KABARBURSA.COM – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memasuki pekan ini diperkirakan masih berada dalam tekanan, seiring kombinasi sentimen global dan domestik yang belum mereda.
Setelah melewati pekan perdagangan yang menantang, IHSG ditutup di level 7.026 atau melemah sekitar 0,99 persen dibandingkan pekan sebelumnya pada penutupan Kamis, 2 April 2025, menjelang libur nasional Jumat Agung.
Pelemahan ini turut diiringi aksi jual investor asing yang mencatatkan outflow sebesar Rp2,8 triliun di pasar reguler, mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar terhadap berbagai risiko yang berkembang.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan, menilai tekanan terhadap pasar saham Indonesia masih dipengaruhi kuat oleh dinamika global, terutama meningkatnya tensi geopolitik.
Ia menyebut pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait kesiapan menyerang Iran memicu kepanikan investor global dan mendorong peralihan dana ke aset safe haven.
"Akibatnya muncul ketidakpastian tinggi, sehingga aset berisiko seperti saham di pasar berkembang, termasuk IHSG kemungkinan besar bakal kena aksi jual jangka pendek," jelas David dalam keterangan tertulis pada Senin, 6 April 2026.
Selain faktor global, David menyebut sentimen domestik juga turut membebani pasar, khususnya terkait kebijakan pemerintah mengenai implementasi program B50.
Kebijakan peningkatan campuran biodiesel berbasis sawit menjadi 50 persen mulai 1 Juli dikhawatirkan akan mengganggu keseimbangan pasokan crude palm oil (CPO) untuk kebutuhan pangan.
Kondisi tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga minyak goreng dan inflasi, yang pada akhirnya dapat menekan daya beli masyarakat. Sektor consumer goods pun dinilai menjadi salah satu yang paling rentan terdampak oleh kebijakan ini.
Memasuki periode perdagangan 6 hingga 10 April 2026, David mengingatkan pelaku pasar untuk mencermati dua indikator utama, yakni pergerakan nilai tukar rupiah dan harga minyak dunia yang saat ini berada dalam tren meningkat.
"Kondisi ekonomi Indonesia saat ini sedang menghadapi ujian berat akibat kombinasi lonjakan harga minyak dunia dan pelemahan nilai tukar Rupiah yang cukup drastis," ujarnya.
Menurutnya, jika harga minyak mentah mampu bertahan di atas level US$100 per barel, maka beban subsidi energi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) berpotensi meningkat signifikan. Hal ini berisiko memperlebar defisit fiskal dan menambah tekanan terhadap stabilitas ekonomi domestik.
Di sisi lain, pelemahan nilai tukar Rupiah yang sempat menembus Rp17.000 per dolar AS turut memperbesar biaya impor bahan baku. Dampak lanjutannya adalah kenaikan inflasi yang dapat mempersempit ruang konsumsi masyarakat dan menekan kinerja emiten di berbagai sektor.
Tak hanya itu, sentimen tambahan juga datang dari penyesuaian komposisi kepemilikan saham global seiring proyeksi perubahan metodologi MSCI. Faktor ini dinilai dapat memicu tekanan lanjutan terhadap IHSG, terutama dari sisi aliran dana asing.
Menurut dia berbagai faktor tersebut, IHSG pada pekan ini diproyeksikan bergerak dalam tren melemah dengan rentang support di level 6.700 dan resistance di 7.250.
Rentang ini mencerminkan ruang gerak indeks yang masih terbatas di tengah tingginya ketidakpastian pasar, sehingga investor disarankan tetap selektif dan disiplin dalam menerapkan strategi trading jangka pendek.(*)