kredit China masih tertahan. Pertumbuhan outstanding yuan loan bertahan di level 6,4 persen yoy, terendah sepanjang sejarah, meskipun suplai uang M2 meningkat 8,5 persen yoy ke level tertinggi. Merespons kondisi tersebut, People’s Bank of China menegaskan masih terdapat ruang untuk menurunkan suku bunga dan giro wajib minimum.

    Dari sektor riil, penjualan kendaraan China sepanjang 2025 tumbuh 9,4 persen yoy menjadi 34,4 juta unit, dengan lonjakan penjualan kendaraan energi baru sebesar 28,2 persen yoy. Namun secara bulanan, penjualan kendaraan pada Desember justru turun 6,2 persen yoy, mencerminkan pelemahan di akhir tahun.

    Di tengah ketidakpastian global tersebut, kinerja pasar domestik Indonesia justru menunjukkan sinyal positif. Penjualan ritel Indonesia pada November 2025 tumbuh 6,3 persen yoy, meningkat dari bulan sebelumnya dan menjadi laju pertumbuhan tercepat sejak Maret 2024.

    “Pertumbuhan terjadi di hampir seluruh kategori, termasuk makanan dan minuman, suku cadang otomotif, serta barang rekreasi,” ujar Imam.

    Secara bulanan, penjualan ritel juga meningkat 1,5 persen, menjadi pertumbuhan tertinggi dalam delapan bulan terakhir. Selain konsumsi, aliran Foreign Direct Investment Indonesia pada kuartal IV 2025 tumbuh 4,3 persen yoy menjadi Rp256,3 triliun, berbalik dari kontraksi pada kuartal sebelumnya. 

    Sepanjang 2025, total FDI tercatat relatif stabil di Rp900,9 triliun, dengan sektor logam dasar dan pertambangan sebagai tujuan utama investasi.

    Dari sisi komoditas, harga minyak WTI naik 0,4 persen dan ditutup di USD 59,44 per barel, seiring meredanya kekhawatiran eskalasi militer Amerika Serikat terhadap Iran. Harga batu bara juga menguat mendekati USD 110 per ton, didorong rencana China meluncurkan lebih dari 100 pembangkit listrik tenaga batu bara baru.

    Di segmen logam, harga timah melonjak ke USD 53.400 per ton, mencetak rekor tertinggi sejak 2022 akibat permintaan yang kuat dan keterbatasan pasokan global. Sementara itu, harga emas terkoreksi sekitar 1 persen ke USD 4.560 per ons, seiring meredanya permintaan aset lindung nilai.

    Memasuki pekan perdagangan 19 hingga 23 Januari 2026, IPOT memproyeksikan IHSG akan bergerak dalam fase konsolidasi. Fokus pasar akan tertuju pada sejumlah rilis data ekonomi global dan keputusan kebijakan penting.

    “Dalam jangka pendek, IHSG diperkirakan bergerak konsolidasi dengan support di level 9.000 dan resistance di sekitar 9.200,” kata Imam.

    Dari China, perhatian investor akan tertuju pada rilis pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2025 yang diperkirakan sebesar 4,4 persen yoy, serta data penjualan ritel dan tingkat pengangguran Desember. Selain itu, keputusan Loan Prime Rate tenor 1 tahun dan 5 tahun juga menjadi sorotan, meskipun konsensus pasar memperkirakan suku bunga tetap.

    Dari dalam negeri, pelaku pasar menantikan keputusan suku bunga Bank Indonesia. Pasar memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen, dengan fokus menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tekanan eksternal. (*)

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Desty Luthfiani

    Desty Luthfiani seorang jurnalis muda yang bergabung dengan KabarBursa.com sejak Desember 2024 lalu. Perempuan yang akrab dengan sapaan Desty ini sudah berkecimpung di dunia jurnalistik cukup lama. Dimulai sejak mengenyam pendidikan di salah satu Universitas negeri di Surakarta dengan fokus komunikasi jurnalistik. Perempuan asal Jawa Tengah dulu juga aktif dalam kegiatan organisasi teater kampus, radio kampus dan pers mahasiswa jurusan. Selain itu dia juga sempat mendirikan komunitas peduli budaya dengan konten-konten kebudayaan bernama "Mata Budaya". 

    Karir jurnalisnya dimulai saat Desty menjalani magang pendidikan di Times Indonesia biro Yogyakarta pada 2019-2020. Kemudian dilanjutkan magang pendidikan lagi di media lokal Solopos pada 2020. Dilanjutkan bekerja di beberapa media maenstream yang terverifikasi dewan pers.

    Ia pernah ditempatkan di desk hukum kriminal, ekonomi dan nasional politik. Sekarang fokus penulisan di KabarBursa.com mengulas informasi seputar ekonomi dan pasar modal.

    Motivasi yang diilhami Desty yakni "do anything what i want artinya melakukan segala sesuatu yang disuka. Melakukan segala sesuatu semaksimal mungkin, berpegang teguh pada kebenaran dan menjadi bermanfaat untuk Republik".