KABARBURSA.COM - PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) pada 16 Juni 2026, secara resmi mendaftarkan prospektus final kepada Hong Kong Exchanges and Clearing Limited (HKEX) sebagai bagian dari proses penerbitan Hong Kong Depositary Receipts (HDR), melanjutkan permohonan pencatatan yang sebelumnya diajukan pada 20 Maret 2026.
Langkah ini bukan sekadar formalitas administratif. Masuk ke pasar modal Hong Kong berarti EMAS sedang membuka pintu yang lebih lebar kepada investor internasional. Dengan akses ke salah satu pusat keuangan terbesar di Asia, perusahaan berpeluang memperoleh basis investor yang lebih beragam sekaligus meningkatkan visibilitas global.
Namun, ada catatan yang tidak bisa diabaikan. Prospektus final tersebut menjelaskan bahwa HDR bukan merupakan penawaran umum berdasarkan regulasi pasar modal Indonesia dan tidak ditawarkan kepada warga negara maupun entitas Indonesia.
Artinya, instrumen ini memang disiapkan untuk pasar internasional, bukan untuk investor domestik.
Menariknya lagi, manajemen juga menegaskan bahwa registrasi prospektus final tersebut diperkirakan tidak memberikan dampak material terhadap kegiatan operasional, kondisi hukum, keuangan, maupun kelangsungan usaha perseroan.
Pernyataan tersebut seolah memberikan pesan bahwa penerbitan HDR lebih merupakan strategi pembiayaan dan perluasan akses pasar daripada katalis yang langsung mengubah fundamental perusahaan.
Pendapatan Nihil, Rugi Kotor Capai Rp3 Miliar
Di balik langkah ekspansi global tersebut, laporan keuangan perusahaan masih tertekan.
Pada kuartal IV 2025, EMAS membukukan pendapatan nihil, sementara beban pokok penjualan mencapai sekitar Rp3 miliar sehingga menghasilkan rugi kotor Rp3 miliar. Beban usaha yang mencapai Rp109 miliar membuat rugi usaha melebar menjadi Rp112 miliar.
Tekanan tersebut berlanjut hingga laba sebelum pajak yang masih negatif Rp87 miliar dan akhirnya menghasilkan rugi bersih tahun berjalan sebesar Rp87 miliar.
Jika melihat beberapa kuartal sebelumnya, catatan itu sudah terjadi dari kuartal-kuartal sebelumnya.
Pada kuartal III 2025, rugi bersih masih mencapai Rp214 miliar, sedangkan kuartal I 2025 mencatat rugi Rp151 miliar. Bahkan pada kuartal IV 2024 perusahaan juga masih membukukan rugi Rp65 miliar.
Artinya, secara fundamental EMAS memang masih berada dalam fase investasi dan ekspansi, di mana arus kas dan profitabilitas belum sepenuhnya stabil.
Kondisi itu juga tercermin dalam rasio keuangannya. Return on Assets (ROA) kuartal IV 2025 masih berada di minus 0,70 persen, Return on Equity (ROE) minus 1,36 persen, sementara Return on Capital Employed (ROCE) masih minus 1,04 persen.
EBITDA juga masih negatif sekitar Rp30,78 miliar, memperlihatkan bahwa operasional perusahaan masih menghadapi tekanan sebelum mampu menghasilkan keuntungan yang berkelanjutan.
Dengan kondisi tersebut, pasar tampaknya memilih bersikap hati-hati.
Bid Tebal Meskipun Harga Turun 175 Poin
Pada sesi pertama perdagangan hari ini, saham EMAS ditutup di level Rp6.825, turun 175 poin atau 2,50 persen dari penutupan sebelumnya di Rp7.000.
Padahal pada awal perdagangan saham ini sempat menunjukkan optimisme.
EMAS dibuka di level Rp7.025 dan bahkan menyentuh harga tertinggi Rp7.225. Namun tekanan jual perlahan mendominasi hingga harga turun ke level terendah Rp6.700 sebelum akhirnya sedikit pulih ke Rp6.825.
Nilai transaksi mencapai sekitar Rp168,1 miliar dengan volume perdagangan 243 ribu lot, menunjukkan aktivitas yang cukup tinggi.
Orderbook juga memberikan gambaran yang menarik. Di sisi pembeli, antrean terbesar berada di level Rp6.700 dengan lebih dari 10.239 lot, diikuti level Rp6.650 sebanyak 6.710 lot dan Rp6.600 sebanyak 7.235 lot.
Sementara di sisi penjual, tekanan terbesar berada di area Rp7.000 dengan 8.116 lot, kemudian Rp7.050 sebanyak 3.803 lot dan Rp7.075 sebanyak 3.295 lot.
Secara keseluruhan, total antrean bid mencapai 122.692 lot, jauh lebih besar dibandingkan total offer sekitar 77.721 lot.
Struktur tersebut menunjukkan satu hal yang menarik.
Meskipun harga saham sedang terkoreksi, minat investor untuk menampung saham di level bawah masih cukup kuat. Dengan kata lain, aksi jual yang terjadi hari ini belum sepenuhnya diikuti kepanikan pasar, melainkan lebih menyerupai proses penyesuaian harga setelah munculnya sentimen baru.(*)