KABARBURSA.COM - PT Pertamina Hulu Energi (PHE) dilaporkan sukses menguasai mayoritas operasional hulu migas dengan menyumbang hingga 65 persen dari total produksi siap jual (lifting) minyak mentah di Indonesia.
Selain minyak, PHE juga memegang peranan krusial dengan mengamankan sekitar 35 persen pasokan gas bumi domestik lewat pengelolaan 27 persen Wilayah Kerja (WK) operator migas di tanah air.
Direktur Utama PHE, Awang Lazuardi, mengungkapkan bahwa di balik besarnya kontribusi tersebut, manajemen menghadapi tantangan industri yang masif, yaitu laju penurunan produksi alamiah (natural decline) yang tinggi pada sumur-sumur minyak tua Indonesia.
“Perlu kita paham bahwa untuk bisnis migas kita harus melawan tantangan natural decline, di mana rata-rata natural decline kita untuk minyak adalah 24 persen, sedangkan gas 21 persen. Artinya apa? Jika kita tidak melakukan apa-apa, tidak ada effort untuk menahan decline, maka produksi kita secara natural setiap tahun untuk minyak akan turun 24 persen dan gas turun 21 persen," ujar Awang dalam RDP Komisi XII DPR RI, Senin, 25 Mei 2026.
Untuk melawan penurunan alami tersebut, PHE menerapkan strategi agresif sepanjang tahun lalu dengan mengebor hampir 900 sumur pengembangan (eksploitasi), melakukan lebih dari 1.300 aktivitas workover, serta mengesekusi di atas 37.000 tindakan intervensi sumur (well intervention).
Hasilnya, pada tahun 2025 total produksi migas grup PHE berhasil menembus angka 1,32 juta barel setara minyak per hari.
Awang menambahkan, PHE tidak hanya fokus mempertahankan sumur eksis melalui optimalisasi teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) lewat suntikan uap (steam) maupun kimia (chemical injection). Agresivitas berburu blok baru juga mulai membuahkan hasil manis sebagai masa depan baru energi Indonesia.
“Di periode 2022 sampai 2025 kita banyak mendapatkan WK baru eksplorasi, di antaranya adalah Peri Mahakam, East Natuna, Bunga, Peri Mahakam Timur, Pinayan, dan Lavender. Ini akan menjadi game changer kita apabila eksplorasi di sini memberikan hasil signifikan,” kata Awang.
Bukan sekadar rencana, strategi keluar dari zona nyaman ini telah dibuktikan lewat kesuksesan pengerukan Minyak Non-Konvensional (MNK) di Sumatra. Teknologi ini berhasil mendeteksi harta karun baru yang siap menambah tebal cadangan Pertamina.
“Alhamdulillah kita juga berhasil melakukan eksplorasi di minyak non-konvensional di wilayah Riau dengan temuan 2C sekitar 1 billion (miliar) barel minyak ekuivalen," bebernya.
Guna menjaga kelayakan ekonomi proyek-proyek berat dan lapangan marginal tersebut, Awang juga mengapresiasi dukungan insentif fiskal yang mulai dikucurkan oleh pemerintah.
Langkah ini dinilai menjadi angin segar bagi perseroan untuk terus memacu kegiatan eksplorasi dan pengembangan demi memangkas ketergantungan impor energi nasional.(*)