KABARBURSA.COM - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat data perdagangan saham selama sepekan periode 27—30 April 2026 ditutup pada zona negatif.
Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad mengatakan penurunan dalam dialami oleh Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam sepakan. Para periode tersebut, indeks turun hingga 2,42 persen.
"Sehingga ditutup pada level 6.956,804, dari posisi 7.129,490 pada pekan lalu," ujar dia dalam keterangannya, Kamis, 30 April 2026.
Kapitalisasi pasar BEI pada pekan ini menjadi Rp12.382 triliun. Kautsar bilang, angka ini menurun dibanding pekan sebelumnya yang sebesar Rp12.736 triliun.
Kemudian, rata-rata nilai transaksi harian pun menyusut sebesar 6,81 persen menjadi Rp18,27 triliun dari Rp19,61 triliun pada pekan sebelumnya.
"Rata-rata frekuensi transaksi harian pekan ini juga mengalami perubahan, yaitu sebesar 15,02 persen menjadi 2,34 juta kali transaksi dari 2,75 juta kali transaksi pada pekan lalu," ungkap Kautsar.
Tak hanya itu, rata-rata volume transaksi harian BEI pekan ini turut mengalami pelemahan menjadi 37,11 miliar lembar saham, atau turun 17,32 persen dibanding pekan sebelumnya 44,88 miliar lembar saham.
Adapun investor asing pada Kamis, 30 April 2026 mencatatkan nilai jual bersih Rp1,486 triliun. Untuk sepanjang tahun 2026 ini, kata Kautsar, investor asing telah mencatatkan nilai jual bersih sebesar Rp49,874 triliun.
Rupiah Tergelincir ke Rp17.353
Di sisi lain, Mata uang rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sebesar 27 poin ke level Rp17.35 pada Kamis, 30 April 2026. Pelemahan ini tidak lepas dari sentimen yang masih berkecamuk di Timur Tengah (Timteng).
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan Presiden AS, Donald Trump bersiap untuk blokade angkatan laut yang berkepanjangan terhadap Iran.
"Kekhawatiran atas skenario tersebut diperparah oleh laporan bahwa beberapa eksekutif minyak Amerika terkemuka bertemu dengan Trump di Gedung Putih untuk membahas bagaimana membatasi dampak konflik terhadap keluarga Amerika," ujar dia dalam keterangannya.
Ibrahim menyebut, blokade angkatan laut yang berkepanjangan kemungkinan akan membuat Iran terus memblokir Selat Hormuz sebagai pembalasan.
"Blokade yang berkepanjangan di jalur pelayaran tersebut menunjukkan gangguan pasokan minyak global yang lebih besar," ungkap dia.
Ia bilang, lalu lintas kapal melalui Hormuz telah melambat sejak Iran memblokir jalur tersebut pada akhir Februari, mengganggu sekitar 20 pasokan minyak dunia.
Sentimen juga datang MSCI. Menurut Ibrahim, dampak kebijakan MSCI yang menahan aliran dana asing, membuat mata uang rupiah tertekan di tengah kombinasi sentimen global, tekanan makro, dan dinamika domestik.
"Keputusan tersebut membuka potensi keluarnya dana asing atau outflow hingga Rp15 triliun," jelasnya.
Adapun untuk perdagangan Senin pekan depan, 4 Mei 2026, Ibrahim memprediksi mata uang rupiah akan bergerak flutuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.350-Rp17.400. (*)