KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tertekan pada penutupan sesi II perdagangan Kamis, 21 Mei 2026. Berdasarkan data perdagangan, IHSG ditutup melemah 174,14 poin atau turun 2,76 persen ke level 6.144,36.
Sepanjang perdagangan, indeks sempat menyentuh level tertinggi di 6.378,81 sebelum terkoreksi hingga menyentuh level terendah 6.134,99. Tekanan jual terjadi hampir di seluruh sektor seiring meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap kondisi pasar domestik.
Total volume transaksi tercatat mencapai 199,16 juta lot dengan nilai perdagangan sebesar Rp9,78 triliun dari 1,29 juta transaksi. Sementara itu, investor asing membukukan net foreign sell sebesar Rp130,88 miliar di pasar reguler.
Pelemahan tajam ini terjadi sehari setelah pidato Presiden Prabowo Subianto di DPR yang turut menjadi perhatian pelaku pasar. Prabowo dalam pidatonya menyinggung berbagai isu ekonomi termasuk salah satunya akan mengesahkan Perpres soal ekspor harus satu pintu lewat BUMN yang ditunjuk pemerintah. Di media sosial, banyak investor ritel mengeluhkan portofolio investasi mereka yang mengalami floating loss setelah IHSG anjlok hampir menyentuh 3 persen dalam sehari.
Sebelumnya, pada 19 Mei 2026, Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad bersama Kepala Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) Rosan Roeslani dan Chief Operating Officer Danantara Dony Oskaria mendatangi Gedung Bursa Efek Indonesia untuk memberikan dukungan terhadap pasar modal nasional di tengah tekanan pasar.
Dalam kunjungan tersebut, DPR dan Danantara menyampaikan pesan bahwa investasi di pasar modal merupakan investasi jangka panjang dan fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih kuat.
Pjs Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, mengatakan tidak ada arahan khusus dari Presiden kepada pasar modal. Menurut dia, pemerintah justru menyampaikan optimisme terhadap prospek ekonomi nasional dalam jangka menengah dan panjang.
“Kan kemarin waktu ada kunjungan dari DPR dan Danantara ke sini juga sudah disampaikan pesan bahwa investasi di pasar modal adalah investasi jangka panjang,” ujar Jeffrey di Gedung BEI, Kamis, 21 Mei 2026.
Jeffrey mengatakan pemerintah juga menekankan pentingnya perbaikan iklim usaha dan percepatan perizinan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
“Kemarin juga ada pesan dari Bapak Presiden bahwa kemudahan berusaha, perizinan juga akan dipermudah dari yang dua tahun diharapkan bisa dalam hitungan minggu. Tentu itu akan memberikan efek positif kepada perekonomian dan nanti tentunya implikasinya kepada pasar modal dalam jangka menengah panjang,” katanya.
Meski IHSG mengalami tekanan cukup dalam, BEI menilai fundamental ekonomi Indonesia ke depan masih berada dalam jalur positif. Optimisme tersebut didorong oleh ekspektasi percepatan investasi, perbaikan iklim usaha, serta dorongan kebijakan pemerintah untuk menjaga pertumbuhan ekonomi domestik.
“Jadi kami sih positif,” ujar Jeffrey.
Saat ditanya apakah terdapat arahan khusus dari Presiden terkait kondisi pasar modal saat ini, Jeffrey menegaskan tidak ada instruksi tertentu yang diberikan kepada BEI.
“Enggak, enggak ada,” katanya.(*)